"Jadi lo sekolah di Singapura nih sekarang?", tanya Syiril setelah mendengar Gio bercerita. Gio mengangguk setuju. Langsung saja Syiril tersenyum dan berusaha mengingat pernyataan Gio saat kelas 6 sd dulu.
"Lo masih inget nggak?", Gio mengerutkan dahinya. Syiril mengepalkan tangannya berusaha memantapkan keyakinannya untuk mengingat masa lampau.
"Inget apaan?", Gio yang merasa khawatir melihat ekspresi gadis yang ada di depannya itu pun akhirnya bertanya. Syiril takut. Apakah Gio akan menerima perkataannya tentang masa lalunya?
"Gue tau kok lo dulu..", perkataan itu terputus ketika melihat Gio menatap tajam dirinya. Gio menaikkan satu alisnya menandakan Syiril harus melanjutkan kalimatnya. "Suka sama gue". Akhirnya lega karena Syiril telah mengungkapnya. Namun, itu hanyalah kalimat pembuka. Masih ada argumen yang tertahan dihati Syiril.
"Jelas lah lo tau, gue kan nembak lo. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?", tanya Gio yang begitu mencekam hati Syiril. Rasa sesak didadanya membuat gadis itu terdiam, membeku.
"G-gue mau minta maaf, udah buat lo kecewa", jawab Syiril seraya menunduk. Gio langsung teringat bagaimana ketika Syiril menggantungkan perasaannya sampai sekarang. Ya walaupun banyak orang yang bilang ini 'cinta monyet' tetapi entah kenapa rasa ini tidak bisa berpindah ke lain tempat seperti 'monyet'.
"Udah ah kenapa sih masih dibahas? Lagian itu lama banget loh. Gue aja hampir lupa", Gio terkekeh. Bohong. Itu semua bohong. Gio sama sekali belum lupa dengan semua kejadian itu secara detail. Syiril membalas dengan cengiran kuda sambil meneguk ice coffee miliknya.
"Ya gue kira lo punya dendam sama gue. Dan satu hal lagi, lo harus tau alasan gue ngegantungin lo sampe sekarang", pembicaraan mereka kini makin jauh. Sepertinya Syiril akan mengungkapkan semua perasaannya pada waktu itu. Atau bisa saja perasaannya yang sekarang. Namun, Gio harus tetap terlihat berwibawa dan dingin di depan Syiril. Gio pun mengangguk, menandakan Syiril harus segera memulai penjelasannya.
"Sebenernya, dari dulu gue juga suka sama lo Yo. Tapi, lo nembak gue diwaktu yang ga pas. Lo nembak gue waktu mendekati UN, jadi gue ga mau pacaran dulu. Padahal, gue sebenernya suka sama lo.", Gio nampaknya masih kebingungan.
"Terus kenapa lo ga nolak gue aja? Kenapa harus lo gantungin guenya?", tanya Gio dengan tatapan menyelidik. Syiril menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan. Ia mulai menyusun kata-katanya kembali.
"Gue ga mau nolak lo karena gue suka sama lo. Kalo gue nolak lo, gue ga bisa nerimanya. Tapi, kalo gue belum kasih jawaban artinya gue masih bisa nerima lo karena gue emang nggak nolak lo" oke ini rumit. Tapi, ada benarnya alasan Syiril. Gio tersenyum. Namun bukan senyum bahagia, tetapi senyum sinis.
"Lo pikir bisa seenaknya gitu aja mainin perasaan gue? Lo kira gue nungguin lo berapa tahun? Dan apa lo ga mikir apa perasaan gue masih tetep sama? Lo udah telat ril", sahut Gio yang setiap katanya menusuk ke relung hati Syiril yang terdalam. Sangat terlihat jelas ekspresi kecewa dari Gio. Mata Syiril berkaca-kaca, gadis itu berusaha menahan air matanya yang terbendung seketika saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Gio.
"G-gue waktu itu udah mau jawab waktu mau masuk SMP Yo, tapi pas gue mau ke rumah lo katanya lo udah berangkat ke bandara dan mau sekolah ke luar negeri. Dan saat itu gue juga sadar dan ngerasa bersalah banget sama lo Yo", keadaan begitu mencekam saat ini bagi mereka berdua. Tampaknya perkataan mereka sendiri akan menyayat hati masing-masing. Gio menghela nafasnya perlahan, ia tidak ingin membuat suasana semakin panas. Gio menaikkan dagu Syiril sehingga mereka bertatapan.
"Maafin gue ya ril. Jujur gue belum sepenuhnya move on dari lo. Tapi gimana lagi, gue udah terlanjur sakit. Dan ga bakal ngerasain kebahagiaan juga kalo harus sama-sama. Itu juga salah gue waktu itu udah terlalu berharap lebih sama lo sampai akhirnya gue tau kalo takdir ga berpihak sama kita", ujar Gio. Syiril yang mendengar dan memahaminya dengan sangat jelas, hanya mengangguk sambil menunjukkan senyum terpaksa. Syiril harus berusaha menerima kenyataan yang pahit.
"Iya gue paham. Lagian kita masih bisa temenan kan?", tanya Syiril yang terlihat getir. Gio pun merasa sangat bersalah telah mengucapkan itu, tapi memang harus seperti ini untuk menyudahi kesedihan Syiril yang akan terus berharap jika Gio tidak menyudahinya.
"Iya, gue harap masih bisa ketemu lo lagi dilain waktu.", balas Gio.
🔘🔘🔘
Pizza yang dipesan oleh Abel, Rahel, dan Bella itu pun sampai ke meja mereka. Memang sengaja Gilang tidak memesan karena ia mengikuti pilihan cewek-cewek rempong itu saja. Asap yang mengepul dari pizza itu terlihat begitu menarik. Tandanya makanan itu memang baru saja matang. Mereka mengambil bagiannya masing-masing dan mulai menyantapnya dengan khitmad
"Entar lo yang bayar ya lang!", ujar Bella disela-sela kegiatan mengunyahnya. Gilang mendengus kesal. Terlihat sekali ekspresi memelas Gilang yang tidak bisa membuat Bella menahan tawanya. Tawa Bella meledak sampai terdengar di seluruh penjuru. Semua pengunjung kedai pizza itu pun menatap ke arah Bella. Gadis itu nyengir yang sebenarnya meminta maaf karena telah mengganggu.
"Mangkannya gausa iseng deh.", Abel sebenarnya hanya malu melihat tingkah Bella yang begitu kekanakan. Bella yang dimarahi itupun hanya menyeringai puas walaupun sebenarnya memalukan. Rahel terkekeh geli melihat tingkah Bella yang tak biasa.
"Jadi, udah sejauh apa nih hubungan kalian?", tanya Rahel tiba-tiba. Gilang mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa semuanya mengira bahwa Gilang dan Abel ada hubungan. Padahal, hanya ada perasaan yang bisa dibilang bertepuk sebelah tangan.
"Apaan sih hel. Hubungan apaan coba?!", balas Abel sinis. Rahel pun hanya dapat tersenyum simpul.
"Bel, gue mau ngobrol sama lo. Tapi, berdua aja ya", ajak Rahel sambil berdiri dan merapikan pakaiannya. Abel yang akan diajak bicara oleh Rahel itu juga tidak mengetahui apa yang akan dibicarakan sahabatnya itu dengannya.
"Duh apaan sih ini kenapa ngobrolnya sama Abel doang. Gue ga diajak?!", Bella mendengus kesal. Sepertinya dia cemburu. Rahel memutar bola matanya malas.
"Lo kan udah gue kasih tau pe'a!", Rahel mengumpat. Bella hanya nyengir saja. Abel pun tidak ingin beranjak dari zona nyamannya sekarang.
"Duh ngomong langsung aja kali hel", Rahel langsung melirik Gilang. Gilang sudah merasa kehadirannya menghambat Rahel yang ingin bercerita. Gilang cukup peka ternyata, dirinya langsung berdiri.
"Oke gue paham kok. Udah ngobrol disini aja, gue mau pergi bentar.", Rahel yang merasa tidak enak, meminta maaf kepada Gilang.
"Gapapa nih lang? sorry ya jadi ngerepotin", Gilang pun hanya menjawab dengan anggukan dan langsung bergegas pergi.
Abel dan Rahel kembali duduk. Melihat dari tatapan Rahel kepada Abel, sepertinya akan bebicara mengenai hal yang serius. Abel jadi bingung sendiri.
***
" Jujur gue belum sepenuhnya move on dari lo. Tapi gimana lagi, gue udah terlanjur sakit."
-Gio
KAMU SEDANG MEMBACA
Hospital (Completed)
Teen FictionMungkin pertemuan ini sangat sederhana. Namun, siapa sangka lada akhirnya kedua insan ini harus terjerat perasaan yang keduanya tidak bisa bayangkan.
