Sore harinya saat Efra pulang ke rumahnya ia dibuat pusing karena mendapat laporan dari pengasuh putri kecilnya, kalau putrinya seharian ini sama sekali tidak mau makan. Felicia mau makan jika seseorang yang dipanggil Mama itu datang ke rumahnya.
Siapa dia?
Bagaimana Efra tidak pusing jika dia saja sama sekali tidak mengenal seseorang yang sudah membuat anaknya mogok makan. Efra geram bukan main kepada wanita yang disebut Mama itu, berani-beraninya dia geramnya kesal dalam hati. Gara-gara wanita itu anaknya jadi tidak mau menuruti perintahnya. Padahal sebelumnya Felicia adalah anak yang penurut.
Kembali diurut pelipisnya dengan kasar, dia benar-benar dibuat pusing oleh tingkah putri kecilnya ini. "Sisi! apa kau mengenal siapa dia?" teriak Efra gusar dari luar kamar Felicia. Karena putri kecilnya itu sama sekali tidak mau bertemu dengan Ayahnya.
Merasa namanya dipanggil, Sisi segera berlari keluar dari dalam kamar Felicia sebelum sang majikan benar-benar marah kepadanya. "Maaf Pak, saya tidak mengenalnya. Tapi saya sempat berkenalan dengannya." ujarnya takut-takut seraya menundukan kepalanya ke bawah menatap lantai keramik. Sisi tau apa yang akan dilakukan majikannya itu jika sedang dilanda bingung. Semua orang yang ada di rumahnya pasti tidak akan luput dari amukannya termasuk dirinya.
Efra mendongakkan kepalanya dan menatap pengasuh anaknya dengan tatapan serius, "Siapa dia? kenapa Felicia bisa mengenalnya?" tanyanya dengan datar. Nada bertanyanya sama seperti biasanya tiap kali Efra bertanya tentang aktifitas apa yang dilakukan oleh anaknya seharian itu padanya, tapi kali ini dalam kasus yang berbeda.
Sisi tau, selama 5 tahun bekerja dengan Efra. Sedikit banyak ia telah mengenal sang majikan dengan sangat baik dan Sisi tau kalau saat ini sang majikan dalam keadaan mood yang tidak baik. Sekali saja Sisi membuat kesalahan maka tamatlah dia.
Sisi semakin mengeratkan telapak tangannya pada baju yang sedang dikenakannya. Bajunya sampai lecek karena terlalu kuat ia meremasnya. "Namanya Mbak Anaya, Pak." gumamnya pelan setelah meredakan gemetar di tubuhnya karena saking gugupnya berhadapan dengan majikannya.
"Anaya? siapa dia?" tanya lagi masih belum mengerti.
"Ma-maaf Pak Efra. S-saya juga kurang tau. Yang saya tau, Mbak Anaya itu orangnya baik, Pak Efra." jelasnya masih gugup. Ck, majikannya ini kalau sedang marah bawaannya pengen makan orang aja.
"Baik?" katanya dengan dahi berkerut.
"I-iya Pak Efra. Soalnya kemaren Mbak Anaya yang udah nganterin Non Fely sampai ke rumah. Bukan Non Fiandra." jelasnya sambil melirik Efra takut-takut.
Efra benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia membuat pengasuh anaknya sangat ketakutan jika berhadapan dengannya. Padahal gadis itu adalah pengasuh putri kecilnya dari
sejak Felicia lahir. Jika Mamanya sampai tau kelakuan putra sulungnya ini, bisa-bisa beliau sangat marah besar kepadanya.
"APA?!"
"Maafkan saya, Pak Efra. Ini semua memang kesalahan saya. Kalau saja saya tidak mendengarkan kata-kata Mbak Fiandra, kejadian ini pasti tidak akan terjadi," ujarnya
sambil berdoa di dalam hati semoga saja kesalahannya dapat dimaafkan. Dan dirinya tidak ditendang dari rumah ini. Pasalnya Sisi juga ikut andil dalam masalah ini. Dia kan pengasuhnya.
Dihembuskannya napas beratnya melalui mulutnya kemudian ditatapnya kembali Sisi dengan geram, "Sekali lagi kamu membuat kesalahan, saya tidak akan segan-segan memecat kamu dari rumah ini!!" suara Efra menggelegar memenuhi ruangan tamu. Sisi dibuat mengkeret bahkan sampai tidak berani untuk menatapnya. Dalam hari Sisi berdoa semoga ceramah maut ini akan segera berakhir.
"Pergilah. Cari wanita bernama Anaya-Anaya itu dan bawa dia kemari untuk putriku. Ingat! cari wanita itu sampai dapat, dan jika sampai kau tidak menemukannya, kau tau kan apa konsekuensinya?" ujarnya dengan nada perintah yang tidak bisa diganggu gugat.
Ternyata doanya segera terkabul, Sisi menghela napas lega dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan kembali lagi percaya pada wanita bernama Fiandra. Fiandra itu adalah tunangan Efra. Wanita glamour dengan seribu satu cara licik yang bersarang di dalam isi kepalanya.
Wanita itu sangat tergila-gila pada Efra, tapi tidak dengan putri kecilnya. Fiandra sangat membenci Felicia entah karena apa. Fiandra berusaha terus menyingkirkan Felicia dari Efra, salah satunya dengan cara meninggalkannya di tepi jalan seperti waktu itu. Tapi rupanya rencananya untuk menyingkirkan Felicia gagal karena kebaikan hati gadis berkacamata bulat itu.
Berbeda jauh dengan lelaki beranak satu itu. Efra sama sekali tidak mencintai Fiandra. Hatinya masih terpaut oleh istrinya yang telah tiada. Hanya karena tidak ingin melihat Mamanya terbaring tak berdaya di rumah sakit 6 bulan yang lalu dikarenakan mengindap gagal jantung, dengan terpaksa Efra mau menyetujui perjodohan ini.
Sharon menjodohkan anaknya- Efra hanya agar sang cucu tersayangnya itu bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu sama seperti teman sekolahnya.
Sharon sering mendengar cucu tersayangnya itu mengeluh kepadanya karena ia tidak mempunyai seorang Mama sendirian di sekolah TK-nya. Dia ingin seperti teman-temannya yang lain, mempunyai Mama yang akan mengantar-jemputnya ke sekolah.
Tapi ternyata Sharon salah besar dengan menjodohkan Efra dengan Fiandra. Karena Fiandra sama sekali tidak menyukai adanya Felica di hidupnya bersama Efra. Menurutnya anak kecil itu sangatlah mengganggu dan harus dibuang jauh-jauh dari jangkauannya. Itulah Fiandra, dia tidak akan berhenti melakukan apa yang ingin dilakukannya sampai rencananya berhasil.
###
Hai jangan lupa tinggalin tanda bintangnya ya. Kritik dan sarannya jangan ketinggalan...
Peluk dan cium dari Efra-Anaya 😘😘😘
28.12.2016.--20:05
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
Chick-LitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
