Tak... tak... tak....!
Bunyi sepatu beradu dengan lantai terdengar jernih di telinga Gedang. Suara itu terdengar dari arah pintu. Gedang yang masih berlutut di bawah meja memiringkan wajahnya ke arah sumber suara. Dari tempatnya sekarang, ia hanya bisa melihat sepasang sepatu hitam mengkilat yang berjalan gontai ke arah meja guru. Ah, tidak. Langkah kaki itu berjalan menuju ke arah bangkunya.
"Hah???! Ke arah bangkuku? Siapa ya? Heran, kok pada diam sih...???" gumam Gedang seraya buru-buru bangkit untuk melihat siapa pemakai sepatu mengkilat yang masuk seenaknya saja tanpa mengucapkan salam ataupun permisi itu.
"Hmm...!" suara deheman terdengar tepat di samping mejanya.
Gedang menoleh dan ia terkejut sambil memegangi dadanya. "Abang...?!"
"Uhm? Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" tanya Gedang sambil memperhatikan sekeliling. Semuanya mematung. "Pantas saja semuanya diam. Udah diguna-gunain sama nih orang," gumam Gedang dalam hati sambil menatap Satria yang nampak mempesona di depannya.
What? Kok aku muji dia sih? Gedang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa?" Satria kembali mengajukan pertanyaan yang sama.
"Seharusnya aku yang nanya kenapa kamu di sini?" Gedang balik nanya.
Satria mengerutkan keningnya. "Kamu yang---"
"Kamu mau bujuk aku buat kembali lagi ke rumah kamu? Aku nggak akan kesana," terang Gedang sambil duduk di kursinya.
"Nggak. Bukan itu. Kamu yang---"
"TERUS KENAPA?! Kenapa kamu---" Gedang memelankan intonasinya. Entah kenapa ia jadi emosi karena jawaban Satria barusan. "Ih, kok aku kesal ya alasan dia datang ke sini bukan karena itu? Ih, apaan sih!" ia tak bisa memungkiri perkiraannya yang salah barusan membuat moodnya langsung meluncur bebas.
"Kamu yang panggil aku ke sini..." akhirnya Satria menuntaskan ucapannya setelah terus dipotong sama Gedang.
"Hah?! Aku? Manggil kamu? Nggak tuh...!"
"Masa sih? Tapi tadi aku dengar sendiri kok. Bahkan tubuh aku langsung tertarik ke sini sebelum aku bisa menyadarinya..." terang Satria. Dan ia yakin ia tidak salah dengar. Lagi pula ia tidak akan pernah salah dengar. Apalagi gelombang magnet semacam portal yang menghantarkannya ke tempat Gedang itu hanya akan muncul otomatis ketika Gedang menyebut kata Bangsat.
"Nggak!" bantah Gedang bersikeras. "Aku nggak---" ucapannya terhenti ketika melihat pulpen di atas mejanya.
Shit, gerutunya. Ia baru ingat sekarang kalau tanpa sadar ia sudah menyebut kata Bangsat sesaat melihat formasi bunga cempaka tadi...
Gedang buru-buru melongok ke bawah meja. Tidak ada apa-apa di sana kecuali lantai berdebu.
"Kamu nyari apa?" tanya Satria.
"Nggak. Ini...tadi ada bunga cempaka bertebaran di bawah meja aku... tapi sekarang kok hilang...?" terang Gedang.
"Apa? Cempaka?"
"Iya. Bunga cempaka yang membentuk huruf S. Mungkin saat itulah aku nyebut nama kamu tanpa sadar..."
Satria berusaha mencerna keterangan Gedang. Bunga cempaka? Huruf S? S untuk Satria kah?
"Terus setelah itu apa lagi? Kok bisa tiba-tiba ada bunga cempaka? Awal mulanya gimana?" tanya Satria.
Gedang pun menceritakan semuanya dari awal. Satria mendengarnya dengan cermat.
KAMU SEDANG MEMBACA
BANGSAT
RandomGedang tak habis pikir kenapa orang tuanya sepertinya sangat menginginkan ia menyukai laki-laki, padahal ia sendiri adalah seorang laki-laki juga. Hal itu bukan perasaan Gedang saja. Kenyataannya orang tuanya lebih menyukai kalau dirinya membawa tem...
