"Ini mau pulang ke rumah kamu atau mau ke apartemen kamu, Fra? Aku bingung," Anaya berkata tanpa memperhatikan pria yang sedang diajaknya berbicara.
Perempuan itu sibuk memasukan barang-barang Efra ke dalam koper besar milik Efra. Setelah 2 hari kemudian, akhirnya dokter Adam sudah mengijinkan Efra untuk pulang ke rumahnya. Bekas luka-lukanya pun sudah 90% hampir mengering sepenuhnya dan itu tidak perlu di khawatirkan lagi.
"Ke apartemen aja." Jawab Efra singkat dan hal itu membuat Anaya menghentikan aktifitasnya detik itu juga.
"Loh, gak ke rumah aja? Sisi bilang Fely nanyain kamu terus Fra? Gak rindu apa sama dia?" Kata Anaya tidak setuju dengan pendapat aneh Efra.
"Saya hanya tidak ingin membuat Felicia semakin sedih saat dia melihat kondisi saya yang belum pulih sepenuhnya. Anak itu terlalu sensitif dan saya tidak ingin membuatnya sedih." Ujar Efra menjelaskan alasannya kenapa dia belum berani menemui putri kecilnya.
"Kamu jangan kuatir An, saya sudah menelepon Sisi kemarin siang untuk mengabarkan kalau saya sedang berada di luar kota. Mungkin butuh waktu satu atau dua hari lagi untuk saya bisa menghilangkan bekas luka-luka ini. Dan untuk itu saya butuh kamu." Sambungnya dengan nada menggoda di akhir kalimat.
Ya ampun Efra! Tidak tahukah dia gara-gara kalimat terakhirnya membuat detak jantungnya bekerja menjadi 2x lipat? Ini berbahaya...
Anaya pura-pura tidak menanggapi, alih-alih mendadak gugup, perempuan itu dengan cueknya kembali melanjutkan aktifitasnya memasukan baju terkahir Efra ke dalam koper. Satu menit kemudian dia sudah siap dengan kopernya untuk di bawa pulang.
"Ready go..." gumamnya tanpa ia sadari. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Efra.
"Bahagia sekali. Kenapa?" Celetuk Efra dengan nada santai.
"Eh?"
"Kamu terlihat bahagia sekali hari ini, ada apa?" Tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya tinggi.
"Nothing. What wrong?"
Bukannya menjawab Efra malah mengendikkan bahunya tak acuh bersikap seolah-olah ia tidak menanyakan apapun. Mau tidak mau akhirnya Anaya hanya bisa mendesah kecewa. Dasar monster jadi-jadian, gak jelas dan aneh! gerutunya dengan sebal.
*
*
*
Tidak ada yang tahu kemana perginya Anaya selama satu minggu ini. Setelah 2 hari berturut - turut menemani Efra di apartement pria itu, gadis itu seakan di telan bumi. Eyangnya begitu panik saat berkali-kali mencoba menghubungi cucu kesayangannya yang belum menikah itu tidak mau mengangkat panggilannya.
"Masih belum diangkat juga, Mom?" Tanya Danudayaksa sambil melipat koran paginya. Kemudian ia mengambil gelas teh yang ada di atas meja lalu menyesapnya dengan pelan.
"Ya belum. Kemana bocah gadismu ini Dan! Heran, satu minggu ngilang ndak ada kabarnya kok nyantai banget dia. Gak mikir opo Eyangnya cemas mikirin dia." Gerutunya
kembali men-dial nomor ponsel sang cucu. Tapi lagi, kembali sang operator yang menjawab panggilanya.
Danudayaksa terkekeh pelan, sudah terbiasa jika sang bungsu mendadak hilang tiada kabar. Pasti sedang dalam masalah pikirnya. "Sudah Mom, jangan di teleponin terus Naya-nya. Percuma, nanti juga kalau urusannya sudah clear langsung nongol dia." Ujarnya dengan nada santai tanpa beban, dan hal itu memancing aura ketidaksukaan sang Ibu.
Bukannya Danu tidak peduli lagi dengan putri bungsunya, hanya saja dia sudah hapal betul tabiat buruk Anaya jika anak itu sedang terkena masalah. Entah itu masalah besar atau kecil, Anaya tidak akan pernah mau diganggu oleh siapapun termasuk keluarganya sendiri.
