Enjoy!!
______
"Ya ampun nduk, kamu kemana aja toh seminggu ini? Eyang telpon-telponin ndak kamu angkat. Keterlaluan kamu." Omel Eyangnya yang baru melihat Anaya memasuki ruang tengah.
Anaya mencebikkan bibirnya manyun sambil melangkah mendekati sang eyang. Kemudian dengan manja ia membaringkan tubuhnya pada kursi sofa yang sedang di duduki eyangnya seraya menyandarkan kepalanya kepangkuan wanita paruh baya itu. Seperti kebiasaannya, eyangnya lalu mengusap surai panjang cucunya dengan sayang.
"Eyang salah gak kalau aku mencintai orang yang pernah membuat kita sangat membencinya?" Ucapnya ambigu.
Tangan tuanya berhenti mengusap surai Anaya saat mendengar ucapan ambigu cucunya, lalu dengan bingung eyang bertanya, "Maksud kamu apa nduk? Eyang ndak paham." gumamnya kembali mengusap surai panjang Anaya.
Hati Anaya benar-benar dibuat bingung, di satu sisi ia ingin sekali mencurahkan isi hatinya pada eyangnya. Mengambil sedikit hati wanita paruh baya itu bukanlah kesalahan, siapa yang tahu jika eyangnya malah sudah melupakan kejadian masa lalunya yang berkaitan dengan Efra?
Tapi itu hanya sebatas kemungkinan saja, bisa jadi malah eyangnya kini masih sangat membenci pria itu. Dan jika sudah begini, Anaya tidak bisa berbuat banyak.
"Eyang masih ingat gak sama pacarnya Kak Annara?" Ujar Anaya langsung pada intinya. Ia sedikit malas untuk berbasa-basi, apalagi itu sama eyangnya, moodnya sedang dalam masa buruk.
Eyangnya mengerutkan dahinya seperti tengah berfikir, hal itu membuat jantung Anaya berdetak tidak karuan memikirkan kemungkinan buruk, "Maksudmu si Arsen, Nduk?" Tanyanya dengan raut tidak suka. "Kenapa dengan anak itu?" Sambungnya judes.
Setau Anaya nama kekasih kakaknya bernama Efra, kenapa eyangnya memanggil Arsen?
"Arsen, Yang? bukannya namanya itu Efra, ya?" Sahut Anaya mengerutkan keningnya polos.
Eyangnya mendengus sinis, "Lha, sama aja nduk, dua nama tapi satu orang." Komentarnya masih bernada sinis.
Dua nama masih satu orang, jadi nama lengkap Efra itu apa? Setaunya hanya Efraim Aydan saja... tidak ada nama Arsen-Arsennya. Oke lupakan, masih ada yang lebih penting daripada nama lengkap Efra.
"Oh, gitu. Eyang masih benci banget sama Arsen, ya?" Tanya Anaya pura-pura ingin tahu, sekali lagi Anaya ingin mengorek informasi tentang seberapa dalam rasa ketidaksukaan eyangnya pada Efra. Bagaimana tanggapannya jika dia kembali menggali masa lalu Kakaknya yang sudah terkubur lama.
"Benci sih tidak, hanya kesal saja."
Anaya pura-pura mendengus malas, "Nggak ada bedanya Eyang, benci sama kesal itu... masih sodaraan." Ujarnya sedikit melucu. Tapi eyangnya tidak menanggapi ucapannya.
"Kamu kenapa tiba-tiba nanyain Arsen, Nduk? Ada apa?" Tanya eyangnya sambil menatap Anaya curiga. "Kamu ketemu sama dia?" Kata eyangnya menatapnya menyelidik tidak melepaskan sedetikpun pandangan matanya pada Anaya.
Kalau sudah begini, apa Anaya harus berbicara jujur saja pada eyangnya jika dia sudah bukan lagi bertemu dengannya tapi dia sudah masuk dalam taraf jatuh cinta. Ugh, apa yang akan dikatakan eyangnya nanti bila mendengar cucunya jatuh cinta pada orang itu? Apa eyangnya akan marah-marah, atau lebih buruknya lagi eyangnya akan berubah menjadi monster harimau berbulu landak dan siap memangsa buruannya seperti di film-film yang suka ia tonton.
Oh astaga Anaya, back to eart! sadarlah... kembali ke masalah utama!
Baiklah, jika mengurut kembali dari awal pembicaraannya bersama eyangnya tadi, sepertinya hipotesisnya kali ini terlalu berlebihan. Anaya masih ingat betul bagaimana ekspresi eyangnya saat di tanya soal Efra, beliau tidak langsung mengamuk dan melempar sesuatu seperti biasanya jika ada yang berani menanyakan soal masa lalu Annara.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
Literatura FemininaWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
