Siang itu Anaya berniat untuk mengunjungi Efra di mana lelaki itu sedang di rawat di rumah sakit. Tapi karena Eyang-nya yang super protektif tiba-tiba menelponnya dan memerintahkan untuk segera datang ke kediamannya, dengan terpaksa Anaya membatalkan rencananya.
Usut punya usut, rupanya sang Eyang tercinta menyuruhnya untuk datang ke rumahnya masih dalam rangka ingin kembali menjodohkan cucunya dengan putera tunggal dari anak sahabat almarhum ibunya yang terkenal sangat kaya raya. Untung saja Anaya hanya datang sebentar dan berdalih ia harus segera cepat-cepat pergi karena salah satu temannya tiba-tiba ada yang masuk rumah sakit karena kecelakaan.
Tidak seratus persen berbohong sih, hanya penyebab masuk rumah sakitnya saja yang sengaja ia lebih-lebihkan. Oh astaga, kalau sempat Efra mendengarnya habislah dia!
Dan sang Eyang pun tidak serta-merta langsung mengijinkan sang cucu untuk pergi, berbagai perdebatan tak bisa Anaya hindari.
Eyangnya tau betul tabiat buruk sang cucu. Itu hanya akal-akalannya saja agar Anaya bisa segera pergi dari rumahnya.
"Eyang plieseee... berhenti menjodohkanku dengan pria-pria aneh kenalan Eyang! Aku gak semenyedihkan itu asal Eyang tahu!" Ujarnya bosan sambil berbisik kepada Eyangnya waktu itu. Mata gadis itu beralih menyorot tajam kepada seorang pria berkacamata yang terlihat cupu.
Lalu dengan kesal Eyangnya berkata. "CK. Kamu ini lho ... kok susah bener sih nurutin kemauan Eyangmu. Apa kamu sudah gak sayang lagi sama Eyang, Nduk?"
Kebiasaan! Selalu saja kalimat itu yang jadi senjata andalannya buat ngeluluhin batunya sang cucu. Anaya ingin sekali memutarkan kedua bola matanya di depan Eyangnya saat ini, tapi kembali ia mengurungkan niatnya karena tak ingin dibilang tidak sopan oleh kedua tamu Eyangnya yang memandang mereka dengan heran.
Bagaimana tidak heran jika sang tuan rumah bersama dengan gadis cantik yang diketahuinya tidak lain adalah cucu satu-satunya yang masih single, berbicara sambil berbisik-bisik.
"Oh ayolah... Eyang gak lagi becanda kan sama aku? Masa iya orang yang mau dijodohin sama aku secupu itu?! Are you kidding me, Eyang?" Gerutunya sambil melirik malas pada pria berkacamata di depannya. Anaya tidak segan-segan lagi menunjukan rasa ketidaktertarikannya. Biarlah mereka sadar kalau wanita itu tidak menginginkan adanya perjodohan.
"Jaga bicaramu, Nduk! Dasar cucu tidak sopan!" Kata Eyangnya memperingatkan. "Kamu itu belum mengenal saja Nak Keynan seperti apa. Coba saja kamu mau mengenalnya lebih dulu, pasti kamu tidak akan berbicara seperti itu!" Katanya kesal sambil mengurut dahinya yang mendadak pusing karena kelakuan cucunya.
Mau tidak mau akhirnya Anaya kembali melirik sebal pada sosok asing yang sedang duduk diam memperhatikannya. Well ya, secara fisik sih oke banget. Bentuk badannya juga tidak bisa dikatakan buruk, apa ya, sixpack mungkin lebih cocok untuk menggambarkan tubuh kokoh si pria berkacamata.
Hanya saja Keynan tidak bisa merubah penampilan cupunya menjadi pria macho yang sebenarnya bisa saja menambah nilai plust pria itu. Anaya menggelengkan kepalanya pelan, terkekeh sendiri membayangkan si pria berkacamata tiba-tiba berubah menjadi prince charming impiannya. Ah.. impossible!
Merasa aneh karena terus diperhatikan oleh gadis di depannya, Keynan balas menatap Anaya dengan sebelah alis terangkat naik. Ada apa dengan gadis itu? Gumamnya bingung dalam hati.
Setelah melewati perdebatan yang cukup alot dengan Eyangnya, akhirnya dengan terpaksa sang Eyang mengijinkan Anaya untuk pergi.
"Aku sungguh menyayangimu Eyang... i have to go now." Ucapnya sebelum pergi.
Tidak lupa juga ia berpamitan kepada seorang wanita paruh baya yang diyakininya sebagai Ibu Keynan. "Maaf, Naii harus pergi Tante... senang bertemu dengan Tante.." pamitnya dengan sopan sambil memeluk Ibu Keynan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
ChickLitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
