Menit demi menit, detik demi detik telah berlalu. Hanya tinggal menunggu bel berdering agar bisa beristirahat dan mengisi asupan untuk tubuh. Dan beberapa saat lagi, Rahel harus berangkat ke bandara. Ketiga sahabat itu kini berada di lapangan basket indoor sekolah. Mereka hanya ingin mengingat kenangan saat dulu. Tapi, sekarang rasanya berbeda. Mengingat Rahel akan pergi.
"Gue pasti bakal kangen banget sama lo", kata Bella memecahkan lamunan mereka semua. Rahel tersenyum.
"Apalagi gue, pasti bakal kangen banget sama kalian", jawab Rahel sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Abel menatap Rahel dengan matanya yang berkaca-kaca. Mungkin sedikit lagi air mata itu akan jatuh.
"Lo jaga kesehatan ya disana. Jangan lupa kabari kita", ujar Abel sambil memaksakan senyumannya. Rahel mengangguk sambil tersenyum juga. Mungkin hanya senyuman lah yang menutupi perasaan mereka saat ini. Senyuman adalah hal yang terbaik untuk menutupi kesedihan. Tetapi, mata memang tidak bisa berbohong. Perpisahan pun telah dimulai.
Mereka bertiga hanya diam sedaritadi. Mereka hanya akan membuka suara seperlunya. Mereka juga tidak ingin tertawa lagi, karena itu akan semakin membuat perpisahan semakin sulit karena harus melepaskan kenangan-kenangan itu. Sampai akhirnya, bel masuk berbunyi.
Hati mereka bertiga rasanya tertutup awan mendung. Tak ada sedikit pun celah untuk matahari menunjukkan sinarnya. Semuanya dapat terlihat dari mata mereka. Perlu ditegaskan bahwa mata tidak bisa berbohong.
Bella menghentikan langkahnya seketika, membuat Abel dan Rahel terkejut sesaat.
"B-Bryan", tangan Bella menununjuk cowok yang berjalan sambil membawa jus jambunya di hadapan mereka.
Namun, Bella kali ini benar-benar berlebihan. Masa hanya Bryan terlihat di depannya dia sampai 'gagu' seperti itu. Memang tidak bisa disalahkan, karena reaksi setiap orang yang jatuh cinta itu berbeda.
"Ya ampun Bella gue kira apaan", celetuk Abel seraya menepuk jidatnya, pusing menghadapi sahabatnya yang satu ini.
Rahel terkekeh kecil. Lalu, ia menghapiri Bella dan menarik pergelangan tangannya agar mereka bisa melanjutkan langkahnya. Bella menurut saja karena bayang-bayang Bryan telah pergi menuju kelas.
Tak terasa, langkah mereka terhenti di dalam kelas. Semua murid di kelas duduk rapi dan tenang di bangkunya masing-masing. Sambil menunggu guru mata pelajaran selanjutnya, beberapa dari mereka mengobrol kecil. Ada juga yang memilih mendengarkan musik, seperti Bryan.
Mungkin menurut Bryan, musik sudah bagian dari nyawanya. Musik sudah mengalir dinadinya. Mungkin hidupnya akan hampa jika tidak mendengar musik sama sekali. Itulah kesimpulan yang dapat diambil Bella yang sedari menatap Bryan menyelidik sambil sedikit berpikir. Dan terkadang imajinasi Bella melayang-layang sampai ia sesekali berpikir ingin menjadi musik bagi Bryan.
Semua murid langsung terdiam karena bu Risty datang sambil membawa map yang terdapat banyak lembaran kertas di dalamnya. Itu bukanlah kertas ajaib, namun kertas itu bisa membuat jantung semua murid berdebar. Dan bahayanya hari ini ulangan harian matematika. Itulah alasan kenapa kertas itu begitu ditakuti.
Berbeda dengan kelas Abel, kali ini kelas Gilang sedang menghadapi mata pelajaran bahasa inggris. Mata pelajaran inilah yang ditunggu-tunggu, karena gurunya selalu izin keluar kelas. Namun, tetap saja tugas yang diberikan tidak sedikit. Jadi anggap saja impas walaupun terkadang sangat mengesalkan. Karena gurunya hanya memberi tugas tanpa menerangkan.
Tugas kali ini hanyalah mengerjakan soal yang ada dibuku paket. Ada beberapa murid yang mengerjakannya. Namun ada juga yang mengabaikannya, salah satunya Gilang. Walaupun melihat teman sebangkunya sedang mengerjakan, entah kenapa Gilang tidak tertarik melakukannya.
