Kertas horror itu telah diletakkan dimana semestinya. Semuanya bisa lega sakarang. Tapi masih ada satu 'momok' yang membayangi mereka lagi, yaitu remidi. Besok adalah penentuan siapa yang akan mengikuti remidi. Dan semuanya hanya bisa berdoa hasil mereka memuaskan.
Bu Risty keluar kelas dengan membawa hasil usaha murid-muridnya tadi. Semua murid menghembuskan napas leganya karena ini sudah waktunya istirahat kedua. Tetapi tidak semua murid senang, ada tiga orang yang bersedih saat ini. Abel, Bella, dan Rahel tengah berpelukan melepas kepergian salah satu dari mereka.
"Makasih udah jadi sahabat yang paling baik dihidup gue guys.", ujar Rahel yang meneteskan derasnya air mata dipipi. Mereka bertiga menangis terisak. Perlahan mereka pun melepaskan pelukannya.
"Hel jangan pergiii!", rengek Bella. Rahel menggeleng seraya tersenyum getir. Bahkan untuk mengatakan sesuatu bibirnya bergetar.
"Nggak bisa bel, ini udah konsekuensinya ngejar cita-cita", sangkal Rahel.
"Gue harus pergi sekarang takut ketinggalan pesawat", tambah Rahel seraya memakai tas ranselnya di punggung.
"Ati-ati hel! Ja-jangan lupain kita. Sering-sering telpon sa-sama video call kita ya hel", sahut Abel yang terputus-putus karena isakan tangisnya. Rahel tersenyum sambil melambaikan tangannya dan pergi.
Tiba-tiba saja anak-anak yang ada di dalam kelas berteriak,
"Good luck Rahel!". Kata-kata itu membuat hati Rahel luluh.
Gadis itu memaksakan senyumannya walaupun air matanya tetap tidak bisa berhenti. Ia merasa beruntung bisa kenal dan berteman dengan mereka semua. Semoga Rahel dapat bertemu mereka kembali secepat mungkin. Rahel mempercepat langkahnya. Dan punggungnya sudah tak terlihat lagi. Rahel sudah benar-benar pergi.
"Rahel udah beneran pergi?", ucap Abel seperti orang yang siuman sehabis pingsan. Bella mengusap sisa air matanya seraya menganggukkan kepala.
"Semoga cita-citanya beneran kesampaian", gumam Abel seraya pergi menuju kamar mandi, ia berniat mencuci mukanya yang sudah tak berbentuk karena terbasuh air mata.
Hanya ada suara air dari keran yang menyala. Ia membasuh dan sedikit menggosok-gosok mukanya. Gadis itu juga merapikan rambutnya yang sudah tidak beraturan. Setelah merasa sudah sedikit rapi, ia keluar dari kamar mandi.
Abel berniat menuju kelas. Dirinya sudah tidak berminat atau tertarik melakukan kegiatan apapun. Saat ini ia hanya ingin tidur dan bermimpi indah setelah kejadian menyedihkan ini. Ia ingin merasakan hal yang indah walaupun hanya dimimpi.
"Hei!", cegah seseorang yang tubuhnya menghalangi jalan Abel. Terpaksa Abel menaikkan pandangannya ke arah wajah si penghalang jalan itu. Ia berdecih malas.
"Ah elo! Awas gue mau ke kelas", Abel berusaha berjalan lewat sisi kanan, namun dihalangi. Abel juga berusaha lewat sisi kiri tetap saja dihalangi.
"Gue pingin tanya sesuatu sama lo", keluh Gilang. Abel menatap manik mata Gilang jengah.
"Emang harus sekarang ya? Minggir mood gue lagi ga bagus!", sebelum Abel marah besar dan menghancurkan semua rencana Gilang, ia akhirnya memberi jalan kepada gadis yang sedang sedikit kacau itu. Abel pun perlahan menghilang dari pandangan Gilang. Dengan berat hati Gilang kembali ke kelasnya dengan hasil nol dari rencananya yang sudah tersusun rapi.
Dengan langkah gontainya, Gilang kembali ke kelas sebelum bel masuk berbunyi.
Suasana di kelas Abel kembali berjalan seperti biasa. Abel yang masuk pun duduk di bangkunya dan membenamkan kepalanya di antara lipatan tangan yang diletakkannya di atas meja. Tak terasa ia tertidur pulas. Bella yang mengetahui itu tidak tega membangunkan sahabatnya.
Bella saat ini tengah memainkan jarinya di atas layar handphone. Ia sekarang sedang memainkan game tap tap dash. Ia memang hobi bermain game. Namun, itu hanya berlaku ketika ia sedang banyak pikiran. Sesekali ia akan menjerit sedikit jika kalah.
"Eh pinjem bolpoin", suara berat itu menghancurkan perhatian Bella pada game. Ia mendongak melihat siapakah dia. Ternyata si dingin Bryan menghampiri Bella. Tangan Bella melepaskan genggaman dari handphonenya. Ia mencari kotak pensilnya yang ada di dalam tas. Diberinya bolpoin berwarna pink peach itu. Bryan mengerutkan dahinya geli.
"Ga ada warna lain?", Bryan tidak terlalu menunjukkan ekspresi ilfilnya karena ia takut akan menyakiti perasaan Bella. Ya setidaknya Bryan sadar perasaan perempuan itu halus.
"Bolpoin lain sih ada, tapi warnanya ya gitu semua.", jawab Bella sambil menggaruk tengkuknya. Dirinya tidak ingin terlihat 'kikuk' di hadapan Bryan. Dengan berat hati diraihnya bolpoin itu dari tangan Bella.
"Yaudah gue pinjem", kata Bryan, setelah itu kembalilah dia di bangkunya.
Bella terdiam, ia malah memikirkan apakah sikapnya pada Bryan tadi tidak memalukan. Moodnya kini sudah sedikit membaik jadi game sudah tak dibutuhkannya. Sekarang yang dibutuhkannya adalah media untuk meluapkan perasaannya saat ini. Dan media itu adalah Abel dan Rahel. Ah lupa kalau Rahel sudah pergi.
Diguncangkan pelan tubuh Abel. Bella berniat membangunkannya, ia sudah tidak tahan akan curhatannya. Abel senantiasa nyenyak dalam tidurnya disiang bolong.
"Bel ada guru, ada guru!", tipu muslihat Bella berhasil membangunkan Abel dari tidur nyenyaknya. Menyadari respon Abel yang begitu siaga, semua siswa yang melihat itu tertawa. Abel sangat terlihat kalap, ia juga berantakan. Muka bantalnya masih melekat. Abel yang menyadari dirinya sudah dibodohi, mencubit pipi Bella sekencang-kencangnya.
"Aww!", rintih Bella sambil berusaha melepaskan cubitan Abel yang semakin lama semakin menguat.
"Sakit bego!", maki Bella. Mungkin Abel tidak tega, sehingga ia melepaskan cubitannya. Dirinya mendengus sebal seraya membenarkan rambut yang acak-acakan.
"Gausa rese jadi orang!", maki Abel balik karena ia merasa menjadi korban, tetapi malah dimaki.
"Lo juga keenakan tidurnya. Lo tau kan bentar lagi masuk?!", debat Abel usai mengelus-elus pipinya. Abel terkekeh kecil.
"Setidaknya kalo gue tutup mata, rasanya masalah itu bakal ilang sekejap.", terang Abel dengan mata berbinarnya. Bella mncebikkan bibirnya.
"Lo gila ya?", timpal Bella.
"Lo aja yang ga tau rasanya. Hidup lo flat sih. Sirik bilang aja", tindas Abel seraya menatap manik mata Bella lekat. Bella mengalah, ia tidak ingin memperburuk perasaannya saat ini. Cukup bercerita ke Abel dan selesai.
"Gue mau cerita bel", rengek Bella. Akhirnya niat dan tujuan Bella tersampaikan.
"Cepet cerita, gue dengerin disini", ucap Abel malas. Karena bisa ditebak apa cerita Bella kali ini. Gadis itu menenggelamkan kembali kepalanya di antara lipatan tangannya. Bella langsung berusaha memisahkan lipatan tangan itu. Berhasil, Bella berhasil membangunkan membuat Abel tersadar kembali.
"Jangan disini kali bel! Ada anaknya, entar kalo dia denger bahaya.", Abel mendengus jengah menghadapi tingkah gadis di hadapannya. Kini ia mengalah, diturutinya permintaan Bella.
Kedua cewek itu berjalan menuju luar kelas. Tiba-tiba sesosok perempuan paruh baya mencegahnya di depan pintu. Itu bu Bety. Guru super killer yang pernah menghukum Abel keluar kelas.
"Mau kemana kalian?! Nggak tau ini jam berapa?!", amuk wanita itu. Abel dan Bella mengangguk dan meminta maaf. Lalu, mereka kembali ke bangku masing-masing. Curhat pun gagal.
***
Perasaan perempuan itu halus.
-Hospital Love Story-
KAMU SEDANG MEMBACA
Hospital (Completed)
Teen FictionMungkin pertemuan ini sangat sederhana. Namun, siapa sangka lada akhirnya kedua insan ini harus terjerat perasaan yang keduanya tidak bisa bayangkan.
