VII

12.3K 811 43
                                        

"Ada apa lagi, eh?" Tiba-tiba Satria sudah berbaring dengan santainya di sebelah Gedang.

"Ngagetin aja.." Gedang mengusap pipinya yang tadi dicium Satria.

"Kamu manggil kenapa lagi? Aku baru saja mau tidur..."

"Sorry. Ternyata benar."

"Apanya yang benar?"

"Kalo aku nyebut 'bangsat' Abang bakal datang."

"Huffhhh...Cuma karena itu?"

"Iya."

Satria menghela nafas.

"Sekarang boleh pergi," kata Gedang sambil tidur membelakangi Satria.

"Selamat tidur..."

Gedang tak menjawab. Menurutnya Satria pasti sudah hilang. "Ahh, enaknya kayak dia yang bisa menghilang kapan aja dia mau", desisnya dalam hati.

Tiba-tiba ia merasakan selimutnya ditarik. Ia menoleh ke belakang.

"Kok Abang masih di sini...?"

"Kenapa?" Satria menarik selimut sampai ke ketiaknya.

"Abang katanya mau tidur..."

"Ini juga mau tidur."

"Abang mau tidur di sini...???"

"Iya."

"Mana boleh!"

"Kenapa nggak boleh? Kita kan sama-sama cowok..." ujar Satria dengan mata terpejam.

"Tapi Abangkan orang asing."

"Silahkan panggil orang tua kamu. Mereka pasti ngizinin..."

"Terserah lah!" pungkas Gedang kesal.

Satria tak menjawab.

Gedang menghela nafas. Untuk beberapa saat hening tercipta. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Kamu mau kado ulang tahun apa?" tanya Satria memecah kebisuan.

Gedang nggak segera menjawab sampai timbul ide cemerlang di otaknya.

"Emang Abang bakal kabulin?"

"Iya."

"Apapun itu?"

"Kecuali nyuruh aku buat melepaskan kamu," jawab Satria.

"Haahhh..." bahu Gedang langsung merosot. "Ya udah, nggak usah."

"Emang kenapa sih sebegitu nggak maunya sama aku?" Satria tiduran dengan posisi miring menghadap Gedang lalu menopang kepalanya dengan tangan.

"Karena aku bukan homo."

"Abang kan nggak serta merta maksa kamu buat jadi pacar."

"Tapi tetap aja ujungnya harus jadi pacarnya Abang kan?"

"Semua bisa terjadi. Kita nggak tahu ke depannya kayak gimana."

Gedang memilih untuk tak menjawab.

"Sekarang ayo kita tidur..."

"Uhm, hampir setiap malam aku bermimpi tentang tuan putri. Tapi ceritanya selalu terpotong. Terakhir aku bermimpi sang putri bunuh diri dengan terjun ke jurang. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia?"

***

Pagi yang cerah. Bumi bermandikan cahaya matahari keemasan. Musim penghujan sudah berlalu berganti sinar mentari yang bersahabat. Cahayanya yang kilau kemilau menjilati embun yang membalut dedaunan hijau.

BANGSATTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang