XXVIII ~ PART ONE

6.7K 474 27
                                        



Gedang tak memahami mengapa tubuhnya bereaksi berlebihan ketika mendengar ucapan Madam Rosetta barusan.

Sosok Madam Rosetta di hadapannya sekarang nampak berbeda. Auranya kuat dan mengintimidasi. Suaranya lantang dan menggema. Saat ia bergerak dan bersuara, seakan seisi alam tunduk padanya. Dan yang terpenting, apakah barusan wanita itu sudah mengutuknya?

Gedang menengadah. Madam Rosetta bergerak anggun menghampirinya. Lantas ia menjulurkan tangan, membantu Gedang bangun.

Gedang berdiri masih dengan kaki bergetar. Terutama saat ini ia berhadapan sangat dekat dengan wanita peramal itu. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.

Madam Rosetta meraih kedua tangan Gedang lalu meletakkannya ke dada pemuda itu seraya berucap pelan, "Gading Cempaka... kau adalah Gading Cempaka..."

Dada Gedang bergetar.

"Ikuti kata hatimu. Hatimulah yang akan menuntunmu, Nak..."

Gedang tak menjawab. Kepalanya tertunduk memandangi tangannya dan tangan Madam Rosetta yang masih berada di dadanya.

"Sekarang pulanglah."

Gedang mundur selangkah sebelum akhirnya balik badan dan melangkah keluar. Sementara di luar sana cuaca kembali cerah. Bahkan matahari kembali bersinar dengan hangat. Cahayanya bekilau terkena bias hujan, menimpa sekuntum Cempaka di pekarangan rumah Madam Rosetta yang mekar sempurna.

***

Hampa. Perasaan itulah yang menggambarkan suasana hati Gedang saat ini. Ia merasa begitu kosong di tengah hiruk pikuknya dunia. Ia merasa berjalan sendirian di tengah keramaian.

"Nggak ada yang ngerti perasaanku...," desisnya sembari duduk di salah satu bangku taman. Ia lantas menghela napas berat.

Satu-satunya yang ingin ia lakukan sekarang adalah sendirian. Jadi ia memilih tempat di salah satu sudut taman yang sepi.

Mula-mula ia duduk berdiam diri dengan kepala tertunduk. Ia menatap rumput di bawah kakinya cukup lama. Hatinya berkecamuk. Ia memejamkan matanya. Kecamuk itu semakin hebat. Ia berganti menengadah ke langit. Menatap langit, namun birunya tak juga mampu menenangkan hatinya.

Tiba-tiba saja ia merasa butiran-butiran bening mulai ingin melesak keluar dari sudut matanya. Ingin ia tahan, tapi bendungan air matanya bobol juga. Gedang pun menangis dalam diam. Membiarkan tetesan air matanya mengucur keluar tanpa ia perdulikan sama sekali.

"Kenapa sih selalu aku yang salah? Kenapa aku yang harus memahami mereka?" protes hati kecilnya sesaat setelah tangisnya mulai mereda. "Kenapa harus aku yang menanggung semuanya?"

"Sekuat apa aku harus berusaha untuk mengembalikan kenangan di masa lalu? Kenapa kenangan itu tak serta merta hadir saat aku lahir? Bukankah itu lebih mudah bagiku untuk menerima semuanya? Setidaknya aku bisa memahami perasaan semacam apa yang pernah aku miliki untuk Satria..." Gedang terisak.

"TUHAN, AKU TAHU KAMU DENGAR DARI ATAS SANA!!! AKU GEDANG BUKAN GADING!!! AKU GEDAAAANGGGGG!!!" teriaknya sekuat tenaga hingga urat-urat lehernya tercetak jelas.

Dada Gedang naik turun. Degup jantungnya berpacu. Kerongkongannya terasa kering. Ia berharap apa yang ia lakukan barusan bisa membuat hatinya lega, tapi justru sebaliknya. Ia semakin frustasi. Dan ia ingin menangis lagi...

***

Evita terkejut melihat Gedang pulang dengan wajah kusut. Bahkan mata Gedang nampak sembab.

"Nak, kamu kenapa?"

BANGSATTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang