29. What the hell?

3.1K 187 11
                                        

Haii sayang-sayangku... maafkan aku yang ngilang sampai seminggu lebih. Haha...*kedipinmata😊
Gara-gara game HD aku jadi lupa sama wattpad..Hihii...

Heii!! itu bukan salahku. Salahkan saja suamikuh yang nyebelinnya gak ketulungan! *boxing😈... gara2 dia download^in game di hpku,, aku sampe gk ada napsu buka watty lagi... errr...😩

Ini aku paksa buat nulis,, semoga masih ada yang baca...

Enjoy!
______

"Mau kemana?"

"Aku mau kerja, Fra."

Efra melirik jam besar yang menempel di dinding ruang tamunya. Masih jam 06.25 menit. Terlalu pagi untuk beraktifitas gumamnya dalam hati. "Kalau saya tidak mengijinkan kamu untuk pergi, lalu kamu mau apa?" tantangnya sambil menyeringai.

Anaya melotot dan menghembuskan napasnya, lelah. "Bodo! Siapa lo ngelarang-ngelarang aku gak boleh pergi. Dengar ya Pak Efraim yang terhormat, aku bukan pacar kamu, bukan temen dekat kamu, bukan juga keluarga kamu! Kita gak kenal. So, biarin aku pergi dari sini."

Efra mendengus sinis. Lalu ia balas berkata, "Gadis keras kepala. Coba saja kalau kau bisa." jawabnya berubah dingin.

Entah apa masalah Efra pada Anaya, gadis itu benar-benar sangat pusing dibuatnya. Menculiknya tanpa sebab dan kini dia tidak bisa lari kemana-mana. Ingin sekali Anaya berteriak di depan wajah sok tampannya itu, memakinya lalu menonjok wajahnya tanpa ampun.

Tapi... saat melihat pria angkuh itu sedang menatapnya lekat-lekat seakan ingin mengulitinya hidup-hidup, seketika niat untuk meneriakinya musnah dengan sendirinya.

Ampun deh nyalinya yang segede krupuk.

Oh, Oke. Mungkin itu dulu, tapi sekarang Anaya sudah tidak tahan lagi dengan sikap aneh Efra kepadanya. Menurutnya ini sudah sangat keterlaluan. Apa-apaan sih si Efra ini, mengurungnya seperti seorang tahanan mafia saja. Padahal Anaya sama sekali tidak membuat kesalahan.

Sikap semena-mena Efra membuat darahnya mendidih saja. Sialan sekali kau Efra! batin gadis itu geram.

Dia harus segera mengakhirinya sekarang juga atau hidupnya akan menggantung tanpa kepastian bersama seorang pria tampan tapi sedikit aneh di depannya ini

Kali ini kesabaran Anaya sudah habis. Sudah cukup dia di permainkan oleh Efra. Dengan percaya diri, Anaya melangkah mendekati Efra yang sedang bersandar di pintu kamarnya. Posisi yang sangat menggiurkan andai saja Anaya sedang tidak dalam mood buruk.

Menatap tajam pria itu sambil mengepalkan kedua tangannya geram, "Sebenarnya apa sih masalahmu sama aku, Fra? aku muak tau gak sama sikap semena-mena kamu itu! aku gak kenal sama kamu dan kamu seenaknya menculik aku sampai aku gak bisa kemana-mana!

"Kamu sekap aku di sini udah hampir 2 hari, kamu pikir aku gak ada kerjaan di luar apa, Fra?! asal kamu tau aja, aku nyari kerjaan di luar tuh susahnya setengah mati dan sekali aku punya pekerjaan kamu malah mempermainkan aku. Gimana kalau aku dipecat sama bos aku setelah ini? kamu gak ada mikir aku ke sana kan?

"Aku sebel sama kamu, Fra! bener-bener sebeeell!!" keluhnya yang tiba-tiba merasa dirinya sudah tidak mempunyai harga diri lagi di depan Efra. Gara-gara Efra, mungkin setelah ini dia harus dengan berat hati melambaikan tangannya pada pekerjaannya yang baru.

"Anaya..."

"Diam! aku malas mendengar omong kosongmu lagi!"

"An..."

"Aku bilang diam, Fra! kamu gak denger ya?!"

Efra yang ingin mengatakan sesuatu kepada Anaya kembali di urungkannya. Sepertinya Anaya benar-benar sangat marah padanya. Apa sikapnya kali ini sudah sangat keterlaluan pada gadis itu?

