17. With You (PRANA)

3K 170 5
                                        


________

"Maaf... g-gue telat," gumam Anaya saat melihat Prana sudah siap pergi dari apartementnya. Prana menaikan sebelah alisnya menatap gadis itu tidak suka.

"Maaf?" tanyanya sedikit menyindir, "Kalau kamu memang tidak berniat menepati janji, lebih baik pergi saja. Saya tidak masalah. Saya juga tidak butuh orang ingkar janji sepertimu."

"Gue minta maaf. Gue bukan bermaksud lupa sama janji gue ke elo. Tolong maafin gue ya?"

"Ck, saya maafin juga besok diulang lagi." ujarnya datar seraya menutup pintu apartementnya dan berniat pergi meninggalkan sang gadis.

"Tunggu!" teriak Anaya lalu dengan spontan menarik lengan tangan Prana dengan pandangan bersalahnya. "Maafin gue. Gue bukan orang suka ingkar janji seperti yang lo katakan. Waktu gue mau dateng kesini, di rumah lagi ada sedikit masalah yang gak bisa gue ceritain ke elo. Tapi percaya deh sama gue, gue gak akan lari dari kenyataan kok." jelas gadis itu panjang lebar berharap pria yang tengah marah padanya saat ini mau memaafkan kesalahannya.

Baru kali ini Anaya memohon-mohon pada pria asing yang baru saja dikenalnya, berharap kata maaf keluar dari mulut sang adam. Bah! padahal selama ini ia tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Anaya seperti gadis jahat yang ketahuan selingkuh di belakang pacarnya. Benar-benar miris!

Anaya tak sepenuhnya berbohong pada Prana tentang alasannya kenapa ia terlambat menemuinya. Kalau bukan karena Efra yang mengganggunya tadi pagi, gadis itu pasti tidak akan terkena masalah.

Prana menghembuskan nafas beratnya, "OK. I forgive you, but you have to accompany me to go today."

"Tapi, hari ini gue ada-"

"Tidak ada tapi-tapian, Naya. Atau kamu mau saya laporin ke-"

"Polisi kan maksud lo?! Oke oke! beraninya main laporin terus. Iya. Gue mau, puas!" ujar gadis itu sedikit memberengut sebal. Tidak disadarinya, Prana tersenyum puas saat melihat gadis di hadapannya kesal karena ulahnya. "...tapi gimana sama luka di tangan elo? kan belum gue obatin," ujarnya sambil memperhatikan lengan kanan Prana yang masih terbalut perban putih.

"Nanti aja. Yang penting sekarang kita harus pergi."

Tanpa membuang waktu, dengan gaya sok coolnya Prana langsung menarik lengan Anaya untuk berjalan mengikutinya. Baru dua langkah berjalan, gadis itu menarik lengannya dengan tiba-tiba membuat pria itu mengalihkan perhatiannya padanya.

Wajah Anaya seketika menunduk malu seraya menatap gusar sepatu flat shoesnya dengan gelisah. Ya Tuhan, seandainya Prana tahu... Anaya yakin lelaki itu pasti sangat ilfiel sekali padanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? walaupun Anaya tahu pria itu sedang tidak falling in love dengannya, tapi sebagai gadis yang berperasaan tinggi Anaya dapat merasakan apa yang orang lain rasakan.

Prana mengerutkan sebelah alisnya dan bertanya,"Kenapa?" ujarnya dengan nada bingung.

"Emm ... gue malu sama elo. Anu... gue, ah sudahlah. Gue malu ngomongnya," ujar Anaya sedikit tergagap dan rona merah seketika menjalar di wajah putihnya.

Prana terkekeh geli melihat Anaya mendadak salting di depannya lalu ia berkata, "Katakan saja Naya, kenapa harus malu."

"Emm... tapi lo janji dulu sama gue. Setelah lo tau yang sebenernya, lo gak boleh ilfiel apalagi nertawain gue." ucapnya sungguh-sungguh.

Sebenarnya Prana ingin sekali bertanya alasan kenapa dia tidak boleh ilfiel padanya tapi segera ia urungkan karena melihat wajah Anaya yang terlihat serius saat mengucapkan permintaannya.

ENTANGLED HEARTSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang