Malam sayang-sayangku...aku nongol lagi nih...*beri tepuktangan hahaa...ohya itu dimulmed yang jadi cast nya Langit Raykan ya...
Happy reading!
______
Anaya memasuki sebuah restauran mewah yang sudah dipesankan oleh Eyangnya dengan perasaan gundah. Bagaimana tidak gundah jika yang sekarang ingin dia temui adalah calon suami yang dijodohkan oleh Eyangnya. Hah! Calon suami, ya?
Gadis begaun softblue yang hanya sebatas lutut itu mengedarkan pandangannya menyapu seluruh penjuru isi restauran dan akhirnya tidak lama kemudian mata beningnya menemukan sosok pria tengah duduk di pojok restauran yang terlihat sibuk dengan gadgetnya.
Anaya berusaha memindai sang pria, ah sepertinya pria itu tidak asing di matanya. Kaki mungilnya tidak sadar sudah berjalan pelan kearah pria asing yang sialnya terlihat berkali-kali lebih tampan saat menggunakan kacamata minusnya ketika sedang sibuk sendiri dengan dunianya.
ASTAGA OTAKNYA! mungkin setelah ini Anaya perlu mencuci otaknya agar tidak mudah tertular virus mesumnya Efra.
Apa dia bilang? Efra lagi? Masih sempat-sempatnya ia memikirkan pria brengsek satu itu! Argh.
"Mas Langit, ya?" Ujar sang gadis yang terlihat ragu saat dirinya memanggil seseorang yang kata Eyangnya akan menjadi CALON suaminya nanti, ohya tolong di garis bawahi ya masih calon kok. Oke. Dan Anaya sama sekali tidak tahu jika seseorang yang akan menjadi calon suaminya itu adalah teman lamanya sewaktu ia masih kuliah di Thailand. 3 tahun yang lalu.
Langit yang merasa ada yang memanggil namanya, mendongakkan kepalanya dari layar ponselnya dan menemukan seorang gadis cantik bergaun softblue terlihat ragu menatap pria itu.
Seketika Langit langsung berdiri dari duduknya seraya menarik sudut bibirnya, tersenyum manis menatap gadis di depannya tidak percaya. "Senang bertemu denganmu lagi, Miss Danudayaksa.." ujar Langit seraya memeluk Anaya hangat. Anaya membalas pelukannya tak kalah hangat juga.
"Aku bener-bener gak nyangka kalau seseorang yang mau dijodohkan Eyang sama aku itu ternyata kamu Mas.." kata Anaya saat mereka mengurai pelukan mereka. Anaya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya heran. "Kayaknya dunia ini sempit banget ya, Mas?" Kelakarnya masih tersenyum ceria.
"Iya. Mungkin kita memang jodoh, Nay..." ucap Langit santai disertai gurauan yang ditanggapi Anaya dengan geleng-geleng kepala.
"Iya sih Mas, maybe yes. But, itu dulu... sebelum Mas Langit lebih memilih Carisa dibanding aku." Gumamnya lirih yang masih bisa ditangkap oleh Langit. Tapi dengan pintarnya Anaya mencoba bersikap sok biasa saja dan mengalihkan pembicaraannya sebelum pria itu mulai membicarakan masa lalunya lagi.
Sudah cukup. Dan Anaya sama sekali tidak ingin membuka cerita lamanya. Dia sudah bisa move on dan tidak ada kata flashback lagi untuk hidup barunya.
"Oh iya, kamu ke sini sama siapa, Mas? Sendiri? Carisa mana?" Ucapnya yang baru sadar kalau ternyata pria tampan yang lebih tua 4 tahun darinya itu terlihat sendiri tanpa adanya wanita manja yang selalu kemana-mana terlihat bersamanya. Yeah itu dulu. Dan Anaya sangat tidak menyukainya.
"Kami sudah selesai 3 tahun yang lalu, Nay. Saat kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan Thailand." Akunya dengan jujur. "Mas tidak bisa menjalin hubungan lagi dengannya jika hati dan pikiran Mas hanya tertuju pada gadis lain..." sambungnya terlihat sendu. Ada sorot rindu yang begitu mendalam di mata Langit tapi Anaya sengaja mengacuhkannya.
Anaya tahu, sangat tahu malah siapa gadis lain yang dimaksud oleh Langit. Tapi dia enggan untuk menayakan lebih lanjut kelanjutan cerita itu. Bukannya dia tidak peduli, hanya saja Anaya tidak ingin hatinya kembali terkoyak dan membuatnya semakin rapuh. Anaya tidak ingin kembali menjadi sosok gadis lemah yang menyedihkan.
Tidak akan! Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri.
"Mas, bisa kita bicara mengenai kelanjutan perjodohan ini? Kurasa Mas Langit tau betul kalau aku sangat tidak menginginkan perjodohan ini terjadi. You know what I'm talking about, jadi bagaimana kalau kita batalkan saja perjodohan konyol ini Mas, it's not a bad idea."