Efra hanya ingin melindungi Anaya saja, apa itu salah? di lain sisi Efra sangat kuatir jika masa lalunya bersama Anarra yang bisa jadi telah di ketahui oleh Anaya. Dan nasib buruknya, putri semata wayangnya yang sangat bergantung pada Anaya akan sangat menderita jika gadis itu menjauhi satu-satunya permatanya.

Rupanya ancaman seorang Reykan Bachtiar sungguh tidak main-main. Reykan pernah mengancam Efra, jika pria itu tidak bisa kembali dengan sahabatnya yang tidak lain adalah Fiandra, Reykan akan membuat Anaya dan Felicia menderita karenanya.

Dasar psikopat.

Ternyata suatu hari setelah ancaman itu di ucapakan, Reykan pernah mengirim beberapa anak buahnya berencana ingin menculik Felicia di sekolahnya. Tapi untungnya rencana itu sudah lebih dulu diketahui oleh anak buah Efra. Sehingga rencana itu berhasil digagalkan olehnya.

Dan yang terakhir gadis itu yang akan menjadi target kegilaan Reykan. Patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan, membuat Reykan gelap mata sehingga mampu menghalalkan berbagai cara untuk menyingkirkan orang yang dianggapnya telah merebut miliknya.

Dan malam itu, salah satu orang kepercayaan Efra memberitahunya bahwa Reykan Bachtiar berencana ingin membunuh Anaya di acara penggalangan dana itu. Awalnya Efra tidak mempercayainya, berfikir untuk apa gadis itu berada di sana.

Tapi setelah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Anaya benar-benar berada di sana. Efra langsung bergegas menculik Anaya saat itu juga. Memang sebelumnya terjadi hal yang tidak menyenangkan untuk lelaki itu, dengan bodohnya ia malah meminum minuman yang di berikan oleh Fiandra. Karena mabuk, dengan setengah tidak sadar Efra mau saja mengikuti semua kemauan wanita gila itu.

Untunglah beberapa menit kemudian kesadarannya cepat kembali. Dan Anaya lah yang membuatnya tersadar.

***

Dilain tempat...

Prana yang hampir frustasi karena menghilangnya Anaya yang secara tiba-tiba, semakin tambah frustasi karena selama kurang lebih 2 hari ini gadis itu sama sekali tidak ada kabarnya.

"Bodoh!" makinya untuk yang kesekian kalinya pada anak buahnya yang baru saja melapor padanya kalau Anaya masih belum juga ditemukan. "Cari dia sampai dapat! atau kalian sendiri yang akan aku bunuh!" perintahnya.

Lalu panggilan dimatikannya dengan kasar. Ditaruhnya sembarang ponselnya di atas westafel. Tiba-tiba ditinjunya kaca dinding kamar mandi yang ada di depannya sehingga dalam sekali tinjuan kepalan tangannya, kaca itu seketika hancur berkeping-keping jatuh ke lantai. Diabaikannya darah segar yang mengucur deras disela jari tangannya.

Matanya nyalang menatap bekas kaca yang di tinjunya tanpa berkedip, "Kamu kemana, Nay?" desahnya terdengar putus asa.

Disaat hatinya tengah mengembara entah kemana, ponsel yang ada di atas westafel bergetar tanda ada panggilan masuk.

"Boss, Nona Anaya sudah berhasil kami temukan..."

"Di mana dia?" potong Prana cepat terdengar tidak sabar. Hatinya sedikit lega mengetahui Anaya-nya telah di temukan.

"Salah satu anak buah saya mengatakan kalau Nona Anaya ternyata selama ini di sekap di salah satu apartement milik Tuan besar Efraim, boss."

"Maksudmu?" tanya Prana tidak mengerti. Kenapa tiba-tiba kakaknya jadi ikut campur. Ada apa ini?

"Ya boss, benar Nona Anaya sedang berada di sana..." dan lagi, panggilan seketika dimatikan secara sepihak oleh Prana.

Pria itu sudah tidak sabar ingin menanyakan langsung kepada kakak sulungnya. Kenapa tiba-tiba dia menculik Anaya-nya? kenapa juga kakaknya menyembunyikan masalah ini darinya. Di kepala Prana, banyak sekali tanda tanya besar yang menyuruhnya untuk segera menemui sang kakak.

"Mas Efra ... apalagi yang ingin kamu rencanakan, Mas?"

****

Jangan lupa tinggalin tanda bintangnya ya....i hope you like this part...see u next capt....☺

ENTANGLED HEARTSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang