Pagi ini masih terlalu awal untuk bangun, dan juga masih terlalu gelap untuk berangkat. Sekarang bintang dan bulan masih dapat terlihat. Tepat pukul tiga dini hari Abel terbangun. Dan rasanya pusing sekali. Sesekali ia memijat pelipisnya sambil kembali beruasaha memejamkan matanya. Namun, nihil.
Tidak hanya pusing, kini Abel bisa merasakan gemuruh di dalam perutnya. Ia ingin mencerna sesuatu yabg tidak terlalu berat. Abel memutuskan membuat sandwich kesukaannya dengan selai kacang sebagai isinya. Dirinya berjalan gontai seraya memgangi perutnya yang seperti diaduk. Sampai juga ia di dapur. Dibukanya rak makanan dan meraih dua lembar roti dan setoples selai kacang. Dioleskannya selai itu di bagian atas roti dan menumpuknya dengan roti lain. Sandwich pun siap dinikmati.
Dikunyah dan dinikmatinya makanan itu sambil sesekali meneguk air putih. Namun, ketika pertengahan mengunyah, Abel mendengar knop pintu terbuka. Ia bergidik ngeri. Bulu kuduknya sudah berdiri sekarang. Keringat dinginnya bercucuran dengan sensasi ketakutan yang amat mendalam. Abel menjeda aktivitasnya tersebut. Ia sangat ingin melihat siapa itu, karena mengingat dini hari seperti ini siapa yang bertamu. Lalu, bagaimana bisa ia masuk gerbang rumah Abel. Ini begitu membuat Abel penasaran, namun menakutkan. Sekarang Abel harus apa. Kakinya lemas tak berdaya, ia ingin menggerakkan tapi tak ada tenaga. Terpaksa Abel harus melihatnya demi keamanan rumah.
Abel berjalan ke arah ruang tamu. Terdengar suara langkah kaki dari arah lain. Abel mengendap-endap agar orang itu tidak mengetahui keberadaannya lalu kabur. Dengan segera Abel menyalakan lampu dan terlihatlah punggung orang itu. Abel semulanya ketakutan mengira itu adalah pencuri. Namun, ia seperti mengenal postur tubuh dan penampilan orang itu. Dan ketika orang itu menoleh, ternyata benar dugaan Abel bahwa itu kakaknya. Abel mengeluatkan napasnya yang tertahan dari tadi.
"Kakak?! Habis dari mana aja sih kak", sahutku kesal. Kelvin hanya menyeringai lalu duduk disofa sambil menyanggah kepalanya dengan kedua tangan yang ada di belakang kepala.
"Kakak habis clubbing? Atau jangan-jangan mabuk? Atau..", Abel segera menutup mulutnya yang semakin di luar kendali. Dan benar saja, Kelvin menatap Abel tajam.
"Bisa-bisanya kamu bilang gitu, dek.", bantah Kelvin dengan nada meninggi. Karena Abel takut papanya dengar, ia meletakkan jari telunjuknya di depan mulut sambil mendesis.
"Terus, kakak kemana?", Abel semakin penasaran. Karena yang ia tau kakaknya tidak pernah pergi sampai dini hari seperti ini.
"Kakak abis dari minimarket depan, yang 24 jam itu.", jawab Kelvin dengan nada yang tenang. Sepertinya Kelvin jujur. Rasa penasaran Abel masih menguasai pikiran Abel.
"Ngapain kakak disana?", Abel sudah mulai melihat tingkah Kelvin yang sedikit gusar. Pasti ada sesuatu.
"Kakak, cuma pingin nenangin diri aja disana.", Abel meyatukan alisnya menjadi garis lurus. Gagal paham. Kata-kata Kelvin begitu mengganjal dipikirannya.
"Emangnya kenapa, kak? Kakak ada masalah?", tanya Abel. "Kalo ada masalah, kakak cerita dong ke aku", imbuhnya. Kelvin menggigit bibir bagian bawahnya. Ia sangat terlihat sedang berpikir. Mungkin dirinya bimbang. Tapi, bimbang karena apa itu masih belum jelas dimata Abel.
"Besok kamu bakal denger sendiri dari papa. Udah ah kamu tidur sana, nanti kalo ngantuk di sekolah gimana?", Kelvin mengalihkan pembicaraan. Abel hanya menurut dan nelangkahkan dirinya ke dalam kamar kembali. Ia harus terlelap bagaimanapun caranya. Dan Abel terlelap.
***
Gilang sudah siap dengan semua perlengkapan sekolahnya. Tinggal menuju meja makan, lalu sarapan bersama dengan keluarga kecilnya; mama dan Gio. Gilang melangkahkan kakinya cepat menuruni tangga. Ia sangat bersemangat karena hari ini Gilang harus menjemput Abel. Ternyata mama dan Gio sudah akan memulai sarapannya. Namun, mereka menunda karena melihat binar muka Gilang yang bersemi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hospital (Completed)
Fiksi RemajaMungkin pertemuan ini sangat sederhana. Namun, siapa sangka lada akhirnya kedua insan ini harus terjerat perasaan yang keduanya tidak bisa bayangkan.
