XII

7.9K 589 31
                                        

Gedang diserang salah satu juniornya di kamar mandi. Siswa itu mengamuk bak kesetanan. Saat itu Gedang baru saja selesai buang air kecil. Tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu. Saat pintu dibuka juniornya itu langsung mencekik Gedang. Tenaganya sangat kuat sampai Gedang terangkat ke udara. Padahal ia mencekik Gedang hanya dengan satu tangan. Gedang berusaha melepaskan diri. Logikanya, sang junior tidak mungkin sanggup mengangkat Gedang meskipun dengan kedua tangan. Apalagi perawakan Gedang lebih besar dan lebih tegap dari sang junior. Merasa ada yang tidak beres, Gedang langsung memanggil Satria.

"Bang---Bangsat...ttt...tt."

Untung saja Satria segera datang. Ia langsung menarik tubuh sang junior itu kuat dan melemparkannya ke belakang. Tubuh kecil itu menghantam tembok. Sementara Gedang terjatuh ke lantai. Tubuhnya menimpa lantai yang basah sehingga seragamnya menjadi kotor.

"Kamu nggak apa-apakan???" tanya Satria.

Gedang menggeleng sambil memegangi lehernya yang terasa panas.

Satria beralih menoleh ke belakang. Dengan wajah merah menahan amarah, Satria berjalan mendekati sang junior yang meringkuk di belakangnya.

"BANGUN!" teriak Satria sambil menarik paksa kerah baju sang junior yang bernama Abdi. Nama itu tertulis pada seragam yang ia kenakan. "Apa yang Kanda inginkan...?" tanya Satria dengan geraman.

Abdi yang dirasuki Aria Tebing balas melotot. Matanya merah.

"Kenapa Kanda masih hidup? Apa yang Kanda inginkan?"

"Dia," Aria mengarahkan telunjuk ke arah Gedang.

Gedang terlonjak kaget. "Aku...?"

Satria menoleh ke arah Gedang lalu kembali menatap Aria. "Kenapa?"

"Dia berbahaya," jawab Aria.

"Apa maksud Kanda?" Satria mengernyitkan keningnya.

"Apa kau tahu dia dipersiapkan untuk kematianmu?"

"Kematianku?"

"Dia adalah senjata yang dikirim Tuhan untuk membunuhmu."

"Aku tak mengerti. Tolong bicara dengan jelas."

"Dia bukan Gading."

"Dia Gading."

"Gading seorang laki-laki?"

"Dia reikarnasi Gading."

"Kenapa Gading harus turun sebagai laki-laki? Apa kamu pernah berpikir tentang itu, Dimas? Gading tidak benar-benar mencintaimu. Jika ia memang mencintaimu, dia akan datang sebagai Gading, bukan orang lain..."

Satria terdiam.

"Dia bukan Gading. Gading tidak menepati janjinya. Penantianmu sia-sia, Dimas."

"Dia Gading."

"Terserah kau saja, Dimas. Aku hanya mengingatkan. Kau dan Gading tidak ditakdirkan untuk bersama. Dulu Gading memilih bunuh diri. Dan sekarang dia lahir sebagai laki-laki? Tuhan tidak adil bukan?"

Satria tak berkata-kata. Tubuhnya terasa lemas. Ia pun membiarkan saat roh Aria keluar dari tubuh Abdi.

Gedang berjalan menghampiri Satria.

"Abang nggak apa-apa?" tanya Gedang hati-hati.

Satria tak menjawab. Ia malah mendongak menatap Gedang lekat.

"Kenapa? Abang baik-baik aja?" tanya Gedang lagi.

"Sebenarnya siapa kamu?" Satria balik nanya.

"Aku...Gedang..."

BANGSATTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang