46. Mo ni ife ti o, efra.

2.3K 150 18
                                        


"Dari mana kamu?" Gumam suara berat seseorang yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Anaya mengangkat kepalanya yang menunduk dan menemukan seseorang yang sudah beberapa hari ini ia hindari kini sosoknya sedang berdiri tegap di hadapannya. Efra tengah menyenderkan tubuhnya didepan pintu apartemennya.

Terus terang saja Anaya masih belum siap untuk bertemu dengan pria itu, lagi  setelah beberapa hari sengaja menghindarinya. Anaya belum sepenuhnya saja meyakinkan hatinya sendiri kalau apa yang dia lakukan sekarang sudah cukup benar . Tapi lagi-lagi perkataan eyangnya selalu membayangi pikirannya.

Sial! Anaya memaki dirinya sendiri ketika hatinya masih belum cukup kuat untuk menghadapi boom waktu yang siap meledak kapan saja saat ayahnya sudah tau perihal hubungan terlarangnya dengan pria masa lalu kakaknya.

Damn it!

Bibirnya Anaya seketika mencebik sebal, lalu dengan malas ia berkata. "Dari mana aku itu bukan urusanmu." Jawabnya dengan cuek. Kemudian dengan santainya Anaya melenggang membuka pintu apartemennya dan menganggap seolah-olah Efra tidak ada di sekitarnya saat ia masuk ke dalam.

Tanpa diduga Efra mencekal lengannya setelah sedikit berlari mengejar wanita itu. Lalu dengan kesal Efra berkata, "Saya tanya kamu dari mana?" Sekali lagi pria itu menanyakan pertanyaan yang sama pada Anaya. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah.

"Dari mana aku bukan urusanmu! Lepasin nggak? Aku capek." Katanya dengan ketus. Mata kelincinya menyorot Efra dengan tidak suka.

"Tidak akan saya lepaskan sebelum kamu menjawab pertanyaan saya."

Anaya sengaja mendengus kuat-kuat di depan wajah Efra, biarlah dianggap tidak sopan oleh pria itu tapi Anaya tidak peduli. Pikiranya beberapa hari ini sedang tidak baik, dan dia butuh pelampiasan. lalu ia mengambil nafasnya banyak-banyak sebelum menjawab kata-kata Efra, "Dan aku sedang tidak ingin menjawab pertanyaanmu, so... lepasin aku, bisa?"  Dengan kesal Anaya menyentak tangannya dari cekalan Efra. Untung saja Efra tidak lagi menahannya, dan membiarkan wanita itu berlalu dari hadapannya.

Marah.

Kesal, kecewa dan merasa tidak dihargai. Itulah yang dirasakan oleh Efra sekarang saat wanita itu tiba-tiba bersikap mengacuhkannya. Entah apa yang terjadi pada Anaya sepulang mengantarkannya ke apartemennya beberapa hari yang lalu. Semenjak saat itu, Anaya tidak pernah lagi muncul dihadapannya. Panggilan teleponnya pun diabaikannya. Sepertinya Anaya sengaja menghindarinya untuk alasan yang tidak ia mengerti.

Tidak tahukah Anaya karena sikapnya itu membuat Efra menjadi uring-uringan sendiri. Membuat Efra tidak bisa berkonsentrasi ketika ia sedang bekerja dan bersikap sangat menyebalkan pada semua karyawannya. Siapa saja yang tidak sengaja bertemu dengannya entah itu di lift atau di lobby akan langsung mundur teratur seperti melihat penampakan dunia lain.

Anaya membanting tubuhnya sembarang ke atas tempat tidurnya dengan posisi kedua kaki masih menjuntai di lantai sambil memejamkan matanya tanpa menyadari Efra tengah memperhatikannya dalam diam.

Terdengar wanita itu berkali-kali menghela napasnya dengan gusar seolah-olah  ia sedang tertekan oleh suatu hal yang begitu berat. Kedua tangannya terangkat mengusap wajahnya frustasi, "Apa yang harus kulakukan...," desahnya terdengar putus asa. "...Ini terlalu sulit." Gumamnya melanjutkan. Anaya masih terbuai oleh pikirannya sendiri sehingga tidak menyadari Efra masih di apartemennya sedari tadi.

Kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

Efra yang mendengar ucapan Anaya langsung berjalan mendekati wanita itu. Dengan pelan ia mendudukan tubuhnya tepat di samping tubuh mungil Anaya yang masih berbaring di ranjangnya.

ENTANGLED HEARTSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang