Gedang berdiri di samping Gading yang masih saja menatap ke luar jendela sepeninggalan Ibu Ratu. Sesekali ia memperhatikan air muka sang putri. Kemudian beralih mengikuti arah pandang sang putri yang sedari tadi tak berkedip. Segerombolan burung melintasi langit yang mulai dipeluk malam. Angin yang berhembus dari arah perbukitan terasa lebih dingin. Tapi tak ada tanda-tanda sang putri akan beranjak meninggalkan tepian jendela. Mungkin saat itu gulana yang menggelayuti hatinya, tak mampu ditafsirkan oleh dirinya, namun Gedang tahu pasti apa sebab musabab yang menyebabkan sang putri bermuram durja. Kemalangan sebentar lagi akan menimpa diriya. Gedang yakin betul bahwa ini adalah firasat buruk yang dirasakan Gading Cempaka sebelum penyerangan berdarah itu.
Gedang menghela napas. Ia membuang pandangan ke arah langit kelam. Seandainya saja ia bisa mengubah sejarah...
Sesuatu melintas di kepalanya. Ia kembali menatap sang putri. Apa yang bisa aku lakukan untuk sang putri? Terlemparnya kembali aku ke masa lalu pasti dengan sebuah maksud. Tapi apa?
Sekian lama berpikir, Gedang belum menemukan jawabannya. Ia kembali menghela napas dan menatap ke langit kelam. Semua terasa samar. Bahkan rembulan seperti enggan bersinar dan bintang berkelip ogah-ogahan.
"Tak ada cara lain selain kecurangan untuk menyingkirkan Satria...!"
Gedang tersentak saat rentetan kalimat penuh marah dan kebencian itu menyapa gendang telinganya. Dengan cepat ia menoleh ke arah sumber suara. Sepertinya suara itu berasal dari ruangan di sebelahnya. Tapi Jantungnya tak urung langsung berdegup kencang sebab suara itu terasa tak asing di telinganya.
Aria Tebing?
Belum habis rasa terkejutnya, ia baru menyadari sekarang dirinya tidak lagi berada di kamar Gading Cempaka. Ia memang masih berdiri di depan sebuah jendela besar, hanya saja jendela itu berada di dalam sebuah ruangan yang berpencahayaan temaram.
Gedang tak tahu bagaimana ia bisa berpindah tempat tanpa ia sadari, tetapi ia mencoba mengabaikan semua itu. Ada yang lebih penting dari semua itu. Apalagi kalau bukan ucapan Aria Tebing barusan. Sepertinya di ruangan sebelah Aria Tebing tidak sendirian.
"Paman harus membantuku...!!! Semakin lama, kehadiran Satria semakin mengancam posisiku...!"
Gedang menempelkan telinganya ke dinding.
"Tenang, Aria, keponakanku tersayang. Paman sudah berjanji apapun caranya akan menjadikanmu seorang raja, meskipun nyawa taruhannya..." lawan bicara Aria sepertinya sedang menenangkan amarah Aria. "Kamu tenang saja. Tiga hari lagi Kakanda Raja akan pergi. Paman sudah punya rencana..." lelaki itu lantas mengutarakan rencana liciknya pada Aria Tebing.
"Dasar Aria Bedebah!" teriak Gedang emosi.
"Siapa di sana?!"
Jantung Gedang serasa berhenti berdetak saat itu juga. Ia buru-buru menutup mulutnya. Aria Tebing bisa mendengar omonganku?
Terdengar suara langkah kaki berjalan ke arahnya.
"Hey!!!" teriak Aria Tebing gusar sambil menggedor dinding yang terbuat dari papan itu, tepat di dekat telinga Gedang.
Gedang menahan napasnya. Ya Tuhan, dia benar-benar mendengar ucapanku barusan!!!
"SIALAN!!! ADA YANG MENCURI DENGAR PEMBICARAAN KITA PAMAN!!!" Aria Tebing murka.
Degup jantung Gedang berpacu. Ia memperhatikan sekeliling. Hanya ada satu jendela besar yang terbuka dan satu pintu besar yang tertutup rapat di hadapannya. Ia memutuskan untuk keluar melompati jendela ketika terdengar suara orang yang dipanggil Aria dengan sebutan Paman mengeluarkan suaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BANGSAT
RandomGedang tak habis pikir kenapa orang tuanya sepertinya sangat menginginkan ia menyukai laki-laki, padahal ia sendiri adalah seorang laki-laki juga. Hal itu bukan perasaan Gedang saja. Kenyataannya orang tuanya lebih menyukai kalau dirinya membawa tem...
