Uhukk tumben apdetku lancar yaa??? ihiw beri tepuk tangan ^plok plok ... jangan lupa tinggalin jejak sebelum membaca y...
Felicitations lu et je l'espere l'amour avec cette partie... Je t'aime les gars....
________
Sudah hampir tiga hari ini Efra sama sekali tidak mengganggu Anaya dan membuat gadis itu bertanya-tanya dalam hati. Mungkin saja Efra sedang sibuk dengan pekerjaannya atau jangan-jangan dia malah sedang sibuk dengan kekasihnya?
Ah whateverlah, Anaya tidak peduli. Lagian itu juga bukan urusannya, kan? dia bukan siapa-siapa lelaki itu.
Sedang asiknya melamun, ponsel di samping nakas tempat tidurnya bergetar panjang tanda ada panggilan masuk. Tidak perlu melihat siapa yang menelponnya, dari nada deringnya saja Anaya sudah tau siapa gerangan.
"Halo..." sapanya malas. Dia sudah terlalu mengantuk untuk meladeni si penelpon gila tidak tau waktu.
Pria itu tidak punya jam apa di rumahnya, tidak lihat kah sekarang ini sudah jam berapa? dumelnya kesal menahan emosi.
Jujur saja, hari ini Anaya benar-benar sangat lelah. Lelah fisik maupun batin. Apalagi masalahnya kalau bukan karena pekerjaan kantornya yang mengharuskan dia untuk membawa pulang semua berkas pekerjaannya yang belum selesai ke apartemennya.
Ini semua gara-gara dia cuti beberapa hari yang lalu di awal Anaya masuk kerja. Kerjaannya jadi semakin menumpuk karena Anaya tinggal. Dan Anaya jadi telat tidak bisa menyerahkan laporan keuangannya pada Mrs. Bertha.
Jadilah sekarang dia harus menyelesaikannya karena besok pagi Mrs. Bertha sudah mewantinya untuk segera menyerahkannya.
"Belum tidur?" pertanyaan macam apa itu? tidak bermutu sama sekali, gerutunya dalam hati.
"Menurut lo?"
Prana tekekeh geli mendengar nada ketus dari gadis-nya, "Kenapa belum tidur?" tanyanya lagi kali ini suara pria itu terdengar lembut di telinga Anaya. Apa telinganya tidak salah dengar?
"Belum. Gara-gara lo sih kerjaan gue jadi menumpuk."
"Kok gara-gara aku?" tanya Prana tidak mengerti.
"Iya lah. Kan waktu pertama masuk kerja gue malah pergi ke apartemen elo. Lo lupa atau pura-pura ngelupa, hm?"
Lagi, Prana terkekeh geli mendengar tuduhan yang dilontarkan Anaya padanya. Tapi Prana sama sekali tidak merasa marah karena sudah dituduh menjadi penyebab masalah gadis itu tertimpa banyak pekerjaan.
"Siapa juga yang menyuruh kamu pergi ke apartemen aku, gak ada kan?"
"Ish, dasar nyebelin!"
"Masa?"
"Tukang paksa."
"Nay?" bukannya menjawab, Prana malah mengalihkan pembicaraannya dan malah memanggil gadis-nya.
Gadisnya, heh?
"Hm?" jawab gadis itu terdengar lirih. Mungkin Anaya sudah memejamkan matanya.
"Anaya?" panggilnya lagi. Kali ini nada suara Prana terdengar sangat serius saat memanggil.
Anaya yang masih berusaha memejamkan kedua matanya langsung kembali membuka matanya, "Iya Nata, kenapa?" jawabnya sedikit menggoda Prana denga nama panggilan tersakral menurut pria itu.
"Ne me appelez pas par ce nom a nouveau, Anaya! vous voules etre embrassee, huh!" (jangan panggil aku dengan nama itu lagi, Anaya! kamu ingin aku cium, huh!)
Dia pikir Anaya tidak tahu apa yang diucapkan oleh Prana. Anaya tersenyum senang, "Dans vos reves, maitre enforcer! Je ne suis pas peur." (dalam mimpimu, tuan pemaksa! aku tidak takut.)
"Apparemment vous le saves bien, madame." (rupanya kamu tau juga, nona)
"Kau pikir aku sebodoh itu apa! dasar tuan pemaksa. Jadi, sekarang cepat katakan padaku apa yang ingin kamu katakan sebelum aku mematikan telepon ini. Aku ngantuk sekali Prana." keluhnya karena kedua matanya sudah tidak bisa lagi diajak berkompromi.
Dilihatnya jam dinding berbentuk keropie berwarna hijau muda yang mengantung cantik di samping tempat tidurnya, pukul 11 lewat 35 menit 30 detik. Hampir jam tengah 12 malam rupanya, mendekati dini hari.
"Aku gak yakin kamu nelpon aku malem-malem gini cuma mau nanya kenapa aku belum tidur. Jadi sekarang cepat katakan!" sambungnya tidak sabar.
"Besok malam kamu ada acara?" tanyanya pada akhirnya.
Anaya membelalakan matanya tidak percaya pada apa yang baru saja didengar oleh telinganya, "Kamu nelpon aku cuma mau nanya gitu aja?! halooo Nata, apa kamu sehat?" jeritnya setengah frustasi. Gila aja, Anaya pikir Prana mau bicara apa dengannya, eh gak taunya malah... ah sudahlah. Dasar kurang kerjaan, dengusnya sebal.
"Besok malam aku diundang untuk menghadiri malam penggalangan dana yang diadakan oleh Mr. Chen. Dan aku tidak menerima penolakan apapun darimu." katanya ambigu membuat Anaya mengerutkan dahinya tidak mengerti.
Mr. Chen siapa lagi dia?
"Maksudmu apa, sih? aku tidak mengerti."
"Kosongkan apapun jadwal pekerjaanmu yang membuatmu tidak bisa ikut denganku besok malam." katanya yang tidak bisa dibantah. Khas Pranata sekali. Tukang paksa.
"Dan kau pikir aku mau menuruti semua perintahmu?" tantang Anaya.
"Terserah padamu saja. Kartumu ada di tanganku." ucapnya dengan santai. Diseberang telepon, Prana sangat yakin kalau Anaya pasti mau menemaninya untuk datang ke acara tersebut. Lihat saja nanti, batinnya menyeringai
Ya Tuhan, boleh tidak Anaya membunuh mahluk hidup berkasat mata yang sering membuatnya naik darah. Satu kali saja, dan Anaya janji dia tidak akan menjadi gadis pembangkang lagi untuk ayahnya.
"So how Anaya? What are you willing?"
"Menurutmu apa aku masih punya pilihan? sudah tau jawabannya kenapa masih bertanya!"
"God girl. Dan sekarang cepat tidurlah." tutupnya dan panggilan telepon langsung terputus. Oh astaga! Anaya benar-benar ingin mencekik Pranata saat ini juga.
Gagu, aneh, pemaksa, idiot! apalagi sebutan yang cocok untuk menggambarkan pria tukang paksa satu itu!
***
02 April 2017.
Haii sorry ya ternyata part ini mbak anayanya masih sama mas ganteng pranata...next part ketemu sama kubunya Mas efraim oke....see you next capt.....miss u..
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
Literatura FemininaWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
