ENJOY.
______
Keesokan harinya Anaya berencana ingin mengunjungi Felicia yang terus-terusan merengek memintanya untuk datang menemuinya. Bahkan gadis kecil itu mengancam akan mogok makan seharian apabila Anaya tidak mau mengabulkan permintaannya.
Ck, daripada jadi masalah. Akhirnya Anaya mau menuruti kemauannya.
Jadi, di sinilah sekarang Anaya berada. Berdiri seperti orang bodoh menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Sudah tiga kali ketukan, tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka. Anaya mendesah kecewa, apa sebaiknya dia mengetuk pintu di depannya sekali lagi, ya? Bila perlu digedornya agar mahluk hidup yang tinggal didalamnya bisa mendengar kalau di depan rumahnya ada orang bertamu.
Anaya melirik sekali lagi melihat jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, mungkin saja gadis kecilnya belum bangun tidur melihat ini masih pukul setengah 6 pagi. Ah, hampir jam 6 pagi ya? Wanita itu menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Lalu tersenyum sendiri seperti orang idiot kehabisan mainan, bisa-bisanya ia datang bertamu sepagi ini ke rumah orang.
Apa dia pikir itu rumah eyangnya, yang mau berkunjung jam berapa saja sang eyang tercinta tidak akan memarahinya. Ah sudahlah, daripada dia tidak jadi berkunjung dan membuat gadis kecilnya semakin merajuk padanya lebih baik sepagi ini pun dia akan lakukan.
Baru saja tangannya bergerak ingin mengetuk pintu kayu di depannya, seseorang yang sama sekali tidak ingin Anaya temui tiba-tiba muncul membukakan pintu itu. Anaya membulatkan matanya menatap Efra tidak percaya. Bisa-bisanya pria itu tidak mengunakan apapun saat ingin menemui tamu di rumahnya? Ralat, lebih tepatnya Efra hanya menggunakan celana bahan yang mungkin saja pria itu terlalu malas untuk mengganti pakaiannya tanpa menggunakan baju.
Bisa dibayangkan seperti apa wajah Anaya saat ini, gadis itu reflek menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Ya Tuhan... mimpi apa dia semalam, pagi-pagi sudah disuguhin pemandangan yang bisa merusak kinerja otaknya. Ya ampun Anaya baru kali ini melihat seorang pria dewasa bertelanjang dada. Dan lihat... otot dadanya begitu ... manly... ah tidaaak!
Efra mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Anaya penuh selidik, lalu ia berkata, "Buka matamu dan katakan ada apa kau datang kemari sepagi ini An?" Ujar Efra to the poin. Pria itu tidak suka bertele-tele saat ingin mengatakan sesuatu. Nadanya saja datar sekali. Khas Efraim.
"Tidak mau!" Jawab Anaya cepat masih keukeh menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tidak mau?" Ulang Efra menirukan ucapan Anaya. "Cepat buka matamu sekarang atau..."
"Pakai bajumu dulu baru aku mau membuka mataku. Kamu gila, Fra!"
"Tidak ada yang salah dengan saya yang tidak memakai baju Anaya. Ini rumah saya, dan ada masalah dengan kamu?"
"Jelas jadi masalah! Karena kamu gak memakai baju di depan aku." Balas Anaya geregetan yang masih tidak mau membuka matanya.
Efra menghembuskan napasnya sembarang, lalu memijit pelipisnya yang berdenyut sakit dengan pelan. Lelah menghadapi sifat keras kepala gadis di depannya ini, Efra kembali berkata, "Fine, terserah kamu. Pilih masuk atau saya tutup kembali pintunya." Oke. Kali ini Anaya terpaksa harus membuka kedua matanya. Atau kesempatan bertemu dengan Felicia tidak ada sama sekali.
"Tunggu!" Ucap Anaya gelagapan saat melihat pintu di depannya akan segera ditutup. Seketika Anaya menatap ke sembarang arah asal tatapan matanya tidak tertuju pada pria dingin yang sama sekali tidak mempunyai perasaan. "Jangan ditutup. Aku mau bertemu dengan Felicia. Apa dia sudah bangun?" Katanya tanpa mau menatap wajah Efra.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
Chick-LitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
