"Ma, Mama belum pernah cerita tentang pertemuan kalian dengan Satria secara detil. Pengen dengar dong..." pinta Gedang di suatu petang saat mereka berdua duduk di teras belakang.
"Menakutkan."
"Menakutkan gimana?"
"Gimana nggak takut kalo tiba-tiba ada orang datang dan ngomong yang nggak-nggak ke kamu? Tentang hal yang nggak masuk akal serta menunjukkan kekuatan magis. Sementara saat itu Mama baru aja bersalin kebayang dong gimana paniknya kami...?"
"Saat dia tahu kalo Mama melahirkan bayi cowok reaksi dia gimana?"
"Dia kayak linglung gitu. Setelah mengisahkan tentang Pangeran dan Putri Gading Cempaka kepada kami, dia berkali-kali mengecek selangkangan kamu. Berharap ada keajaiban barang kali, hahaha..." Evita terkekeh. Kalau diingat-ingat kejadian tujuh belas tahun yang lalu jadi terasa lucu.
"Setelah hari itu apa dia masih datang?"
"Oh, tentu, tentu. Dia datang hampir setiap saat. Dia bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Kemunculannya itu benar-benar membuat Mama dan Papa frustasi. Di awal-awal kehadirannya yang bisa tiba-tiba itu, mama dan papa sering sport jantung. Tapi lama-lama jadi biasa. Seminggu setelah kelahiran kamu, kami sempat berencana keluar kota ingin kabur dari dia, karena bagaimanapun juga mama sangat khawatir dia sewaktu-waktu bisa menculik kamu. Tapi yaahh... sepertinya gagasan untuk kabur itu bukanlah ide yang bagus. Dia orang sakti. Dia bisa menemukan keberadaan kami atau justru keberadaan kamu, yang seakan-akan sudah punya ikatan batin semacam itu. Kalau kabur bisa-bisa dia murka dan timbul masalah baru..."
Gedang mengangguk-angguk.
"Saat itu kehidupan Mama dan Papa sangat sederhana. Betari baru berusia 3,5 tahun. Papa hanya seorang pedagang pakaian keliling dari satu pekan ke pekan lain. Sementara Mama hanya ibu rumah tangga biasa. Untuk membantu Papa, Mama kerap membuat kue dan menitipkannya ke warung-warung sekitar. Tak bisa dipungkiri, pangeran lah yang mengangkat derajat kehidupan kita. Tak lama setelah kamu lahir, ia memboyong kami pindah ke rumahnya. Kami berdua dipercaya mengelola sebuah toko manisan yang beruntungnya semakin lama semakin berkembang hingga menjadi sebuah toserba."
"Oh, jadi kekayaan yang kita punya sekarang ini tak lepas dari campur tangan Bang Sat juga?"
Evita mengangguk.
"Sewaktu kecil, kamu lebih banyak berada digendongan Pangeran. Ia mengajak kamu berbicara tentang kehidupan masa lalu kalian dan kamu begitu anteng berada di gendongannya. Ia sangat menyayangi kamu. Bahkan ia membawamu ke kamarnya dan membiarkan kami semua tidur dan ia akan menggantikan popokmu di malam hari. Ia bisa melakukan semuanya. Memandikanmu, menyalin pakaian dan mengganti popokmu, menenangkanmu saat menangis. Hanya satu saja yang tidak pernah ia lakukan saat itu..."
"Apa?"
"Menyusuimu."
Gedang memutar bola matanya kesal. Tapi sedetik kemudian terbahak.
"Saking seringnya kamu sama dia, sampai Betari bertanya ke Mama, kok adek lebih sering sama Om? Adek itu anaknya Mama atau Om Satria?"
Gedang terbahak.
"Kau tahu betapa frustasinya mama saat itu. mama sering menangis tapi nggak tahu harus gimana. Kamu anak mama tapi mama nggak punya kesempatan yang banyak untuk merawat kamu. Ibu mana yang nggak sedih coba?"
Gedang mengangguk-angguk.
"Mama memendam kesedihan itu selama tiga tahun. Setelah kamu berumur tiga tahun, entah karena alasan apa Pangeran pamit pergi. Ia memilih untuk tinggal sendirian. Mama sangat senang bukan kepalang. Itu artinya waktu mama dan kamu akan lebih banyak. Pangeran hanya sesekali saja menjenguk dan melihat perkembangan kamu. Di usia kamu yang kelima tahun, Pangeran berkata bahwa ia tak akan menampakkan dirinya di hadapan kamu sampai kamu berumur tujuh belas tahun, tepat hari di mana ia akan mengambil kamu kembali. Di hari itu pula ia menghapus ingatan Betari tentang dia, sehingga di pertemuan mereka saat ulang tahun kamu yang ketujuh belas, Betari tak mengingat sosok pangeran lagi..."
KAMU SEDANG MEMBACA
BANGSAT
AléatoireGedang tak habis pikir kenapa orang tuanya sepertinya sangat menginginkan ia menyukai laki-laki, padahal ia sendiri adalah seorang laki-laki juga. Hal itu bukan perasaan Gedang saja. Kenyataannya orang tuanya lebih menyukai kalau dirinya membawa tem...
