Sorry ya telat apdet, gara-gara gak mood ceritanya jadi molor gak keurus...hhhaa
Oke happy reading sayang-sayangku..
________
"BRENGSEKK!!" maki Anaya emosi dan mendorong sekuat tenaga tubuh besar Efra yang sedang mengukungnya diatas tubuh mungil wanita itu. Pria itu seketika terlepas dari tubuh Anaya. Wanita menghela napas lega.
Anaya segera beringsut ketakutan menjauhi Efra yang shock karena perbuatannya yang tiba-tiba mendorongnya kesetanan hingga Efra terjungkal keras menyentuh lantai. Saat itu juga Anaya langsung berlari keluar dari kamar pribadi yang diyakininya sebagai kamar ke dua lelaki itu saat sedang berada di perusahaan.
"You jerk bastard!" umpatnya sebelum ia menghilang dibalik pintu penghubung antara ruang kantor dengan kamar pribadi pria itu.
Sepeninggal Anaya, Efra sengaja tidak mengejar Anaya. Mungkin sikapnya benar-benar sangat keterlaluan kali ini. Efra mengusap wajahnya dengan frustasi. "Tuhan... apa yang baru saja aku lakukan?" Desahnya marah pada dirinya sendiri, "Pasti dia akan sangat membenciku setelah ini..."
**
Setelah behasil keluar dari ruangan terkutuk itu, Anaya segera mencari kemeja blousenya yang terbuang entah di mana. Setelah beberapa menit ia mencari dan akhirnya menemukannya, Anaya segera memakai kemeja itu secepat kilat.
Tidak dipedulikannya kancing kemeja blousenya yang banyak terlepas acak akibat dibuka paksa, yang ia pikirkan saat ini adalah ia bisa segera kabur dari tempat pria brengsek yang hampir saja memperkosanya. Ah, mengingatnya saja hanya akan membuat sesuatu yang ada di dalam dadanya ingin meledak.
Anaya segera berlari ke arah lift khusus untuk menuju ke ruangan CEO. Tidak dipedulikannya tatapan aneh yang ditunjukkan oleh wanita bernama Mitha, sekretaris Efra yang menatapnya merendahkan. Rambut acak-acakan begitu juga dengan pakaian yang dikenakannya, Anaya sungguh tidak peduli.
TING!
Pintu lift terbuka dan Anaya segera berjalan melewati lobby utama yang terlihat rame dalam diam. Gadis itu terus saja berjalan lurus menuju pintu keluar tanpa memperdulikan sekitarnya yang terdengar gaduh.
Beberapa pasang mata memandangnya heran karena penampilan berantakan seorang gadis cantik yang baru saja keluar dari elevator khusus CEOnya. Beberapa dari mereka berspekulasi sendiri mengenai penampilan si gadis, ada yang menuduhnya selingkuhan boss mereka dan mungkin si gadis baru saja diputuskan oleh bossnya mengingat reputasi CEOnya yang terkenal player.
Ada juga yang menuduhnya pula mereka baru saja berbuat hal gila di kantornya dan ketahuan oleh tunangan CEOnya dan gadis itu langsung diusirnya sehingga si gadis tidak sempat membenahi penampilannya yang berantakan dan masih banyak yang lainnya lagi.
Ugh! Dasar penggosip! Gerutunya dengan sebal.
Anaya berusaha keras untuk tidak mendengar suara kasak-kusuk orang yang menggosipkannya sambil memandangnya dengan jijik. Biar saja orang mengatakan dirinya rendahan atau sebagainya, toh dia tidak merugikan mereka. Dia yang dilecehkan oleh boss mereka, apa peduli mereka, Hah!
Sesampainya di pinggir jalan, Anaya berusaha mencari taksi yang akan lewat di depannya. Sejujurnya dia malu, sangat malu dengan penampilannya saat ini. Bukan salah mereka juga menggosipkannya yang tidak-tidak mengenai dirinya. Salah dia sendiri yang tidak lebih dulu memperbaiki penampilannya. Satu tangannya daritadi terus memegang kemeja blouse bagian bawah yang tidak ada kancingnya agar tidak terbuka.
Tak lama kemudian taksi yang ditunggunya akhirnya datang. Anaya kembali menghela nafas lega, baru saja dia akan membuka pintu taksi yang akan dinaikinya tiba-tiba dari arah belakang tubuhnya seseorang tak dikenal menyekapnya dan membawa gadis itu berjalan ralat... menyeretnya ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil taksi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
ChickLitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
