18. Complicated (1)

2.8K 185 10
                                        


"Iya Mas, kenapa?" kata Prana pada orang yang berada di sebrang sana.

"Lo kok belum datang juga sih, Nat? kemana aja lo? Mama udah nungguin dari tadi ." jawab si penelpon dengan nada tidak sabar. Kebiasaan adik bungsunya kalau tidak telat ya pura-pura ngelupa.

"Gue masih di jalan Mas. Bentar lagi juga nyampe."

"Bentarnya lo itu bisa satu jam sendiri, Pranata. Awas aja dalam waktu 10 menit lo belum juga nyampe, gue aduin juga lo sama nyokap biar tau rasa!" ancamnya yang berhasil membuat adiknya jadi kalang kabut sendiri.

Bagaimana bisa ia sampai kekediaman orang tuanya dalam jangka waktu secepat itu, sekarang saja ia baru selesai mengantarkan Anaya pulang ke apartemennya yang jaraknya lumayan jauh dari tempat yang akan dituju.

Kakaknya benar-benar keterlaluan! gerutu Prana setengah kesal pada sang kakak tertua.

"Aduh Mas, ban mobil gue kayaknya bocor deh... gue mampir dulu ke bengkel, ya?"

Di sana Efra menggeram kesal, trik andalan gaya adiknya itu selalu bisa ditebak olehnya. Dan sekarang dia tidak akan bisa tertipu lagi oleh adik bungsunya itu, "Lo jangan banyak alesan, Pranata. Gue tau trik murahan gaya lo, ya. Sekarang, cepat dateng ke sini atau gue aduin beneran kelakuan lo sama nyokap!" ancamnya yang membuat Prana makin tambah gelagapan. Sial! Pasalnya Efra memegang penting kartu as Prana yang bisa membuat bujang tampan satu itu tidak bisa berkutik.

"Ah lo Mas, bisanya main ngancem gue doang. Awas aja sampe gue tau kartu as lo, bakal gue bales sikap semena-mena loe ke gue itu!" sungutnya frustasi.

"Jangan banyak omong, Pranata! Cepet datang. Nasib lo di tangan gue." jawab Efra lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Dasar kakak kurang ajar! maki Prana sambil menaikan kecepatan mobilnya.

.

.

.

.

Di kediaman keluarga Aydan, si cantik Felicia tidak henti-hentinya menceritakan tentang seseorang yang akan dia jodohkan dengan ayahnya. Gadis cilik itu berusaha membujuk sang oma agar ayahnya mau mendekati sang mama.

"Oh ya? tapi Fely kan tau sendiri kalau Papa Fely sebentar lagi akan menikah dengan tante Fiandra sayang..."

"Tapi Fely gak mau Oma! Fely maunya Papa sama mama An."

"Fely sayang, kalau Papa Fely sudah nikah sama tante Fiandra... lama-lama juga nanti Fely bakalan sayang sama tante Fiandra," bujuk Sharon meyakinkan sang cucu tersayang agar mau menerima menantu pilihannya sebagai mamanya.

Mendengar satu-satunya orang yang diyakininya akan menjadi harapan terakhirnya memihak pada sang musuh, harapan gadis kecil itu akhirnya musnah sudah. Ternyata keluarganya tidak ada yang menyayanginya, batinnya lesu.

Gadis cilik itu seketika merengut tidak suka, "Oma sama Papa jahat! Fely benci kalian!" ujarnya seraya berlari keluar menuju taman depan. Gadis cilik itu menangis sesegukan. Efra yang akan mengejar anaknya ditahan oleh ibunya.

"Biarkan saja, Fra. Nanti kalau sudah baikan juga Fely pasti nyusul kesini..." ucapnya yang langsung disetujui oleh Efra. Sharon berfikir kalau cucunya sedang membutuhkan waktu menyendiri untuk menenangkan pikiran.
.

.

.

.

Prana yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya berlari kecil menghampiri keponakannya yang tengah menangis sesegukkan di dekat kolam ikan yang di tengah-tengahnya terdapat air pancuran menyerupai putri duyung. Terdengar gadis cilik itu tengah berbicara sendiri dengan salah satu ikan-ikan koi yang tubuhnya sedikit lebih besar daripada ikan yang lain.

ENTANGLED HEARTSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang