Holla... I'm back.... sorry kalo postingannya lama. Hehehe...
Gedang terlempar ke istana Sungai Limau. Melihat Gading Cempaka menangis menceritakan mimpinya.
"Aku takut, Bunda..."
"Sudah, itu hanya bunga tidur semata, anakku..." Ibu Ratu mengelus bahu sang Putri.
"Tapi mimpi itu terasa begitu nyata. Sampai-sampai saat ini aku masih merasakan kesedihannya..."
"Ampun beribu ampun yang mulia putri, saran hamba janganlah sang putri begitu memikirkan mimpi-mimp buruk," celetuk salah seorang dayang. "Mimpi yang buruk akan berdampak buru pula. Mimpi ataupun pikiran yang tidak baik bisa menjadi kenyataan jika kita terus memikirkannya..."
"Apa yang dikatakan Dayang Rukmi benar, anakku. Pikirkanlah hal yang indah-indah saja..." Ibu Ratu membenarkan.
"Tapi Bunda, mimpi-mimpi itu terus datang selama tiga hari berturut-turut. Seakan-akan ia memberi pertanda bakal ada bencana yang menimpa kita..." ketakutan di hati Putri belum juga tersaput.
Ibu Ratu tersenyum dan menyentuh kedua pipi putrinya, bertepatan dengan masuknya sang raja.
"Ada apa ini?" sapa baginda raja.
"Tidak ada apa-apa, Kanda. Seperti biasa, putrimu yang cantik ini terus memikirkan mimpi-mimpinya..." terang Ibu Ratu.
Baginda raja duduk di samping istri dan anaknya. "Coba ceritakan mimpi apa lagi semalam?"
Gading Cempaka kembali membeberkan perihal mimpi yang dialaminya semalam.
"Ah, janganlah terlalu kau ambil peduli tentang semua mimpi itu, Cempaka," saran sang raja. "Tenang saja, tak ada bencana apapun yang akan menimpa kita. Justru sebentar lagi bakal ada kebahagiaan dan pesta meriah yang akan menghampiri kita..."
"Pesta???" semua bergumam serempak mendengar ucapan sang raja barusan.
"Iya. Kerajaan kita akan mengadakan perayaan pesta besaaarrrr untuk pernikahan putri cantik kita, Putri Gading Cempaka..." terang sang raja sambil menatap wajah sang putri dengan pandangan berbinar.
"A—aku??! Aku akan menikah?! Dengan siapa, Ayah?!" seru Gedang yang sedari tadi mendengarkan menyentuh dadanya. "Eh...kok aku sih...?" ia geli sendiri setelah menyadari seolah-olah ucapan Baginda Raja ditujukan untuk dirinya.
"Menikah? Aku menikah? Tapi ayah..." kali ini Putri Gading Cempaka yang angkat bicara.
"Iya. Ayah dan Raja Bermano sudah satu pemikiran untuk mempererat hubungan kedua kerajaan dengan menikahkan kamu dengan anaknya, Pangeran Satria."
"Tak usah risau, anakku. Pangeran Satria adalah anak yang baik. Tak ada pangeran yang lebih baik dan cocok untuk mendampingimu," kata Ibu Ratu.
"Aku yakin dengan pilihan Ayah dan Bunda. Tapi aku risau bagaimana dengan nasib kedua kakak beradik itu? Maksudku, ayah pernah menolak pinangan pangeran Aria, tapi sekarang ayah ingin menikahkan aku dengan adiknya. Bagaimana perasaannya? Aku tak ingin menjadi sumber permusuhan keduanya..." terang Gading Cempaka.
"Semua itu sudah diurus sama Raja Bemano..."
Gading Cempaka menghela napas. Kilatan pedang yang berlumur darah dalam mimpinya kembali melintas di benaknya.
"Sudahlah... jangan terlalu larut dalam pikiran-pikiran buruk. Segala kejadian itu sudah digariskan sama Sang Pencipta. Manusia tak bisa menghindari kehendak Yang Diatas. Musibah dan aral bisa sewaktu-waktu datang. Karena itu sebagai manusia hendaknya kita senantiasa berbuat kebajikan agar senantiasa siap dan ikhlas saat hal-hal yang tak diinginkan itu terjadi..." nasehat raja.
KAMU SEDANG MEMBACA
BANGSAT
RandomGedang tak habis pikir kenapa orang tuanya sepertinya sangat menginginkan ia menyukai laki-laki, padahal ia sendiri adalah seorang laki-laki juga. Hal itu bukan perasaan Gedang saja. Kenyataannya orang tuanya lebih menyukai kalau dirinya membawa tem...
