"Rumah Fely sebelah mana, Sayang?" tanya Anaya dengan lembut seraya melongokkan kepalanya keluar dari kaca jendela mobil sambil menatap takjub deretan perumahan elite yang berjejer didepannya. Dia berdecak pelan mengagumi deretan rumah para orang kaya itu.
Pasti gadis kecil yang ada disampingnya ini adalah salah satu dari anak orang kaya itu, ya jelas saja karena mereka berhenti tepat di lokasi tempat para beruang itu berada, batinnya tersenyum kecut.
"Yang itu Mama." tunjuknya dengan jari telunjuk mungilnya yang mengarah pada sebuah rumah mewah dan besar.
Bibir mungilnya tak berhenti tersenyum menampilkan gigi susunya yang terlihat seperti gigi kelinci. Dengan tidak sabar Fely segera menarik tangan Anaya mengajaknya turun dari mobil dan menariknya ikut berjalan menuju rumah mewahnya. Sebelumnya Anaya mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah dari dalam tasnya dan diberikannya pada supir taksi langganannya. Ia buru-buru mengucapkan terimakasih dan segera mengikuti gadis kecil yang menggandengnya dengan tidak sabar. Ck, gadis ini!
"Ini rumah kamu, Sayang?" tanya Anaya sedikit ragu saat ia sudah berada di depan teras rumah bocah cilik itu dan matanya seketika langsung menyapu kesekelilingnya dan lagi-lagi dengan perasaan takjub. Dasar labil, gerutunya dalam hati. Anaya menggelengkan kepalanya membayangkan jika dirinyalah yang mempunyai rumah mewah ini. Oh my, pikirannya lancang sekali! shit!
Bahkan jika dibandingkan dengan salah satu kamar di rumah itu, apartemennya sendiri masih belum ada apa-apanya. Bah! miskin sekali kan dia.
Gadis cilik itu menoleh lagi dengan senyum manisnya, "Iya Mama. Ini rumah kita." ujarnya dengan nada kelewat senang. What? rumah kita? yang benar saja kamu, Nak. Anaya tidak pantas tinggal di rumah ini, tau. Lagi-lagi dewi batinnya terus mengejek Anaya dengan sinis. Anaya mendengus kesal. Kata siapa dia tidak pantas? pantas-pantas saja kalau dia nanti suaminya berasal dari kalangan elite.
Anaya pikir gadis cilik yang tak sengaja ditemuinya ini terlalu merindukan sosok sang ibu. Makanya saat melihat Anaya, dia kelewat senang dan tanpa pikir panjang lagi memintanya untuk menjadi Mamanya. Padahal mereka baru saja kenal.
Tak lama kemudian pintu besar itu terbuka lebar dan menampakkan seorang gadis muda berdiri di depan pintu dengan alis berkerut dalam. Anaya bisa tebak dia pengasuh gadis cilik itu. "Non Fely kok udah pulang?" tanyanya dengan kening berkerut menatap sang majikan cilik dengan bingung.
Lalu pandangannya beralih menatap wanita cantik yang masih berdiri dengan canggung yang ada disamping majikan mudanya. Anaya yang bingung karena merasa diperhatikan oleh gadis muda itu, ia berinisiatif mengulurkan tangannya mencoba memperkenalkan diri padanya.
"Kenalkan nama saya Anaya Putri Adisty. Cukup panggil Anaya saja." ujarnya sambil tersenyum rikuh. Pengasuh Fely pun balas menjabat tangan Anaya dengan senang dan menyebutkan namanya.
"Saya tadi tidak sengaja menemukan adik kecil ini sedang sendirian di pinggir jalan. Karena takut khawatir kenapa-napa, Makanya saya berinisiatif ingin mengantarkannya pulang." jelasnya seraya mengelus surai hitam Fely dengan sayang. Hal itu pun tidak luput dari pandangan Sisi.
Felicia mengangguk dan membenarkan ucapan Anaya. "Yasudah, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya," ujarnya sambil melirik arloji di pergelangan tangannya. Karena waktu untuk mengejar misi balas dendamnya jadi tertunda gara-gara mengantarkan bocah cilik ini.
Seketika Felicia memeluk pinggang Anaya dengan sangat erat tak rela jika Mama baru yang ditemuinya tadi pergi meninggalkannya. Anak kecil itu merengek dan tidak ingin membiarkan Anaya pergi darinya.
"Enggak mau! pokoknya Mama gak boleh pergi!"
Sisi- pengasuh Felicia terlihat sangat terkejut saat mendengar Felicia memanggil Anaya dengan panggilan Mama. Terkejut bukan perkara karena dia cemburu, melainkan terkejut karena merasa aneh saja dengan tuan mudanya ini. Tidak biasanya majikan mudanya ini menangis hebat karena tidak ingin ditinggal seseorang yang baru saja dikenalnya.
Bahkan sikap Fely dengan teman dekat ayahnya saja ia tidak begitu baik. Kalau tidak suka, gadis cilik itu akan dengan terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya. Jadi wajar jika Sisi merasa aneh.
"Mama?" gumam Sisi pelan yang masih didengar oleh Anaya.
Anaya jadi salah tingkah dan berkata, "Ceritanya panjang, Si. Jangan salah paham dulu. Saya bisa jelaskan, tapi masalahnya tidak sekarang. Saya sedang buru-buru karena saya ada urusan yang sangat urgent." katanya yang mencoba meminta bantuan Sisi untuk melepaskan pelukan Fely.
Gadis kecil itu terus saja menangis sejadi-jadinya karena merasa dipisahkan dengan Anaya. Karena tangisnya yang tak kunjung berhenti, akhirnya Anaya menyerah dan mencoba peruntungan terakhir dengan membujuknya.
Sejujurnya dia juga tidak tega melihat Fely menangis karenanya, lihat saja wajah gadis imut itu sekaramg menjadi sembab dan memerah karena terus-terusan menangis. Padahal Anaya sendiri yang meminta bocah itu untuk tidak menangis lagi.
Tapi jika dia terus berada di sini bersama Fely, lalu bagaimana dengan rencananya??
"Fely Sayang, Eng ... siapa sih nama panjang kamu?" tanya Anaya mecoba mengalihkan perhatian anak itu.
Dengan bibir cemberut Fely menjawab pertanyaan Anaya, "Felicia Carona Aydan."
Anaya tersenyum dan menangkup pipi gembul Fely, "Nama yang cantik. Secantik orangnya," ujarnya dengan lembut. "Oh ya sepertinya kamu telah melupakan sesuatu deh, Sayang?"
"Apa itu Ma?"
"Kamu beneran tidak ingat, Sayang?"
Felisya menggeleng.
"Yakin?" tanyanya lagi.
Kali ini Felisya mengangguk ragu, "Fely gak boleh nangis lagi? iya kan' Ma?" gumamnya pelan.
"Right. Tapi kenapa kamu nangis lagi. Kan tadi udah janji sama Mama?"
Gadis cilik itu terlihat diam dan memandang Anaya dengan raut wajah sedih, "Mama mau ninggalin Fely?" tanyanya dengan lemah. "Berarti itu tandanya Fely gak bakalan ketemu sama Mama lagi, kan?"
Anaya jadi terharu dan langsung memeluk tubuh mungil Felisya dengan sayang. Anak ini sungguh kasian sekali, dia jadi tidak tega untuk meninggalkannya. Pikirannya kembali gamang, "Enggak Sayang. Mama janji bakal datang kesini lagi untuk ketemu sama Fely. Tapi setelah urusan Mama selesai dulu Sayang. Kamu mau kan?" bujuknya sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Terlihat kekanakan sih, tapi mau bagaimana lagi.
"Tapi Mama janji ya, mau ketemu sama Fely lagi?" katanya setelah mengaitkan jari kelingking mungilnya dengan jari kelingking Anaya.
Setelah itu buru-buru Anaya pergi dari rumah itu dan bergegas menuju perusahan sialan yang telah membuatnya malu gara-gara pemuda sombong itu. Tunggu saja pembalas dendaman dariku, aku akan balas dengan membuatmu malu berkali-kali lipat melebihi malunya aku siang itu! gumam Anaya dengan senyum miring tersungging di bibirnya.
###
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
ChickLitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
