16. One day with You(EFRA)

3.1K 184 3
                                        

Paling susaaahh banget saat aku mau menulis pembuka utama sebuah cerita. Tapi kalau udah muncul ide jalan writtingnya, kesananya pasti sedikit lancar. Yang tadinya rencana awalnya mau nulis cukup 500 kata aja, eh karena lancar jadi nambah 1K.

B.d. way... itulah yang aku rasakan saat ingin menulis cerita ini. Sedikit maksa sih. Haha

Oke guys...selamat membaca ya, semoga kalian sukhaaa!!☺

___________

Anaya mengerang kecil dan mengerjapkan kedua bola mata indahnya ketika sinar matahari pagi mengganggu tidur indahnya. Gadis itu pun merenggangkan kedua tangannya dan menguap sebentar. Sepertinya ini sudah pagi desahnya dengan malas. Saat alarm di kepalanya berbunyi nyaring seolah mengingatkan akan janjinya, gadis itu segera beranjak dari tidurannya.

Tapi gerakannya terhenti saat sesuatu yang berat menimpa perut ratanya. Gadis itu terperangah saat bola matanya melihat dengan jelas tangan kekar milik lelaki yang sangat dibencinya melingkar erat di perutnya. What the fuck? dia pikir dirinya bantal gulingnya apa!

Ingin sekali Anaya meneriaki lelaki itu, tapi entah kenapa suaranya mendadak seperti tercekat di tenggorokan. Sialan! benar-benar double sialan! entah sudah keberapa kalinya Anaya mengumpat pagi ini. Jika eyang putrinya sampai tau dia suka sekali mengumpat, Anaya yakin hidup tenangnya tidak akan berlangsung lama.

Oh ya ngomong-ngomong tentang eyang putrinya, pagi ini beliau belum ada menghubunginya. Ah syukurlah!

Kali ini Anaya mencoba berdamai dengan keadaan. Dia tidak akan memaki-maki lelaki tampan yang tengah bersamanya saat ini. Kalau diperhatikan dengan seksama, ternyata benar apa yang pernah dikatakan orang kalau pria yang tengah tertidur di sampingnya ini memang sangat tampan. Benar-benar luar biasa tampan. Alisnya yang terukir rapi seperti dirawat di salon, bulu matanya yang panjang dan tulang pipinya yang terlihat begitu kokoh.

Anaya memandangi wajah yang sedang terlelap itu dengan senyuman yang sudah tercetak dengan manisnya di bibirnya. Wajah laki-laki itu terlihat sangat damai dan terlihat sangat polos ketika tidur. Anaya mengurungkan niatnya untuk menyentuh wajah Efra, ia tidak ini Efra terbangun dan menyadari kalau Anaya sedang memperhatikan dirinya.

Kalau tidak sadar lelaki ini bukan kekasihnya, mungkin saat ini juga gadis itu sudah mencium bibir Efra habis-habisan. Ugh! sepertinya Anaya kebanyakan sering menonton drama Korea deh. Pagi-pagi sudah punya pikiran mesum. Salahkan lelaki tampan itu saja, salah siapa pagi-pagi sudah menyuguhi pemandangan 18++.

"Sudah puas lihat wajah tampan saya? hmm?" terdengar suara serak khas orang baru bangun tidur. Anaya terkejut saat melihat mata laki-laki itu sudah terbuka dan melihatnya yang salting karena ketahuan diam-diam memperhatikannya.

"Ih GR banget sih! siapa juga yang liatin wajah lo!" seru Anaya sedikit ketus pura-pura menutupi kegugupannya.

Laki-laki itu bangkit dari tidurannya, kemudian duduk dan menyenderkan punggungnya ke dinding. Anaya bangkit dan berniat meninggalkan Efra karena hari ini ia sudah sangat telat karena ada janji temu dengan seseorang pagi ini. Namun baru saja ia berdiri, pergelangan tangannya langsung ditarik oleh laki-laki itu membuat Anaya kehilangan keseimbangannya dan tubuhnya jatuh ke dalam pangkuan Efra.

