XXIV

5.5K 516 46
                                        

Ambar terbelalak tak percaya melihat visi yang ditunjukkan Madam Rosetta lewat air dalam bejana.
“Jadi jodohku itu Gedang?” Ambar tak mampu menyembunyikan rasa girangnya.
“Ya dan tidak. Semua itu tergantung keputusanmu. Visi yang kau lihat barusan masih secara acak”
“Maksudnya?”
Madam Rosetta mengulurkan tangannya ke dalam bejana dan kembali membuat putaran pada air dengan telunjuknya. Bedanya kali ini ia melakukannya searah jarum jam.
“Lihatlah kembali,” kata sang Madam.
Ambar mengikuti perintah madam tanpa suara.
Mula-mula ia melihat air berputar dengan cepat sehingga kepalanya sedikit pusing dibuatnya. Setelah putaran itu mereda, perlahan-lahan air menjadi tenang dan ia bisa melihat visi yang tergelar di sana dengan jelas.

Pertama ia kembali melihat dirinya dan Gedang berjalan bergandengan tangan di sebuah taman. Setelah itu berganti suasana seperti di ruangan perkuliahan, ia melambaikan tangan pada Gedang yang muncul di depan pintu kelas. Mereka berjalan bersama di sebuah koridor bangunan... mereka berdua tertawa di sebuah cafe.... mereka berlarian di tepi pantai.... berselfie di hamparan bunga... secara cepat semua visi yang dilihat Ambar menggambarkan betapa indahnya hubungan mereka di masa depan. Sampai akhirnya air dalam bejana tak menampilkan apa-apa lagi, hanya  pantulan wajahnya yang sedang menatap air. Anehnya, pantulan wajahnya itu memperlihatkan wajahnya yang menangis. Ambar terkejut. Ia menyentuh pipinya. Tidak basah sama sekali. Ia kembali bercermin di air.

Tes!

Sebutir air matanya jatuh ke dalam bejana. Ambar terperanjat dan kembali memegangi matanya. Sumpah, ia tidak menangis! Bahkan air itu tidak menetes dari matanya. Tapi mengapa dalam pantulan air di dalam bejana ia sedang menangis???

Belum hilang kebingungan yang melingkupi Ambar, tiba-tiba air dalam bejana yang semula tenang, sekarang bergejolak tepat saat air mata ‘palsu’ itu jatuh ke dalamnya. Sejurus kemudian, permukaan air itu menggelarkan visi.

Pertama kali yang terlihat adalah areal pemakaman yang diguyur hujan. Di salah satu tempat nampak gundukan tanah yang masih basah. Di atasnya kelopak-kelopak bunga nampak mulai layu. Kuburan siapakah itu? Tanya Ambar. Kuburan akukah?

Pertanyaannya segera terjawab saat ia melihat dirinya menangis di visi berikutnya. Air matanya menganak sungai di pipinya. Seingatnya, seumur hidupnya, ia belum pernah menangis sedemikian rupa. Kesedihan seperti apakah yang menimpa dirinya di masa depan sehingga mampu membuatnya menangis sehebat itu?

Visi saat ia dan Gedang berjalan bergandengan tangan di sebuah taman kembali muncul. Tapi beberapa detik kemudian Gedang dalam visi itu lenyap.  Hanya menyisakan dirinya yang berjalan sendirian di taman berlatar lembayung senja. Visi saat Gedang menjemputnya ke ruangan perkuliahan juga hadir kembali.  Dan lagi-lagi sedetik kemudian saat ia melambaikan tangan, sosok Gedang dalam visi itu menghilang, menyisakan dirinya seorang dengan tangan terangkat ke udara. Pun visi ketika mereka berjalan bersama di sebuah koridor bangunan... mereka berdua tertawa di sebuah cafe.... mereka berlarian di tepi pantai.... berselfie di hamparan bunga..., dalam semua cuplikan visi itu,  sosok Gedang lenyap tak berbekas.

Apa maksud semua ini? Ambar bertanya-tanya dalam hati. Sampai kemudian ia mampu menghubungkan semua visi yang sudah ditunjukkan air dalam bejana itu menjadi sebuah rangkaian yang runtut dan utuh. Saat ia sadar, sebuah fakta menyakitkan menghantam ulu hatinya.

“Jadi maksud Madam bahwa aku dan Gedang suatu hari nanti akan menikah? Tapi... tapi kemudian ia meninggal di usia muda?”

“Seperti yang sudah madam katakan sebelumnya, Semua itu tergantung keputusanmu.”
Ambar mengernyitkan keningnya. “Aku? Tapi takdir seseorang itu berada di tangan Tuhan.”

“Dengar, Nak, satu hal yang kau harus tahu, bahwa Gedang terlahir istimewa. Sebelum dia terlahir ke dunia, dia sudah memiliki tujuan. Tujuan hidup Gedang adalah Satria. Jika tujuan yang dibawanya itu tidak terwujud, itu artinya tidak ada gunanya ia hidup di dunia. Dengan kata lain, jika tujuan itu tidak tercapai maka dia akan mati.”

BANGSATTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang