Happy reading ya...
--------------------------
Anaya sebal bukan main pada pria kedua yang ditemuinya di perusahaan tempat dia melamar kerja waktu itu. Ia berkali-kali bersyukur dalam hati karena setidaknya ia tidak sempat bekerja di perusahaan itu. Andaikan saja dia diterima di sana, oh tidak ... hatinya terus menjerit untuk tidak akan mengingatnya lagi dan lagi. Cukup! dan Anaya tidak akan pernah kembali ke tempat sialan itu sampai kapanpun. Tidak.akan.pernah!
Anaya berusaha keras untuk melupakan misi balas dendamnya dengan pria pertama yang membuatnya malu. Biarlah, suatu saat nanti pria brengsek itu pasti akan mendapatkan balasannya. Entah itu kapan, tapi Anaya yakin.
Dan yang kedua, tentang pria mesum yang ditemuinya dua hari yang lalu sewaktu ia akan menjalankan bisnis misi balas dendamnya pada pria pertama. Bukannya terlaksana, sialnya dia malah bertemu dengan pria tampan berkadar mesum kelewat tinggi. Ah, pria itu ... gumamnya melantur dan secepat kilat ia menggelengkan kepalanya konyol.
Tapi dilain sisi, hatinya berusaha menghianatinya dengan terus menerus mengingat wajah tampan pria mesum itu yang menurut Anaya wajahnya layaknya adonis Yunani mampu menjerat para kaum hawa untuk berada di selangkangannya hanya dengan sekali kedipan mata.
Siapa sih pria itu? gumamnya tanpa sadar memikirkannya sekali lagi, tapi secepat kilat Anaya berusaha menepisnya dengan tegas. Tidak ada lagi pria pertama maupun pria kedua di dalam pikirannya saat ini. Mereka semua hanyalah ilusinasi belaka dari pikirannya yang sedikit kacau karena efek penganggurannya saja. Untuk apa juga Anaya memikirkanya, toh mereka berdua sama sekali tidak memikirkan gadis berkacamata seperti dirinya. Sudah jelek miskin pula.
Oh ya ampun!
Mana ada sih pria brengsek dan setampan mereka pada mau dengannya. Yang ada dia hanya dijadikan sebagai asisten di rumah gedongnya. Begitu? setega itukah mereka akan memperlakukan Anaya nantinya?
Tidak! tidak!
Kembali diurutnya pelipisnya dengan lelah, "Ah elah ngaco aja deh otak gue ini, mikirin apaan sih!!" gerutunya sambil menjambak rambutnya sendiri dengan kesal.
Setelah puas meruntuki dirinya sendiri, kemudian gadis itu beranjak dari acara merenung di kamarnya dan berjalan malas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit kemudian Anaya sudah siap dengan pakaian kasualnya lengkap dengan kamera digital menggantung indah di lehernya. Hari ini Anaya akan melakukan hunting bersama teman-temannya di taman gerbang sari.
Taman itu memiliki pemandangan yang sangat indah dengan dataran tingginya yang sedikit menjulang mirip dengan perbukitan ditengah-tengah kota sehingga tempat itu lebih cocok dijadikan sebagai tempat rekreasi bagi anak muda atau tempat berwisata untuk berlibur. Ada wahana permainannya juga, tidak kalah dengan wahana permainan yang ada di pinggir pantai.
Bukit ini juga sering dijadikan tempat ajang cari jodoh karena banyaknya orang yang tidak sengaja bertemu di tempat ini sehingga lebih dikenal dengan sebutan bukit cinta.
Bukit cinta?
Aw kedengarannya begitu menarik, apa Anaya boleh berharap jika dia berhayal ingin bertemu dengan pemilik hatinya di tempat unik ini?
Saat mata indahnya sedang asik-asiknya melihat sekerumunan anak manusia dari yang muda sampai yang tua sedang berselfie ria dibawah pohon besar membentuk pohon cemara kuno didepannya, seseorang mengejutkannya dengan menepuk pundakknya dengan ragu.
"Mbak ... A-anaya kan?" ujarnya terdengar ragu. Ya, orang itu adalah Sisi, pengasuh si gadis cilik bernama Felicia.
Anaya yang kaget menatap gadis didepannya dengan wajah bingung, wajar saja Anaya bingung. Teman Anaya kan banyak, dan siapa gadis di depannya ini?
Merasa diperhatikan dengan pandangan sedikit aneh oleh wanita di depannya, lalu Sisi berkata, "Mbak, ini saya Sisi. Mbak Nay pasti masih ingat kan, Mbak kan pernah nganterin bocah cilik yang bernama Felicia sampai ke rumah waktu itu." ujarnya menjelaskan sambil berharap di dalam hati agar wanita yang bernama Anaya ini masih mengingatnya.
"Si-si," gumam Anaya masih berusaha mengingatnya kembali.
"Iya Mbak. Betul."
"Kok kamu ada di sini. Felicia mana?" tanyanya setelah berhasil mengingat siapa gadis yang menyapanya tadi. Kepala Anaya menoleh kesana kemari mencari keberadaan sosok gadis kecil yang ditolongnya waktu itu. Kemana bocah itu, kok gak ada ya? katanya dalam hati.
Sisi terlihat salah tingkah saat ingin mengutarakan maksud dan tujuannya datang kemari. Menghilangkan grogi dia berpura-pura menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Anu Mbak Nay, eng ... gimana ya saya ngomongnya?" katanya terlihat meringis tidak enak untuk mengutarakan niatnya.
"Ngomongnya aja lagi Si, belum ada yang melarang kan ngomong sama aku."
Mendengar jawaban Anaya, gadis itu menghela napasnya dengan lega dan berkata, "Non Fely gak mau makan Mbak. Dia pengen banget ketemu sama Mbak."
"Gak mau makan?"
"Iya Mbak. Non Fely udah 2 hari ini mogok makan. Saya takut non Felicia kenapa-napa. Saya mohon banget sama Mbak Nay supaya Mbak mau bertemu dengan non Fely. Mbak mau ya?" katanya sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.
"Iya, bisa. Tapi masalahnya gak bisa sekarang, Si. Aku kan baru nyampe, nanti aja gimana?"
Buru-buru Sisi menyahut, "Aduh Mbak, kali ini saja saya mohon banget sama Mbak Nay... tolong banget ya Mbak, saya beneran takut non Felicia masuk UGD lagi. Saya bener-bener takut Mbak, kasian keluarga saya kalau saya harus dipecat sama tuan-"
Belum sempat Sisi melanjutkan kalimatnya, wanita itu keburu memotong ucapannya dengan lagak malas. "Ya ya ya, baiklah. Kamu emang menyebalkan, Si!" gerutunya seraya memutarkan bola matanya dengan kesal.
###
Halo haiii aku apdet lagi nihhh...ada yang kangen sama Mbak Anay gak ya???? kalo gak yauda abaikan sajaa...
Jangan lupa tinggalin VOMENTNYA ya, kritik dan sarannya sangat membantu. Maaf kalo tulisannya makin gaje, segaje authornya *blak😣
Lamak gak nulis jadi aneh rasanya...
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
ChickLitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