Keduanya masih terpaku, mereka masih saling beradu pandang. Lengan kekar Efra melingkar dengan sempurna di pinggang Anaya, sedangkan tangan mungil Anaya melingkari leher pria itu. Perfect sekali. Seperti drama Korea yang sering ditontonnya waktu SMA, dan sekarang adegan itu malah jadi kenyataan.

"Aww..." umpat Anaya meringis sakit merasakan kepalanya yang sakit akibat jitakkan Efra. Ia pun mengedipkan matanya kalau ternyata tadi ia sempat melamun. Tapi lelaki itu tidak harus menjitak kepalanya juga kan? merusak suasana saja, batinnya geram dalam hati seraya menatap Efra dengan jengah.

"Apa yang kau lakukan, hah! menjitakku seenakmu! dasar-" belum sempat Anaya melanjutkan ucapannya Efra sudah menyela.

"Dasar gadis pemalas! aku tidak suka punya calon istri yang pemalas sepertimu."

"Dengar ya, aku juga tidak sudi jadi istrimu!" ucap Anaya tak kalah ketus. "Sekarang, lepaskan tanganmu! aku mau pergi." sambungnya galak seraya berusaha melepaskan lengan Efra yang melilit pinggang mungilnya.

"Kamu wangi. Aku menyukai wangi tubuhmu, sayang." ucapnya sengaja mengendus leher Anaya membuat gadis itu kegelian karena ulahnya.

Jawaban macam apa itu, Anaya meminta untuk melepaskan tangannya dari tubuhnya bukan malah merayunya, dumel Anaya.

Gadis itu seketika mendelik tidak suka, "Aku tidak suka pria tukang perayu sepertimu. Dasar perayu ulung. Sekarang cepat lepaskan tanganmu!!"

"Kalau saya bilang tidak mau, kau mau apa?"

"Yakin tidak mau melepaskan aku?"

"Iya."

"Ish! cepat lepaskan. Aku bisa mati kalau aku tidak cepat bertemu dengannya, Efra!! aku sudah ada janji dengannya."

"Kamu tau namaku?" kata lelaki itu mengabaikan permintaan gadis yang tengah memberontak meminta untuk dilepaskan. Karena selama ini gadis yang tengah bersamanya ini tidak pernah menyebut namanya.

"Jelas tau. Pengasuh anakmu yang memberi tahuku. Puas!"

"Belum. Saya belum puas, An. Saya kan belum menyentuh kamu." ujarnya sambil menyeringai ala devil. Gadis itu tau kemana arah pembicaraan pria di depannya ini. Dasar duda jablay!

Anaya membelalakan matanya menatap Efra ngeri, "Dasar sinting! cepat lepaskan Pak Efra, aku mohon... aku bisa mati kalau aku tidak segera pergi," katanya sambil memohon.

"Baiklah, saya akan melepaskanmu. Tapi ada syaratnya?"

Anaya berdecak kesal, tanpa pikir panjang ia meminta pria itu menyebutkan syaratnya, "Apa syaratnya?"

"Yang pertama, jangan panggil saya Pak. Kamu pikir saya bapak kamu, panggi namanya saja. Saya tidak setua itu. Dan yang kedua, setelah urusan kamu selesai kamu langsung hubungi saya."

"Untuk apa lagi saya hubungi Bapak, eh ralat... kamu maksudnya?"

"Jangan banyak bertanya. Lakukan saja. Kamu mengerti?" perintahnya yang tidak bisa dibantah. Dasar pria arogant.

Anaya hanya mengendikkan bahunya tak acuh, terserah saja apa yang dikatakan lelaki itu. Anaya segera bergegas pergi dari kamar Efra setelah Efra melepaskan pelukannya.

Anaya berdoa dalam hati semoga saja Prana tidak akan marah padanya karena sudah telat menemuinya sesuai janjinya. Ini semua gara-gara Efra. Kalau saja Efra tidak mengerjainya ia tidak akan diserang rasa bersalah seperti saat ini.

Argh! dasar Efra sialannnn!!

###

Maaf telat apdet, malasnya gede banget jadi ya gitu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Maaf telat apdet, malasnya gede banget jadi ya gitu...
14 februari 2017.

ENTANGLED HEARTSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang