___
"Sialan! kenapa pintunya tidak bisa dibuka, sih." gumam Anaya pada diri sendiri sambil berusaha membuka pintu apartement Efra dengan tidak sabar. Tapi sepertinya pria itu sengaja menguncinya dari dalam. Tau saja kalau dirinya berniat mau kabur dari sini.
"Mau coba kabur dari sini, ya?" ujar suara bariton seorang lelaki yang sekarang tengah menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. Manik elangnya mengawasi gerak-gerik Anaya penuh seringaian.
Anaya membalikan tubuhnya dan mengertakan giginya tidak suka. "Apa maumu?" teriak si gadis sambil berkacak pinggang di depan pria itu. Bodo amat dikira tidak sopan, bukankah Efra yang lebih tidak sopan lagi padanya, batin Anaya geram.
"Aku gak kenal sama kamu dan aku sama sekali gak ada urusan sama kamu! Tapi kenapa kamu malah mengurung aku di sini, Fra. Coba katakan apa masalahmu?!" katanya setengah frustasi.
Efra tersenyum tipis, "Saya hanya ingin bermain-main denganmu sebentar, An. Kamu keberatan?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
Mata Anaya membulat seketika. "APA?" tanyanya tak percaya. "Kamu gila!"
Entah bagaimana ceritanya Efra berhasil membopong tubuh mungil Anaya dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadi pria itu. Efra sama sekali tidak memperdulikan teriakan histeris Anaya yang memintanya untuk segera menurunkannya.
Menurutnya, bermain-main sedikit dengan gadis yang kini sedang dekat dengan adik bungsunya itu tidak ada salahnya, bukan? dan bagaimana bisa Efra tau kalau Anaya sedang dekat dengan Prana? kalian pasti penasaran.
Bagini ceritanya, setelah Prana mengatakan pada kedua orangtuanya tempo hari sewaktu ada acara dinner keluarga, ingat kan? mengatakan kalau dia sedang dekat dengan seorang gadis pemberani yang telah menggigit lengannya itu. Tak menyangka kalau Prana sang playboy sejati tiba-tiba langsung jatuh hati pada sang gadis.
Bukannya ini adalah sebuah keajaiban.
Dan Prana mengancam kakaknya agar bila suatu hari nanti jika Efra bertemu dengan gadis itu, dia tidak boleh ikutan jatuh cinta padanya. Benar-benar sangat tidak lucu bila Efra juga ikutan menaruh hati.
Bah! Prana pikir gadis pilihannya bisa sehebat itu, ya? memangnya dia pikir di dunia ini sudah tidak ada lagi wanita selain dirinya.
Karena kesal bercampur rasa penasaran, akhirnya Efra diam-diam menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki gadis yang tidak dia ketahui namanya. Prana benar-benar sangat protektif pada gadisnya. Nama saja tidak mau menyebutkannya bahkan pada kedua orangtuanya sekalipun.
Tapi itu bukan masalah bagi Efra. Menurut sang kakak, adiknya ini benar-benar keterlaluan. Selalu saja suka mengejeknya yang belum bisa move on dari cinta masa lalunya.
Sehari kemudian, anak buahnya melapor padanya. Memberi informasi mengenai gadis yang tengah dekat dengan adik bungsunya. Kalau ternyata gadis itu adalah seseorang yang juga tengah dekat dengan puteri kandungnya sendiri. Puteri konglomerat seorang pengusaha tambang berlian yang dulunya pernah jadi rival terberatnya.
"Gadis itu bernama Anaya putri Adisty Danudayaksa, Tuan. Puteri bungsu dari Mr. Danudayaksa."
Efra benar-benar kaget saat mendengar penuturan secara tidak langsung informasi dari anak buahnya. Jadi ternyata, Anaya juga sedang dekat dengan adiknya. Ya Tuhan permainan macam apa ini yang sedang terjadi pada keluarganya?
Apa jangan-jangan Anaya sudah tau penyebab kematian Annara dan ia ingin membalaskan dendamnya pada keluarganya? Tidak! Tidak! Anaya tidak mungkin tau mengenai soal itu kalau Mr. Danudayaksa tidak memberitahunya.
Kejadiannya sudah berlalu selama kurang lebih 7 tahun yang lalu, dan Efra benar-benar sangat menyesalinya. Benarkah Mr. Danudayaksa sejahat itu? bukankah beliau sudah membalaskan dendamnya dengan menjatuhkan perusahaan Ayahnya, sejatuh-jatuhnya, dulu.
Efra terus berfikir mengenai kemungkinan-kemungkinan buruk Anaya yang kini tiba-tiba menjadi dekat dengan Prana, adiknya. Apa motif gadis itu sebenarnya? ia sendiri harus segera mencari tau semuanya.
**
"Kau mau apa?!" teriak Anaya setelah Efra menurunkan dirinya ke ranjang miliknya.
"Menurutmu? saya ingin melakukan apa?" ujarnya terdengar dingin. Pria itu berjalan mendekatinya. Anaya terkejut karena dengan secepat angin yang berhembus, sikap Efra mendadak berubah seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. Mengerikan.
Ada apa dengan pria itu? tanya Anaya dalam hati.
Anaya menelan salivanya dengan kasar, "Tolong jauhi aku, Fra! kumohon..." pintanya dengan ketakutan. Keringat dingin mulai muncul di seluruh tubuhnya.
Ia sangat ketakutan melihat sisi lain dari seorang Efraim. Ternyata Efra tidak sebaik yang dia kira.
"Kamu takut padaku, Anaya?" gumamnya menyeringai sinis.
Anaya tidak menjawab. Gadis itu terus beringsut menjahui Efra yang tengah berjalan ke arahnya. "Apa yang ingin kamu lakukan, Fra? kumohon jauhi aku!" Anaya ingin sekali memaki Efra andai saja situasinya sedang tidak seperti ini. Entah kenapa suaranya mendadak hilang entah kemana.
Lagi-lagi Efra tersenyum meremehkan, "Bukannya saya sudah mengatakan itu sebelumnya." katanya dengan ekspresi datar.
"Berhenti di situ atau aku akan berteriak! biar saja semua orang tau siapa diri kamu yang sebenarnya." ucap Anaya yang membuat Efra tertegun beberapa detik sebelum akhirnya Efra cepat-cepat mengubah ekspresinya menjadi semula. Apa maksud Anaya mengatakan itu semua. Apakah dia sudah tau dia yang sebenarnya? pikir Efra setengah bimbang.
"Apa maksudmu?" tanya Efra dingin. Matanya menyorot gadis di depannya dengan tajam.
"Kau pria kesepian yang tidak tau diri! tidak tau malu dan kejam. Pantas saja istrimu meninggalkanmu karena tidak tahan dengan sikapmu itu!" ujarnya asal bicara. Jika situasinya sedang terjepit seperti saat ini, apa
kau akan diam saja jika diperlakukan seperti yang tengah Anaya alami.
Kata apa saja bisa keluar dari mulutmu asal dirimu bisa terbebas dari pria kejam yang menculikmu. Anaya masih bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya apa salahnya sampai seorang Efraim yang terkenal cuek dan dingin yang tidak dikenalinya tiba-tiba bersikap aneh dengan bersikap kasar padanya.
Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh Anaya?
"Itu bukan urusanmu!" bentaknya terdengar emosi. "Cepat katakan padaku, apa motifmu mendekati Pranata?" tanyanya yang kini sudah berada tepat di depan Anaya. Efra sedikit berjongkok menyetarakan wajahnya dengan sang gadis dengan menumpukan kedua tangannya di ranjang yang kini tengah di duduki Anaya.
Anaya yang tidak tahu apa yang dibicarakan Efra mengerutkan dahinya mencoba berpikir sejenak, "Prana?" gumamnya memastikan.
"Katakan padaku kenapa kau mendekatinya?!"
"Aku tidak mendekatinya." belanya yang memang merasa tidak mendekati orang yang dimaksud. Bukannya Prana sendiri yang selalu berusaha mendekatinya? kenapa di sini Anaya yang disalahkan. Heii, memangnya siapa sih Efra ini, kenapa dia juga mengenal Prana? apa mereka berdua menjalin suatu hubungan yaaa katakanlah seperti penyuka sesama jenis?
Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya membuatnya mengernyitkan dahinya begitu dalam.
"Rupanya kau ingin bermain-main dengan saya, ya?"
"Sungguh! aku sama sekali tidak mendekatinya."
"Katakan padaku atau kau lebih memilih untuk melanjutkan permainan kita ini..."
"Omong kosong apalagi yang kamu katakan, Fra! aku tidak mengerti!" jeritnya seraya mendorong tubuh Efra tapi dorongan tangannya sama sekali tidak berefek pada pria itu.
"Baiklah kalau itu maumu. Jadi jangan salahkan saya jika saya ingin bermain-main sedikit denganmu..." bisiknya mesra di telinga Anaya.
"EFRAAAA JANGAAANNN!!"
****
Haiii part ini gantung ya??hihiii sengaja aku potong untuk part depan...soalnya kalau aku tulis di bab ini isinya telalu panjang...
Selamat membaca syang-syaangku...
08 april 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
ChickLitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