"Kamu itu kenapa sih Dan? Anak gadismu ini ngilang lho! Bukannya nyariin ... ini malah nyantai. Heran,
Kamu itu sebenernya sayang ndak sih sama dia?" Omel Ibunya dengan nada kesal. Walaupun dia sering sekali berencana untuk menjodohkan Anaya dengan anak-anaak teman almarhumah menantunya, tapi dibalik sikap otoriter-nya sejujurnya dia sangat menyanyangi sang cucu.
Itu semua dia lakukan semata-mata demi kebahagiaan Anaya. Eyangnya hanya tidak ingin Anaya jatuh ke jurang gelap yang salah dan sejauh mungkin menjauhkan cucunya dari kata menyesal.
Itu semua belum ada di agenda sang eyang, dan jika itu sampai terjadi, eyangnya akan membuat manusia yang memiliki batang penis itu menyesal seumur hidup karena telah berani mengganggu cucu kesayangannya. 7 tahun telah berlalu, namun rasa kehilangan itu masih belum bisa hilang dari hatinya. Rasa kehilangan itu masih membekas kuat di pikirannya.
Eyang sangat terpukul begitu mendengar cucu keduanya dikabarkan sudah tiada. Dan itu disebabkan karena ia tertabrak truk yang membuatnya harus kehilangan nyawanya. Jika bukan karena lelaki sialan itu mungkin saat ini Annara masih hidup.
Kehilangan sosok Annara lah yang membuat eyangnya berubah begitu protektif terhadap Anaya. Eyang tidak ingin kejadian masa lalu terulang kembali pada sang bungsu. Beliau masih ingat betul bagaimana sosok lelaki brengsek itu yang terlihat sama terpukulnya dengan dirinya. Berkali- kali dia si lelaki brengsek terus-terusan mengucapkan kata maaf kepada eyang dan juga ayah Annara tapi mereka sama sekali tidak memperdulikannya.
Kata menyesal pun tidak bisa membuat Annara bisa hidup kembali, bukan? Terdengar jahat memang, tapi apa pedulinya.
Entah di mana lelaki itu sekarang. Setelah menantunya membuat perusahaan ayah kekasih Annara itu dibuat bangkrut dan mungkin sedikit memberikan pelajaran pada Arsen--nama lelaki itu... sampai sekarang Arsen tidak pernah muncul kembali di kediamannya. Biarlah, toh mereka juga tidak sudi mengharapkan kedatangannya lagi.
Mungkin dia sudah hidup bahagia bersama wanita pilihannya itu.
Sejak saat itu, eyang dan juga Danudayaksa sangat menjaga Anaya terutama eyangnya. Apalagi setelah kejadian itu, tidak lama kemudian anak semata wayangnya-- ibu dari cucu-cucunya harus pergi menyusul Annara untuk selama-lamanya. Bukan main rasa terpukulnya, kehilangan sosok ibu dan juga sang cucu dalam waktu dekat membuatnya terpuruk dalam genangan kesedihan.
Dan sekarang, sang eyang tidak akan membiarkan semua itu kembali terjadi. Sudah cukup, dan tidak ada kata kedua kali di dalam hidupnya.
T
B
C.
________
Haii sorry lama apdet yaaaww.. entah kenapa otakku mendadak ngadat gabisa nulis kayak motor yang akinya abis. Hmm maybe karena banyak pikiran dan segala macam itu alasannya kenapa gue libur sejenak di watty. #okegak adayang nanya😣
Btw bentar lagi lebaran nih ..... udah pada beli baju lebaran belum tuh???haha.. #akubelumsoalnyagaklebaran
Lebaran kali ini gue lagi-lagi diperantauan... gabisa mudik errr...sedihnya itu loohh...(aku sendiri yang ngerasain, hiks)😭😭😭 tapi biarlah, resiko jadi anak perantauan y gini...si boss tega banget emang! 😈😤
Its okelah, mungkin ini udah nasibkuh...😭 tapi aku rapopo...
Happy reading yaa...semoga masih pada sukhaaaa....love you...
21juni2017.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
ChickLitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
