Selamat membaca sayang-sayangku...
_________
Efra menatap seorang wanita yang sedang terbaring tak berdaya di sebuah ranjang rumah sakit. Ada perban yang melingkar di kepala dan juga kakinya. Wanita itu masih belum sadarkan diri pasca kecelakaan beberapa jam yang lalu.
"Dia benar-benar mencintaimu, Fra. Sangat mencintaimu." gumam seseorang di belakangnya yang baru saja masuk. Pria bertubuh atlentis itu menyedakapkan kedua tangannya di depan dada sambil menyenderkan tubuhnya di balik pintu.
Sorot matanya terlihat sayu dan kosong tapi setelah melihat Efra tengah memandangi wanitanya seketika pandangan mata pria itu berubah menggelap menahan amarah.
Merasa ada yang mengajaknya berbicara, Efra memutar tubuhnya yang langsung bersirobok dengan sepasang bola mata hijau zambrut menusuknya penuh perhitungan. Efra mendengus tidak suka. "Kenapa tidak kau saja yang menggantikanku untuk mencintainya? aku sama sekali tidak mencintainya. Tidak akan pernah." sahut Efra tak acuh.
Pria bernama Reykan Bachtiar itu menatap tajam sang duda kaya yang dianggapnya sebagai rival terberatnya untuk mendapatkan wanita yang sangat dicintainya. Fiandra. "Kau begitu sombong! apa kau tidak pernah berpikir tentang perasaan Fiandra padamu, dia sangat mencintaimu dan kau malah menyia-nyiakannya!" teriaknya dengan geram.
"Lalu apa masalahmu?" tanya Efra kelewat santai membuat Reykan menggertakan giginya geram bukan main. Beginikah sikap pengecut pria yang sangat dicintai wanita kesayangannya itu.
Cih! menjijikan sekali batinnya berseru.
"Kau benar-benar bajingan!" lalu tanpa di duga Reykan langsung menerjang Efra dengan cepat dan langsung melayangkan bogem mentah pada wajah Efra. Karena serangan dadakan yang dilayangkan oleh Reykan membuatnya tidak siap dan berakhir sempoyongan tapi untungnya pria itu tidak jatuh.
Efra terdorong mundur beberapa langkah kebelakang dan dengan cepat menguasai dirinya kembali. Efra merasakan sesuatu yang basah di sudut bibirnya, darah. Dia langsung mengusapnya dengan kasar. "Brengsek!" Efra balas memukul wajah Reykan telak membuat pria itu langsung jatuh tersungkur tidak elit di lantai marmer.
Hanya dengan satu kali pukulan telak mengenai rahangnya, bahkan Reykan langsung jatuh dibuatnya. Tepat saat Efra akan kembali menghajarnya lagi, dokter yang menangani Fiandra tiba-tiba masuk ke dalam kamar inap mantan tunangannya.
Dokter wanita paruh baya itu seketika terkejut kaget saat mendapati kamar pasiennya berubah menjadi ajang adu jotos para pria tampan yang kemungkinan besar mereka berdua adalah kekasih dari pasiennya.
Dokter itu menggelengkan kepalanya prihatin.
"Apa yang kalian lakukan di sini?! kalian tau, ini rumah sakit bukan tempat ajang adu kehebatan seperti yang kalian lakukan!" ujarnya dengan ekspresi marah. "Jika sampai terjadi sesuatu pada pasien saya, kalian berdua yang akan saya laporkan ke polisi!" ancamnya lalu dokter bernama Nandiya itu segera mengecek kondisi pasiennya.
**
"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Syifa, ibu dari Fiandra yang terlihat khawatir melihat dua orang pria tampan yang ada di depannya yang terlihat kacau dengan wajah memar.
"Ini semua karena dia!" sahut Reykan muak.
Efra tidak menjawab.
"Kalau saja dia tidak berulah, aku yakin Fiandra tidak akan mengalami kesialan." tudingnya sinis. Reykan menatap Efra setajam pedang.
Syifa berdiri kemudian mendekati Efra. Reykan tetap berada di tempatnya sambil menatap keduanya masam. "Apa kau sama sekali tidak mencintai puteriku?" Syifa memberanikan diri untuk bertanya. Mereka sudah cukup mengenal lama sebelum pertunangan itu. Tapi baru sekarang Syifa bisa berbicara banyak dengan Efra mengingat kesibukan mantan calon menantunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
Literatura FemininaWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
