Dengah hati masih dilingkupi amarah, Gedang menghubungi Ambar. Ia ingin meminta maaf sama pacarnya itu sekali lagi.
"Ya, ada apa?"
"Uhm, kamu lagi apa?"
"Baru selesai mandi nih..."
"Wah, wanginya nyampe ke sini..."
"Lebay deh..."
"Hehehe..."
"Kamu sudah mandi?"
"Belum..."
"Kok belum? Udah hampir malam ini..."
"Ntar aja. Lagian aku masih panas."
"Kata orang nggak baik mandi malam..."
"Kan nggak tiap hari, Beb. Btw, tadi aku marah sama Mama-Papa..." curhat Gedang.
"Marah kenapa?"
"Soal tadi ituuu, saat kamu datang..."
"Udahlah... nggak masalah kok buat aku. Kalo kalian berantem, akunya yang jadi nggak enak... kalian berantem karena aku..."
"Nggak kok. Bukan karena kamu. Mereka sih yang kelewatan. Bukan cuma sekali dua kali mempermalukan aku di depan teman-teman..."
"Semuanya pasti ada alasannya. Kamu pernah nanya nggak?"
"Udah bosen kali aku nanyanya. Tapi nggak pernah dijawab. Memang mereka aja sih yang sentimen sama aku. Bangsat...!"
"Eh! Nggak boleh gitu sama orang tua..." tegur Ambar.
"Yang terakhir refleks aja, Beb..."
"............................"
"Halo...?"
Tak ada jawaban. Gedang tak bisa mendengar apapun dari seberang sana.
"Halo, Beb...?"
Hening.
"Bangsat! Kenapa sering banget gangguan kayak begini sih..?!" umpat Gedang kesal.
"Halo...."
"HALO...! HALO, BEB...?" Jawab Gedang cepat.
"Iya."
"Gangguan mulu ya...nyebelin banget..."
"....."
'Beb...?"
"Iya...."
"Kok diem? Kamu lagi ngapain? Kayaknya nggak fokus gitu...?"
"Nggak ada. Oh, iya, kamu mau bilang apa?"
"Uhm..., apa iya..."
"Ngomong aja cepet."
'Dih, kok gitu? Aku ganggu kamu ya?"
"Nggak. Tapi aku penasaran..."
"Hehehehe... aku pengen ngajakin kamu keluar pas ultah sweet seventeen aku nanti. Kamu mau?'
"Keluar? Keluar dari sini? Caranya?"
"Eh? Maksudnya?" Gedang balas nanya.
"Lho? Kok kamu balik nanya?"
'Iya. Keluar. Kita jalan-jalan gitu... masa harus dijelasin sih..."
"Oohh..." jawab Ambar datar.
'Mau nggak?"
"Jalan-jalan ajakan?"
"Iya. Jalan, makan...."
"Cuma itu ajakan? Nggak yang lain? Cuma jalan terus makan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BANGSAT
RandomGedang tak habis pikir kenapa orang tuanya sepertinya sangat menginginkan ia menyukai laki-laki, padahal ia sendiri adalah seorang laki-laki juga. Hal itu bukan perasaan Gedang saja. Kenyataannya orang tuanya lebih menyukai kalau dirinya membawa tem...