"Apa kamu masih marah dengan Mas, Nay? Kenapa kamu terlihat ingin sekali menjauhi Mas?"
"...."
"Setidaknya kita masih bisa berteman 'kan?Maafkan Mas Anaya... Mas benar-benar sangat bodoh, ya?" Ujarnya berusaha tersenyum mengabaikan hatinya yang nyeri melihat gadis di depannya telah melupakannya. Anayanya telah pergi.
Diluar dugaan, Anaya malah tersenyum lebar menampakan lesung pipinya yang membuat gadis berambut panjang itu semakin terlihat cantik saja di mata Langit. "Mas Langit move on deh, coba lihat gadis-gadis cantik di belakang Mas itu... mereka dari tadi ngeliatin kita lho... eh ralat maksudnya ngeliatin Mas kaya liat artis Korea aja. Mas Langit gak sadar apa banyak banget yang naksir berat sama Mas, coba gih pilih salah satu dari mereka biar Mas Langit gak galauin aku mulu..."
"Are you serioustly Anaya? Kamu sehat?" balasnya yang heran karena baru kali ini Langit mendengar secara langsung Anaya yang dikenalnya si irit ngomong bisa berbicara panjang lebar menceramahi kelakuannya yang gagal move on. Ah mungkin waktu 3 tahun sudah banyak mengubah kepribadian gadis cantik di depannya ini.
"Mas!" Geram Anaya seraya memukul lengan kokoh langit yang lengan kemejanya sudah ia gulung sampai siku. "Aku serius, tau!" Rajuknya sambil mencebikkan bibirnya lucu.
"Oke-oke, Maaf. Jadi kamu sudah tidak lagi marah sama Mas, Nay?" Tanya pria itu sekali lagi.
Anaya ingin sekali memutar kedua bola matanya sebal saat ia teringat kalau Langit sangat tidak menyukainya, lalu ia menghembuskan napasnya secara kasar sengaja di depan Langit. "Menurut ngana aja!" Cibirnya tak acuh.
Langit malah tertawa, "Kamu tidak berubah ya Nay? Bagaimana Mas bisa move on dari kamu coba?" Ucapnya masih dengan tawanya.
"Derita situ ya? Jadi gimana Mas?" Tanya Anaya rancu yang membuat Langit menaikan sebelah alisnya bingung.
"Gimana apanya, Nay?"
"Perjodohan kita Mas..."
Pria tampan yang juga mempunyai lesung pipi sama seperti milik Anaya kembali tersenyum hangat, "Mas gak akan memaksa kalau kamu sendiri tidak menginginkannya, Nay. Apa sudah ada seseorang yang mengisi hati kamu sehingga kamu menolak pria setampan Mas, heum?" ucapnya seolah-olah terdengar mendramalisir keadaan.
Tawa Anaya pecah seketika, "Hahah... Mas Langit stop make me laugh!" Ujarnya yang masih tertawa. "Kamu... sama sekali gak cocok berekting drama kayak gitu Mas, kamu konyol banget deh." Lanjutnya.
Langit terlihat mengerutkan hidungnya tidak suka, "Kamu tidak mau menjawabnya Nay?" Desahnya berpura-berpura kecewa.
Anaya hanya tersenyum misterius tanpa mau menjawab pertanyaan pria yang kini sedang terlihat merajuk kepadanya. "No, Ra-ha-si-a!" Jawabnya semakin tersenyum lebar.
Kini tidak ada patah hati lagi yang bisa Anaya rasakan saat ia dipertemukan kembali dengan pria masa lalunya. Tidak ada lagi rasa bedebar saat gadis berdekatan dengan Langit. Mungkin tidak ada salahnya jika ia memulai hal baru bersama langit seperti 3 tahun yang lalu namun bedanya sekarang status mereka kini hanya sebatas teman. Yeah, murni teman... bukan lagi teman rasa pacar seperti yang ia jalani di masa lalu yang berakhir membuatnya terpuruk sendiri.
"Makasih ya, Mas?"
"For what Nay?"
"Karena Mas telah mengajarkanku bagaimana rasanya patah hati yang sebenarnya..." ejek gadis itu dengan cengiran jahilnya.
Langit membalas Anaya dengan berkata, "Dan kamu tau Nay, sekarang Mas sangat menyesal karena telah kehilangan gadis si patah hati itu."
Anaya melotot kesal, "Stop it, Langit Raykan! I will kill you now!" Teriak Anaya berang dan melempar tas tangannya ke arah Langit. Tapi dengan gesit Langit menghindari serangan serabutan yang dilakukan oleh gadis masa lalunya. Yeah, pada akhirnya mereka bisa berdamai dengan masa lalu. Semoga ini akan menjadi awal yang baik untuk mereka berdua.
###
Jangan lupa votenya yaa...see you next part...mendekati konflik...yuhu...
25 mei 2017.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
ChickLitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
