Jam kamar Abel menunjukkan pukul 16.00 namun gadis itu masih bersiap-siap. Ia mengenakan dress berwarna putih tanpa lengan. Sungguh terlihat sangat cantik dan Anggun. Ditambah ia mengenakan sneakers berwarna putih pula, jadi kesan sportnya tak hilang.
Saat tengah menyisir rambutnya, terdengar suara ketukan pintu kamar Abel. Setelah Abel bertanya siapa, ternyata orang itu adalah Kelvin. Abel pun membukakan pintunya.
"Udah ditungguin, tuh", kata Kelvin. Abel telah mengetahui pasti itu Bella. Abel tersenyum girang.
"Bella ya, kak? Suruh tunggu ya, kak. Bentar lagi kelar kok", jawab Abel seraya meraih sling bagnya. Kelvin pun pergi.
Abel memasukkan barang-barangnya ke dalam sling bagnya yang sekiranya penting. Seperti handphone, powerbank, dompet, peralatan make up; bedak, liptin, dan parfum. Itu saja tidak lebih. Memang Abel tidak terlalu suka dandanan yang berlebihan. Karena dia cewek simple.
Sekarang Abel tidak mau membuat Bella menunggu terlalu lama. Jadi gadis itu keluar dan menemui sahabatnya itu. Bella pun menyambut Abel dengan senyuman. Bella kini menggenakan ripped jeans putih dan sweetshirt biru dongker yang terdapat sedikit corak merah. Dan tak lupa ia mengenakan sneakers putih favoritnya. Mereka berdua tampak saling melengkapi.
"Udah siap tuan putri?", tanya Bella diselingi candaan ringan yang berhasil membuat Abel terkekeh.
"Tuan putri apaan sih bel?!", kini Bella ikut tertawa.
Akhirnya mereka berdua memutuskan pergi karena takut hari akan semakin gelap. Mereka berdua juga belum mengerjakan PR. Abel dan Bella jadi ingat Rahel. Mereka dulu jika pergi selalu membawa buku untuk mengerjakan PR bersama. Sungguh menguntungkan.
Mobil berwarna merah milik Bella melaju. Mereka sesekali bernyanyi bersama di dalam mobil. Kadang juga bercanda ria sambil tertawa lepas. Jika ada Rahel, akan semakin lengkap. Sampai juga di tujuan. Bella memakiran mobilnya yang tak jauh dari pintu masuk mall tersebut. Setelah itu, mereka berdua masuk.
"Kita kemana dulu nih?", tanya Abel. Bella menengok kanan dan kiri mencari inspirasi tempat yang pas.
"Oiya, beli baju dulu yuk buat abang gue!", putus Bella. Abel mengangguk menyetujui. Mereka pun berjalan mencari baju yang pas untuk Reza.
Bella memilah-milah barisan baju laki-laki. Sesekali ia menanyakan pendapat Abel. Padahal Bella sendiri tidak tau selera Reza, apalagi Abel. Saat itu Abel melihat kemeja berwarna hitam dengan sedikit corak putih dan di dalamnya terdapat kaos putih polos. Tampak sangat keren. Abel menarik tangan Bella menuju pakaian itu.
Saat hampir sampai, tiba-tiba saja baju itu ada yang mengambil. Langkah mereka terhenti. Mata Abel membulat. Rasanya tidak terima baju itu telah direbut orang lain. Dengan memberanikan diri, Abel menghampiri orang itu.
"Permisi!", sahutnya lantang. Orang itu membalikkan badannya. Dan ternyata itu Bryan. Betapa malunya Abel.
"B-Bryan?", ucap Bella tak percaya.
"Iya, kenapa? Ada masalah?", ekspresi itu, Abel benar-benar tak menyukainya.
"Lo mau ambil baju itu?", kenapa tiba-tiba nyali Abel ciut ketika mengetahui orang itu adalah Bryan. Bella pun takut.
"Udah yok bel, jangan cari masalah sama dia", bisik Bella penuh kecanggungan. Namun, Abel tetap kukuh. Ia harus mendapatkan baju itu.
"Iya, kenapa?", lagi-lagi Bryan mengatakan itu dengan ekspresi angkuhnya.
Abel menelan ludahnya susah payah. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia bisa mengambil baju itu dari Bryan.
"Gue udah milih baju itu, jadi baju itu punya gue", ujar Abel. Bryan mengangkat satu alisnya.
"Kok bisa? Perasaan gue duluan deh yang ambil. Gue juga ga liat lo disekitar sini", sangkal Bryan. Abel gusar. Karena memang benar kata Bryan. Abel hanyalah melihat baju itu dari jauh dan tidak mengambilnya.
"Udahlah bel, emang kita yang salah. Mending lo minta maaf aja", bisik Bella lagi. Abel menarik napasnya dan menghembuskannya.
"Yaudah deh, gue minta maaf ya.", hanya itu yang Abel katakan. Akhirnya, Abel dan Bella harus mengikhlaskan baju itu.
"Kita cari nanti lagi aja ya, sekarang kita makan dulu", hibur Bella karena melihat raut wajah Abel yang tampaknya kecewa.
Sampai juga mereka di mcd. Abel dan Bella menengok kesana kemari mencari tempat yang kosong untuk mereka duduk. Restoran ini ramai sekali.
"Ah itu ada!", teriak Bella seraya menunjuk tempat kosong. Abel dan Bella pun segera menuju teempat itu, dan mereka duduk.
"Lo mau pesen apa?", tanya Bella. Abel malas berpikir.
"Samain aja lah kayak lo. Sama ditambah mcflurry ya", jawab Abel. Bella mengangguk mengerti, ia pun segera memesan.
Sambil menunggu, Abel memainkan handphonenya. Ia membuka instagram karena dirinya sudah bosan sekarang. Tiba-tiba saja terdapat seseorang yang berdiri di hadapan Abel.
"Gue boleh duduk sini ga? Penuh, ga ada tempat soalnya", ucap seseorang itu. Abel terkejut ketika mendongak dan melihat orang itu. Dia lagi, batin Abel.
Dengan amat terpaksa ia pun mempersilahkan Bryan duduk. Kini gadis itu benar-benar mengacuhkan cowok yang ada di depannya dengan cara bermain handphone. Bryan tentu saja tidak masalah dengan hal itu, karena dirinya juga orang yang cuek. Sampai akhirnya Bella datang membawa nampan berisi pesanan Abel dan Bella. Bella terkejut. Bagaimana bisa Bryan ada di hadapannya lagi.
"Ehm.", Bryan berdeham untuk menyadarkan lamunan Bella. Gadis itu pun duduk.
"Kenapa dia disini?!", bisik Bella yang dijawab dengan Abel yang mengangkat bahunya. Rasa penasaran Bella masih merajalela.
"Eh pesenin gue makanan dong, laper", perintah Bryan yang seperti raja. Abel mendengus tak terima. Ingin rasanya ia mengguyur Bryan dengan secup mcflurry. Namun sayang jika mcflurry itu terbuang sia-sia.
"Ga punya kaki ya lo?!", sentak Abel sinis. Bagaimana bisa Bryan 'menumpang' di tempatnya tapi lagaknya seperti bos.
Bryan merapikan rambutnya dengan jemari tangannya. Telinganya bebal. Seakan dirinya tidak mendengar perkataan Abel tadi.
"Gue males jalan kesana. Rame tuh, lo ga liat?", kepala Abel memanas. Kesabarannya hangus terbakar api amarahnya. Bella mengelus-elus punggung Abel menyabarkan.
"Emang lo sapa? Enak aja nyuruh gue", balas Abel. Bryan kini kalah. Akhirnya ia berjalan menuju kerumunan pembeli untuk memesan makanan. Abel pun menghembuskan napasnya kasar, dan Bella menghembuskannya lega. Akhirnya tidak ada lagi pertikaian.
"Bel, abis ini kita pulang aja deh. Mood gue udah rusak gara-gara dia", kata Abel. Bella pun mengangguk ia sangat mengerti perasaan Abel saat ini.
Datanglah akhirnya si perusak mood Abel. Bella dan Abel juga sudah meminta pelayan untuk membungkuskan makanan mereka. Abel sudah tidak ingin makan disana. Mereka berdua bersiap-siap untuk keluar dari sana.
"mau kemana?", tanya Bryan seraya meletakkan nampannya. Abel mendengus jengah, ia sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaan itu.
"Mau pulang.", kini Bella angkat bicara. Bryan mengerutkan keningnya.
"Kok pulang? Makan aja disini. Gue ga bakal ngerampok makanan lo kali!", ujar Bryan diiringi seringai jahatnya. Iblis, batin Abel. Karena sudah tidak tahan, Abel segera menarik Bella keluar dari sana. Bryan pun hanya mengedikkan bahunya dan duduk dengan tenang dambil makan.
Berhentilah mereka di parkiran mobil. Dan dengan segera Bella membuka kunci mobil dan melajukannya pergi jauh dari mall itu. Rencana mereka pun gagal lagi.
Gilangnya disimpen dulu, ok?😂
Vote&comment :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Hospital (Completed)
Teen FictionMungkin pertemuan ini sangat sederhana. Namun, siapa sangka lada akhirnya kedua insan ini harus terjerat perasaan yang keduanya tidak bisa bayangkan.
