"Daddy!! Kapan datang?!" Seru Anaya kaget ketika ia baru saja masuk kedalam rumah besar orangtuanya dan menemukan Ayah tercintanya tengah duduk santai bersama Eyangnya di ruang tamu.
Danudayaksa seketika tersenyum lebar menyambut kedatangan putri bungsunya yang terlihat syok melihat kedatangannya yang tiba-tiba. Gadis itu berlari kecil dan langsung memeluk tubuh Ayahnya dengan sangat manja.
"Kangeeen Daddy..." bisiknya. Lalu seakan teringat sesuatu Anaya segera melepaskan pelukannya dan menatap cemberut Ayahnya dengan ekspresi sebal.
"Bukannya Daddy bilang masih ada urusan seminggu lagi di Jepang ya, lupa?" Ucapnya dengan nada polos.
Danudayksa mengulum senyum memperhatikan anak gadisnya yang sekarang sudah tumbuh dewasa dan semakin cantik seperti copyan istrinya. "Kenapa? Apa putri cantik Daddy gak suka liat Daddy pulang cepet, huh?" Ujarnya dengan seringai jahilnya.
Anaya tambah manyun, "No Daddy! aku seneng kok liat Daddy pulang. But, ada yang aneh aja." Ujarnya sambil mengernyitkan dahinya mencoba menebak apa yang sekarang tengah direncanakan oleh Ayahnya. Pasalnya tidak biasanya sang Ayah bersikap sedikit aneh kepadanya. Pasti ada yang tidak beres, batin Anaya curiga.
"Kamu mencurigai Daddy-mu ini, Sayang?" Balas Danudayaksa pura-pura tersinggung. Dalam hati pria paruh baya itu mati-matian menahan tawa karena cerita Ibunya sebelum Anaya datang mengenai gagalnya rencananya yang beberapa kali berniat menjodohkan Anaya dengan putra teman dekat Devita (Ibunya Anaya).
"Daddy!"
"Oh ayolah Sayang... Daddy tidak seburuk itu kau tahu."
Anaya semakin tidak percaya dengan ucapan Ayahnya. Gadis itu semakin memberengut kesal, dengan dongkol ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ayahnya sungguh menyebalkan dan saat ini Anaya sedang tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan pria tampan yang usianya sudah tidak lagi muda itu.
Pikirannya sedang kacau apalagi di tambah dengan kelakuan aneh Ayahnya yang mendadak muncul di rumah mewah yang ditinggali sang Eyang beberapa bulan belakangan. Anaya butuh hibernasi sekarang atau dia akan tambah stres lagi dengan kelakuan Ayahnya yang seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Anaya menyipitkan matanya melirik sang Eyang curiga. Oke cukup, kali ini Daddy dan Eyangnya cukup pintar berkonspirasi. Awas saja jika mereka kembali menjodohkannya, Anaya akan kabur ke luar negeri bila perlu.
Menghembuskan napas panjang, Anaya menurunkan kedua tangannya yang terlipat di depan dada. Kemudian ia melirik arloji di pergelangan tangannya, "Okey fine, simpan rapat-rapat aja rahasia Daddy sama Eyang. Aku butuh udara segar dan aku harus pergi Dad," gumamnya terdengar lelah.
Danudayaksa terkekeh geli, "Mau kemana lagi, Naii?"
Anaya berpura-pura mendengus mendengar pertanyaan ayahnya, "Ra-ha-si-a!" Jawabnya menyeringai lalu dengan cepat mencium pipi Ayah dan juga Eyangnya sambil tersenyum lebar.
Eyangnya hanya mengelengkan kepalanya, berdecak heran melihat kelakuan absurd cucunya. "Begitulah putri kecilmu itu Dan, susah sekali diatur sama Ibu." Gerutunya pelan yang masih bisa didengar oleh Anaya.
Anaya hanya tersenyum kecil tanpa repot menoleh. Ah biarkan saja, salah siapa main rahasia-rahasiaan segala dengannya, gumamnya tersenyum puas sambil melanjutkan langkah kecilnya. Sepertinya dia benar-benar butuh hibernasi.
***
"Ya ampun! Ini udah jam berapaaa?!!" Ujarnya panik sambil beranjak dari ranjangnya. Anaya menyambar ponsel yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Membuka kunci layarnya kemudian melotot tajam saat melihat angka jam yang tertera di layar ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
ChickLitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
