Maaf ya apdetnya lama, langsung happy reading aja yo...
Ahya sorry itu mulmednya posisinya gak lagi di pantry kayak yang dicerita, em...kalian bayangin sendiri aja kalau mereka lagi ada didapur gitu ya...😊
________
"Mamaaaa!!" ujar Felicia ketika Anaya baru saja membukakan pintu apartementnya dan gadis kecil itu langsung memeluk Anaya dengan senang.
"Felicia? kamu datang sama sia-" ucap Anaya terputus saat dilihatnya lelaki sombong yang berdiri angkuh dibelakang gadis kecilnya itu.
Ugh! pria itu lagi.
Anaya seketika mengalihkan perhatiannya kembali pada sosok gadis imut di depannya, alisnya mengernyit bingung. Mereka kok bisa tau sih alamat apartementnya? bukankah dia tidak pernah memberikan alamatnya pada siapapun termasuk omanya sendiri. Ya kecuali ayahnya, aneh. Pikirnya dalam hati.
"Sama Papa, Ma. Mama tau gak? Fely tuh kangeeeenn banget sama Mama An," ujarnya sambil memamerkan gigi kelincinya yang terlihat menggemaskan.
"Mama juga kangen sama kamu sayang. Tapi-" diliriknya pria angkuh itu yang posisinya masih sama seperti sebelumnya, diam seperti patung manekin bedanya yang ini tatapan matanya seperti ingin mengulitinya hidup-hidup. Anaya bergidik ngeri.
"Tapi apa Mama An?" ucap Felicia polos ingin tahu.
"Ah tidak ada. Ayo silahkan masuk," ujar Anaya ramah mencoba mengalihkan pembicaraannya. Sebenarnya ia ragu menyuruh mereka masuk ke dalam apartementnya.
Sangat aneh rasanya mengijinkan orang asing bertandang ke tempat tinggalnya tanpa tahu dia si pria menyebalkan mempunyai maksud tertentu padanya. Setelah Felicia dan Efra duduk di ruang tamu, Anaya pamit kebelakang bermaksud ingin membuatkan minuman ke pantry. Dari mana ya dia mendapatkan alamat tempat tinggalku? tapi- ah sudahlah. Tidak penting juga aku memikirkannya. Gumamnya setengah melamun.
"Saya tidak suka kau terlalu dekat dengan puteriku." ujar Efra mengejutkan Anaya.
Eh?
Anaya berhenti menuangkan air sirup ke dalam gelas sloky yang sudah ia isi dengan es batu, gadis itu memutar tubuhnya dan menatap lelaki di depannya tidak suka. Lalu dengan kesal ia berkata, "Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan anakmu?" ujarnya dengan nada dibuat sesinis mungkin. Pria sinting! siapa dia menyuruhnya untuk menjauhi anaknya? memangnya Anaya seorang wanita pshyco gila yang jahat terhadap anak kecil? dasar tuan muda sok perfeksionis.
Efra tersenyum sinis seraya memasukan tangannya ke dalam saku celana bahannya, "Apa kau tidak mendengar ucapanku?" tanyanya datar seraya memperpendek jarak diantara mereka.
Bukannya takut Anaya malah menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mencoba bersikap tidak terpengaruh akan gertakan lelaki itu, "Kenapa?" Anaya balik bertanya.
Efr menggeram kesal mendengar nada bicara Anaya yang tidak takut kepadanya, "Saya tidak suka dengan kamu. Dan saya harap kamu mau menjauhi puteri saya." kata Efra memandang tajam gadis di depannya.
Anaya hanya mengendikkan bahunya tak acuh, lalu ia memutar bola matanya dengan malas "Oh, ya? kamu pikir aku menyukaimu tuan sok tahu! but sorry ya, pria datar sepertimu bukan typeku." ucapnya mengejek seraya kembali menuangkan air sirup ke dalam gelas. "... dan satu lagi, mudah saja bagiku untuk menjauhi anakmu itu. Tapi aku yakin, gadis kecilmu itu pasti tidak akan bisa jauh-jauh dari aku." tutup Anaya sok cuek. Setelah minumannya sudah selesai, dengan cepat ia segera beranjak pergi ke ruang tamu meninggalkan Efra sendirian di sana.
Tapi sebelum gadis itu sampai di pintu pantry, Efra dengan sigap mencekal lengan Anaya cukup kuat sehingga membuat gelas yang berisi air sirup itu berjatuhan mengotori lantai. Tidak tahukah Anaya karena ucapannya barusan itu membuat ego Efra sebagai seorang pria sedikit terlukai.
Anaya meringis sedih melihat minuman buatannya tumpah begitu saja di lantai. "Apa sih mau kamu!" bentaknya seraya menghempaskan tangan Efra yang masih mencekal lengannya. Setelah terlepas ia segera berjongkok bermaksud membersihkan pecahan gelas yang ada di lantai pantrynya.
Baru saja Anaya meraih satu pecahan gelas kaca tiba-tiba Efra menyentak Anaya kembali berdiri menghadap Efra. Anaya lagi-lagi mengernyit bingung ketika melihat perubahan sikap pada pria itu.
"Apa kamu bilang, saya bukan bukan typemu? kamu yakin?"
"Of course." jawab gadis itu cepat. Terlalu cepat mungkin tanpa menyadari seringaian licik tercetak jelas di bibir seksi Efra.
Efra semakin mendekatkan dirinya pada Anaya membuat gadis itu kelabakan menelan salivanya dengan susah. Oh kenapa dengan dirinya, hanya berdekatan dengan lelaki angkuh yang tidak disukainya saja tubuhnya mendadak merespon negatif.
Ya Tuhan, apa yang akan dilakukan lelaki itu? bisiknya khawatir dalam hati.
Dekat, semakin dekat. Jarak mereka hanya tinggal lima centi saja, pada saat Efra hendak meraih pinggang ramping Anaya seseorang berteriak menghentikannya.
"What are you doing here, Papa?!"
"Shit!" umpat Efra pelan yang hanya bisa didengar oleh Anaya. Gadis bermata bulat itu hanya bisa tertawa melihat wajah Efra yang terlihat memerah menahan malu.
###
30 januari 2017.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
Literatura FemininaWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
