BAB 37|Sahabat

29 4 0
                                        

Pulang sekolah menjadi lebih awal karena ada rapat guru. Inilah yang dinanti-nanti murid dimanapun berada. Siang bolong ini, Abel tidak punya kesibukan sama sekali. Sehingga Bella punya rencana untuk mengajaknya pergi ke mall. Sekalian ngelanjutin curhat juga katanya. Abel pun setuju.

Mereka berdua harus pulang untuk mengganti pakaian. Abel menelpon papanya untuk bertanya, apakah beliau bisa menjemput. Namun, jawabannya tidak. Ini seperti malapetaka. Tapi Abel tetap tenang karena masih ada aplikasi ojek online. Dirinya segera memesan. Sudah tertera driver ojek itu. Abel duduk di halte bis depan sekolah.

Langit siang ini lumayan terik juga. Abel jadi haus. Ketika hendak berjalan menuju toko dekat sekolah, sebuah tangan menyodorkan sebotol air meneral dingin. Abel terhenyak. Dilihatnya orang itu. Dan itu Gilang.

"Haus kan?", kenapa Gilang bisa tau. Abel mengangguk.
"Minum aja nih! Anggep aja permintaan maaf gue.", Abel pun menerimanya dan tidak lupa mengucap terima kasih. Gilang mengajak Abel duduk kembali ke halte itu. Abel meneguk minuman itu. Rasa haus pun hilang karena Gilang

"Lagi nunggu gojek, ya?", tebak Gilang. Abel hanya menjawab lewat anggukan kecil.

"Dijawab pake suara kali bel. Lo marah sama gue, ya? Gara-gara kemaren ga jadi anter lo pulang?", Gilang menduga-duga karena melihat tanggapan Abel dari tadi yang tidak seperti biasanya.

"Enggak lah lang, kesannya gue bocah banget gitu ya. Jahat lo emang nuduh gue ngambek", bantah Abel diiringi kekehan kecil.

Gilang bisa bernapas lega sekarang. Pikiran jeleknya telah dibuang jauh-jauh. Kini ia paham bahwa Abel memang dewasa, walaupun sangat menggemaskan.

"Tapi gue beneran minta maaf ya bel, kemaren itu beneran mendadak.", Gilang menatap ke arah angin kosong. Abel tertawa lepas.

"Ya ampun lang, segitu menyeselanya ya lo? Gue aja santai. Lagian gue itu ngerti mana yang bo'ong sama yang nggak", lagi-lagi Abel harus menyangkal Gilang yang sepertinya sangat merasa bersalah.

Gilang bisa bersyukur sekarang, karena ia melihat Abel tertawa lepas seakan melupakan kejadian kemarin.

"Sekarang kenapa juga lo pesen gojek? Bareng gue aja kali bel. Gue ga ada temen nih buat balik nanti.", Gilang mengatakan itu dengan ekspresi seperti anak kecil yang ngambek karena tidak dituruti permintaannya. Seketika itu Abel gemas.

"lo apaan sih lang kayak bocah aja kemana-mana minta ditemenin. ",  ucap Abel usai tertawa geli. Gilang juga tertawa.

Mereka berdua sama-sama nyaman seperti ini. Namun, momen ini harus diakhiri karena pak gojek sudah datang. Abel harus pulang.

"Gue duluan ya lang. Makasih airnya", pamitnya, setelah itu ia melambaikan tangannya.

Gilang senang. Ia bersyukur bertemu gadis seperti Abel, walau pun pertemuannya di rumah sakit diselingi oleh kejadian-kejadian aneh dan memalukan. Gilang tersenyum kecil karena teringat kejadian itu.

"Dorrr!!", suara mengejutkan itu adalah suara perempuan. Gilang pun menengok.

"Ngagetin aja lo Tan!", Tan bukan lah setan, tetapi Tania. Gadis itu adalah teman Gilang sedari kecil yang bisa dibilang sahabat.

Namun, ia baru saja pulang dari pertukaran pelajarnya. Tania termasuk murid yang pintar. Maka dari itu ia mewakili Indonesia untuk pertukaran pelajar di China. Ia cukup fasih berbicara bahasa Mandarin karena ibunya keturunan Tionghoa. Tapi, tidak dengan ayahnya. Jadi wajahnya tidak sepenuhnya Chinese.

"Temennya barusan dateng disambut kek, eh ini malah diomelin.", keluh Tania seraya memanyunkan bibirnya. Ia menyusul Gilang yang duduk di halte.
"Oiya lang, anterin gue pulang dong", sambung Tania yg disambut satu alis Gilang yang naik.

Hospital (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang