BAB 34|Dua Sisi

22 3 0
                                        

Gilang dan Rangga sudah siap latihan Basket. Mereka juga sudah mengganti pakaiannya dengan baju basket. Bola basket pun sudah ada ditangan mereka. Sekarang, waktunya Gilang untuk mengatakan ke Abel kalau dirinya ada latihan basket mendadak.

Saat tengah berjalan menuju kelas Abel, Gilang telah berpas-pasan dengan gadis itu yang kebetulan sendirian karena kedua sahabatnya sudah pulang.

"Eh Gilang, pas banget gue mau ke kelas lo", ucap Abel yang menghentikan langkahnya bersamaan dengan Gilang. Cowok yang ada di hadapan Abel itu mengusap dahinya gusar.

"Em.. gini nih bel. Gue kebetulan banget ada latihan basket dan ini bener-bener mendadak banget bel. Kalo lo mau nungguin gue sih gapapa. Tapi, agak lamaan dikit sih. Gimana nih jadinya?", kata Gilang.

Tentu saja Abel kecewa. Namun, ia harus mengerti karena memang Gilang ada kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya. Jadi bagaimana lagi, Abel harus toleransi dengan jadwal Gilang.

"Oh iya gapapa kok. Gue langsung pulang aja deh lang, banyak juga kan taksi yang lewat sini", jawab Abel. Gilang langsung menunjukkan ekspresi khawatirnya.

"Beneran gapapa nih? Sorry banget ya bel", ucap Gilang lagi. Abel sedikit tertawa kecil untuk meyakinkan Gilang dirinya tidak apa.

"Gapapa lang, lagian gue juga udah gede. kalo gitu, gue duluan ya", Abel melambaikan tangannya seraya pergi. Gilang hanya bisa melihat punggung gadis itu sampai lama-lama tak terlihat lagi.

"Udah yok lang, kita langsung kumpul!", ajak Rangga. Gilang mengiyakan ajakan Rangga dan mereka berdua pergi meninggalkan tempat kejadian perkara tersebut.

***

Cuaca hari ini cukup mencemaskan. Pasalnya, langit berwarna kelabu. Mungkin hari ini akan turun hujan. Sedari tadi Abel menunggu di halte bis depan sekolah, tidak ada juga transportasi umum atau taksi yang lewat. Sebenarnya bisa saja jika ia memesan lewat online, tapi bagaimana bisa jika handphonenya tidak aktif. Andai saja tadi Gilang tidak ada latihan basket mendadak, maka Abel mungkin sudah sampai tujuan sekarang.

Abel pun terduduk lesu sambil berdoa agar ada taksi atau apapun yang lewat untuk mengantarkannya pulang. Abel lapar, ia butuh asupan untuk siang menjelang sore seperti ini. Apalagi, tadi dirinya tak makan siang. Maagnya bisa saja kambuh kapanpun.

"Belum pulang?", suara seseorang itu membuat Abel mengangkat pandangannya.

"Ngapain lo disini?", jawab Abel dengan nada datar. Sekarang, ia tidak berminat untuk berdebat atau pun beradu kekuatan. Dirinya sudah benar-benar lemas.

"Elah nih cewek judes banget. Lo lagi nungguin bis?", seseorang itu adalah Bryan. Abel mengangguk. Bryan mematikan mesin motornya dan turun menghampiri gadis yang lemas itu.

"Gue tungguin deh sampe bisnya dateng", Bryan pun ikut duduk di samping Abel. Mendengar itu, Abel tak terima. Ia tidak ingin menunggu bersama cowok 'sombong' seperti Bryan.

"Ih ngapain lo ngikut juga sih Bryan! Udah, pulang sana!", Abel menggeser posisi duduknya agar tidak berdekatan dengan Bryan.

"Yaudah gue pulang. Tunggu aja tuh bis sampe ada", ucap Bryan sinis seraya memasang helmnya kembali. Cowok itu menyalakan mesin motor sportnya. Lalu, ia menjalankan motornya hingga tak terlihat lagi oleh Abel.

Kata-kata Bryan barusan terngiang dipikiran Abel. Sepertinya bis atau taksi memang tidak lewat. Sudah 15 menit ia menunggu disana. Namun, hasilnya nihil.

Hospital (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang