"...Aku, siapanya kamu?"
"Menurutmu kita ini apa, Anaya?"
"Tidak tahu. Dan menurutku kita ini rumit."
"Saya tidak menganggap antara saya dengan kamu ini rumit. Because it looks like you've managed to make my mind go crazy."
"Hahaha ... kamu bercanda."
"Look at me. Apa saya terlihat sedang bercanda padamu?" Kata pria itu terlihat serius saat mengucapkan kata-katanya dan memandang mata Anaya dalam-dalam.
"A-aku..."
Tiba-tiba Anaya terbangun dari tidur nyenyaknya. Hal pertama yang ia ingat adalah percakapan terakhir dirinya dengan pria yang kini tengah tertidur lelap sambil memeluk tubuh mungilnya dengan sebelah tangannya yang bebas dari belakang. Tak sadar Anaya meringis sendiri membayangkan betapa sakitnya tangan pria itu yang harus di gips.
Wajahnya kontan bersemu merah lalu ia memejamkan matanya untuk sesaat. Ah mungkin ini hanya mimpi, gumamnya. Saat Anaya kembali membuka matanya, sapaan lembut dari Efra seakan mengejutkanya. "Pagi An..." gumam Efra parau khas suara orang baru bangun tidur.
Anaya mengerjapkan matanya gugup, "Hi, selamat pagi juga... Fra," katanya berusaha bangkit dari tidurannya. Tapi Efra menahannya
"Mau kemana?" tanyanya ingin tau.
"A-aku... "
"Kenapa?"
"Ng... aku mau ke kamar mandi sebentar." Kilahnya sedikit gugup. Terlihat dari gerak-gerik Anaya yang sedikit canggung.
Efra menaikan sebelah alisnya tidak yakin tapi tak urung melepaskan pelukannya. "Aku hanya ingin ke kamar mandi. Kenapa? Kau juga mau ikut?" Dumel Anaya dengan ekspresi kesal yang di mata Efra malah terlihat menggemaskan.
"Boleh."
"Apa dokter Adam sudah memperbolehkanmu turun dari tempat tidur?" Tanya Anaya tidak yakin. Pasalnya beberapa kali dia bertemu dengan dokter Adam, beliau masih belum mengizinkan Efra untuk turun dari tempat tidurnya. Dan jika Efra berkeras untuk turun maka kondisinya akan semakin tambah lama untuk segera sembuh.
Anak buah Raykan benar-benar sangat keterlaluan. Bisa-bisanya mereka membawa senjata tumpul saat menghajar seseorang. Anaya masih ingat betul pada sosok pria berkepala botak yang menghajar Efra habis-habisan. Dia lah biang kerok perkelahian itu bisa terjadi.
Andai saja Anaya bisa ilmu bela diri, mungkin orang pertama yang akan ia habisi adalah si botak keparat itu.
Diam-diam rupanya si botak membawa pisau lipat yang sengaja ia simpan di balik celana jinsnya. Sialan! Mengingat itu malah membuat amarahnya kembali bergejolak.
"Tolong selamatkan dia Rey? Apapapun akan aku lakukan asalkan kau mau menolongnya..."
Reykan malah tertawa dengan sombongnya, pandangannya seakan tidak peduli dengan apa yang dia lihat di depannya. "Maaf Nay itu bukan urusanku." Katanya dengan datar. "Kalau dia mati sekalipun aku sama sekali tidak peduli."ujarnya tak acuh. Kemudian Reykan mengangkat tangan kanannya ke udara seperti mengkode agar anak buahnya segera angkat kaki dari sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTANGLED HEARTS
Chick-LitWarning! About content 21+ Lelah karena terus-terusan dijodohkan oleh eyangnya, Anaya memilih untuk pergi dari rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan sang eyang. Semua fasilitas yang Anaya punya ter...