"Ga ngerjain lang? Ngelamun aja sih!", fokus Rangga teralihkan melihat Gilang yang melamun sedari tadi.
"Udah kerjain aja, gue mau keluar", jawab Gilang seraya menarik kursinya ke belakang agar ia bisa keluar. Rangga menautkan alisnya menjadi satu garis.
"Mau kemana lo?", Gilang hanya menjawabnya dengan senyuman menggelikan.
"Jijik ih!", cibir Rangga sambil mencebikkan bibir bagian bawahnya. Gilang tertawa kecil sambil menjalankan kedua kakinya menuju ke luar kelas.
Gilang menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri memastikan ia aman dari pantauan guru. Merasa sudah aman, ia berjalan berniat menemui Abel. Gilang ingin memastikan cewek itu selamat, karena memang dirinya sama sekali tidak melihat batang hidung Abel.
Saat sudah terlihat kelas Abel dari jarak yang tidak dekat, Gilang bisa memastikan bahwa kelas itu sedang melaksanakan ulangan harian. Karena terlihat semua murid tertunduk lemas menatap kertas yang ada di atas meja. Baiklah Gilang hanya perlu menunggu ulangan itu tuntas.
Gilang pun duduk di kursi depan kelas Abel. Sesekali dirinya melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Dan sepertinya keberadaan Gilang telah terendus oleh bu Risty. Guru lumayan mematikan itu pun keluar dan mendapati Gilang.
"Ngapain kamu disini?!", Gilang tersentak lalu berdiri. Ia terkejut mendengar suara tegas bu Risty. Gilang gugup, mendadak ia kehabisan kata-kata.
"Anu.. itu bu, kebetulan saya lewat. Bah saya mau istirahat dulu disini capek soalnya bu", jawab Gilang. Bu Risty mengerutkan keningnya, sepertinya guru yang satu ini sulit percaya dengan muridnya. Abel yang sepertinya mendengar suara sayup-sayup Gilang berusaha mendongak ke jendela. Dan benar saja ia melihat cowok itu.
"Emangnya kamu habis ngapain sampe capek? Kelas kamu jam kosong?", tanya bu Risty menyelidik.
Gilang kini terdiam beku. Rasanya seperti terkena hukuman tembak. Seketika saja jantungnya seperti ditarik dari tempatnya. Oke Gilang menyerah bu Risty memang lawan debat tersulit di dunia.
"Yaudah deh bu saya pergi aja. Tapi bu saya titip salam buat cewek paling cantik di kelas ini ya bu", kata Gilang seraya nyengir tak bersalah.
"Siapa itu?", kali ini bu Risty termakan ucapan receh Gilang. Gilang tertawa kecil sambil menjawab.
"Abel bu", Gilang sengaja mengeraskab suaranya agar cewek yang disebutnya itu mendengar. Namun ternyata bukan hanya Abel yang mendengar, ternyata seisi kelas mendengarnya. Sontak saja mereka semua menyoraki dengan kata "ciee...". Abel yang merasa jadi korban itu pipinya sudah tak tertahankan lagi untuk memerah.
"Sudah sudah, diam! Lanjutkan mengerjakan!", teriakan bu Risty membuat semuanya menghentikan sorakannya.
Sedangkan pelakunya sendiri, berlari sambil tersenyum menuju kelasnya. Sampai napasnya sudah tidak beraturan lagi. Gelagatnya seperti dikejar setan. Gilang pun langsunv mendudukkan dirinya di bangkunya begitu sampai.
"Kenapa bro? Habis ngejar maling?", tanya Rangga yang begitu heran melihat tingkah teman sebangku sekaligus rekan basketnya.
"Gue dikejar sama cinta bro!",jawab Gilang mengasal. Rangga mengerutkan dahinya seraya berpikir keras mencerna kata-kata Gilang.
"emang ada murid sini yang namanya cinta ya?", tanya Rangga menunjukkan wajah lugu nan imutnya.
"Dasar telmi lo bro!", cibir Gilang membuat Rangga mengedikkan bahunya tak peduli.
***
Memang tidak bisa disalahkan, karena reaksi setiap orang yang jatuh cinta itu berbeda.
-Hospital Love Story-
KAMU SEDANG MEMBACA
Hospital (Completed)
Teen FictionMungkin pertemuan ini sangat sederhana. Namun, siapa sangka lada akhirnya kedua insan ini harus terjerat perasaan yang keduanya tidak bisa bayangkan.
