"Bangsat."
Gedang menghitung satu... dua... tiga.... dalam hati sambil mengetuk-ketuk bibir dengan ujung telunjuknya setelah mengucapkan kata itu.
Sedetik kemudian terdengar bunyi BUG di atas bathtub. Gedang menoleh dan terkekeh. Sementara Satria menatapnya dengan mata terbelalak.
"Ada apa?" tanya Satria seraya bangkit dan mendekati Gedang.
"Abang kemana?"
"Keluar. Kamu baik-baik aja?"
"Aku khawatir..." desis Gedang sambil menarik-narik baju Satria.
"Khawatir sama Abang?"
"Bukan. Khawatir Abang pergi. Terus aku gimana???"
Satria menghela napas. "Ternyata mengkhawatirkan dirinya sendiri..."
"Abang pergi kemana? Keluarnya kemana?"
"Hmm, ntar aja ngobrolnya. Mandi aja dulu gih..." Satria melewati Gedang menuju pintu. Tapi Gedang dengan sigap menangkap lengan Satria.
"Lebih asik ngobrol di sini..."
Satria menatap Gedang dari ujung rambut sampai ujung kaki berkali-kali. Yang ditatap justru senyam-senyum gak karuan. Satria pun buru-buru menempelkan punggung tangannya ke jidat Gedang. "Are you okey?"
Gedang menjatuhkan tangan Satria dengan cemberut. "Aku sengaja tahu manggil kamunya di kamar mandi..." kata Gedang nyaris berbisik.
"Oh ya? Kenapa???"
Gedang tak menjawab. Sebagai jawaban ia melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya...
***
Gedang diantar ke sekolah oleh Satria. Gedang mengendarai motornya sendirian dari rumah. Tapi di ujung jalan Satria sudah menunggunya. Dari sana gantian Satria yang mengendarai motor sementara Gedang duduk di boncengan. Sepanjang perjalanan ia memeluk Satria tanpa memperdulikan orang-orang yang memperhatikan mereka.
Gedang minta diturunkan sebelum mencapai gerbang sekolah. Ia turun lalu mencium tangan Satria. "Nanti pulangnya jemput ya..." katanya.
Satria mengangguk. "Kalo ada apa-apa langsung panggil Abang."
"Siap!"
Satria terkekeh. Ia mengacak rambut Gedang. "Ya sudah, sekolah sana."
"Oke. Bye, Abang!" seru Gedang seraya melangkah dengan riang menuju gerbang sekolah.
Sebelum sampai di depan pintu gerbang, langkahnya terhenti oleh Rizaldi. "Lho, kok kamu gak bawa motor? Motor kamu tadi itu dibawa sama siapa?"
Gedang menoleh ke arah Satria yang sekarang sudah semakin menjauh dari pandangan. "Oh, dia abangku. Abang jauh dari leluhur."
"Ngaco deh!"
Gedang terkekeh.
"Ya udah, naik gih!"
Gedang melompat naik ke boncengan motor Rizaldi.
"Hari ini ceria amat? Menang lotere?"
"Nggak. Ketiban durian runtuh."
"Sakit dong?"
Gedang hanya tertawa.
Ketika menuju parkiran, ia melihat Ambar tengah berjalan menuju kelas. Sontak ia langsung meminta Rizaldi menghentikan motornya lantas berteriak memanggil Ambar sambil berlari menghampiri gadis itu.
"Pangeran kembali...!!!" seru Gedang antusias.
"Oh ya???"
Gedang mengangguk-anggukankan kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BANGSAT
De TodoGedang tak habis pikir kenapa orang tuanya sepertinya sangat menginginkan ia menyukai laki-laki, padahal ia sendiri adalah seorang laki-laki juga. Hal itu bukan perasaan Gedang saja. Kenyataannya orang tuanya lebih menyukai kalau dirinya membawa tem...
