11. Typical Arrogant Guy

3.6K 252 0
                                        


"Yes Dad, what is it?"

"...."

"Bisa tidak, Dady bersikap tidak seperti Eyang?" kata Anaya dengan nada sedikit naik satu oktaf pada Ayahnya. "Aku bosan, Dad." Gadis itu merasa sekarang keluarganya benar-benar sudah tidak menyayanginya lagi. Kenapa sih perjodohan selalu menjadi topik utama di keluarga besarnya.

"....."

"Listen to me Dad, aku sudah memilih poin kedua dengan memilih meninggalkan semua fasilitas yang Dady berikan untuk aku. Tapi kenapa Dady masih belum mengerti juga! aku gak mau dijodohin Dad... pliese," ujarnya setengah frustasi. Bagaimana Anaya tidak stres, dia sudah rela meninggalkan apapun yang dia miliki hanya demi hidup tenang tanpa adanya perjodohan sialan itu .

Tapi kenyataannya, hidupnya tidak lebih sama saja dari yang sebelumnya. Eyang dan Dadynya benar-benar membuatnya kesal bukan main. Jadi untuk apa dia rela pontang-panting mencari pekerjaan kalau pada akhirnya Ayahnya masih menuntutnya untuk memenuhi perjodohan itu.

"....."

"Terserah Dady saja. Aku sudah tidak peduli lagi dengan perjodohan itu!" teriak Anaya kesal lalu mematikan sambungan teleponnya. Ingin sekali Anaya memaki orang yang meneleponnya kalau saja yang sedang meneleponnya tadi bukanlah Ayahnya. Hidupnya sangat tertekan karena adanya perjodohan yang dilakukan oleh eyangnya.

Anaya yakin Ibunya tidak akan sejahat itu pada putri kandungnya sendiri. Eyangnya ini benar-benar sangat menyebalkan! ingin sekali Anaya mati saat ini juga kalau saja mati rasanya tidak sakit.

Baru saja hatinya sedikit terobati karena ia tidak sengaja bertemu dengan pria brengsek itu lagi-lagi di dalam lift. Dan Anaya sedikit senang karena ia bisa membalaskan dendamnya pada pria itu. Entah apa yang akan dilakukan pria itu padanya nanti Anaya tidak peduli. Yang terpenting sakit hatinya sekarang sedikit terobati. Anaya berkali-kali mengucapkan terimakasih dalam hatinya karena Tuhan masih mau mendengar do'a-do'anya.

##

D

i tempat lain, Prana sangat geram pada gadis asing yang berani-beraninya menggigit lengan tangannya. Sialan gadis itu! makinya dalam hati. Prana tak akan membiarkan gadis itu berkeliaran bebas di daerah teritorialnya sebelum ia memberinya pelajaran padanya.

"Gadis itu pasti belum jauh dari sini." gumam Prana lebih kepada dirinya sendiri lalu dengan gerakan cepat ia segera mengejar Anaya. Semoga saja gadis bar-bar itu belum jauh, batinnya.

Prana menyeringai kecil saat ia melihat sang tersangka masih berada di sekitarnya. Sesuai dengan dugaan awalnya, gadis yang tidak diketahui namanya itu masih belum jauh dari jangkauannya. Gadis pintar, batinnya tersenyum puas dalam hati. Jangan dikira Prana akan diam saja setelah diperlakukan seperti itu.

Anaya salah kalau mengira Prana tidak akan membalas perbuatannya yang tidak sopan padanya. Justru Prana akan membalasnya lebih buruk lagi daripada digigit.

Prana segera mengambil sapu tangan yang ada di dalam saku celananya lalu dengan gerakan perlahan Prana mendekati Anaya dari belakang. Anaya terlihat kesal saat lagi-lagi taksi yang ia hentikan melaju saja tanpa mau berhenti. Taksi sialan! batin Anaya geram.

Kembali dihembuskannya napasnya dengan gusar. Kalau seperti ini terus bagaimana dia bisa pulang ke apartemennya, masa iya Anaya harus pulang dengan berjalan kaki? oh tidakkk. Mana perutnya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini! jeritnya dalam hati.

Saat ingin menghentikan mobil taksi untuk yang kelima kalinya, tanpa disadarinya dari belakang tangan kekar Prana secepat kilat membekap mulut Anaya membuatnya tak bisa mengeluarkan suara untuk berteriak meminta tolong. Detik itu juga Prana langsung menarik Anaya menuju mobilnya.

Dengan kesal Prana memasukan Anaya ke dalam mobilnya dan langsung menjalankan mobilnya menyusuri jalan tanpa memperdulikan Anaya yang masih dalam kondisi Shock.

"LO LAGI?!" teriak Anaya setelah sadar siapa orang yang sudah menyeretnya masuk ke dalam mobil mewah milik pria itu.

Prana hanya menoleh sebentar lalu pandangan pria itu kembali fokus pada jalanan didepannya.

Anaya mendengus tidak suka. Typical arrogant guy, batinnya berseru. "Tolong turunin gue!" kata Anaya sinis.

Satu detik.

Dua detik

Tiga detik kemudian...

"Ish! lo gak denger gue ngomong ya? cepet turunin gue!!"

Hening...

"Eh lo bisu ya? ganteng-ganteng kok gak bisa ngomong!"

Masih hening. Prana enggan meladeni wanita aneh disampingnya. Dia sengaja mengacuhkan Anaya supaya gadis itu diam dan tidak banyak bicara. Pikirannya saat ini sedang terbelah menjadi dua. Antara sedang memikirkan wanita yang tengah bersamanya dan-

"Woi, lo-"

Karena geram akhirnya Prana berkata, "Eh, kamu bisa diam tidak? kamu ingin kita kecelakaan, huh!" bentaknya tanpa mau menoleh pada gadis itu.

Anaya meringis
"Lebih baik gue milih kecelakaan daripada satu mobil sama orang gak jelas kayak lo! pria aneh, sinting, gak tau diri lagi!" gerutunya yang masih bisa didengar oleh Prana.

"Apa kamu bilang!"

Anaya gantian diam tanpa mengacuhkan ucapan pria disampingnya. Saat ini perutnya sudah tidak bisa lagi diajak berkompromi. Rasa perih bercampur mual langsung menyerangnya tubuhnya. Tangannya reflek memegangi perutnya sambil meringis nyeri. Ya Tuhan, jangan sampai maagnya kambuh disaat yang tidak tepat seperti saat ini.

##

Prana merogoh ponsel yang sedari tadi ada di dalam saku celananya dan mendial nomor yang sudah dihafalnya.

"Al, tolong jemput Gilsha di kampus. Saya sedang tidak bisa menjemputnya." selesai berbicara dia menutup ponselnya dan melemparkannya di dashboard mobilnya itu sambil terus melajukan mobilnya menyusuri kota Jakarta.

Sesekali Prana melirik Anaya yang kini tampak terdiam tanpa suara dengan posisi menyender kesenderan kursi.

Karena merasa aneh dengan gadis yang ada disampingnya, Prana menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kini pandangan pria itu fokus pada wajah Anaya yang tampak lebih pucat seperti tidak dialiri zat hemoglobin. Keringat dingin mulai muncul membasahi pelipisnya. Sesekali terdengar rintihan kecil keluar dari bibir yang terlihat sama pucat.


"Are you okay?" ujar Prana yang sekarang terlihat khawatir pada kondisi perempuan yang tengah diculiknya.

"Sakit." lirihnya terbata sambil menahan nyeri di perutnya. Tangannya menekan kuat pada bagian perutnya yang terasa pedih bercampur ngilu. Menggigit bibir bawahnya serta memejamkan matanya.

"Hei..." panggil Prana sambil menggoyangkan bahunya pelan. Ia tak tahu harus memanggil Anaya dengan panggilan apa, karena sejujurnya Prana tidak mengenal gadis itu.

Anaya tidak menjawab, namun ia semakin memegang perutnya sesekali merintih perih. Prana memegang kening Anaya yang berkeringat, tak panas gumamnya. Prana berfikir, gadis yang sedang bersamanya ini tengah sakit apa? kenapa gadis itu tiba-tiba sakit? bukankah sebelumnya dia terlihat baik-baik saja. Bahkan sebelumnya juga ia sempat menggigit lengan kanannya yang sekarang masih terasa ngilu. Disaat pikirannya tengah berkelana memikirkan sang gadis, tiba-tiba Anaya jatuh tak sadarkan diri.

###

Haiii... gimana sama part ini.??? ajib gak hihii Uia ada yang suka sama Prana gak nih??? gak ada ya... ugh kasihann *?$^$&&

Jangan lupa divote ya... comentnya jangan ketinggalan....

21.01 2017.

ENTANGLED HEARTSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang