"Abang...? Aku nggak manggil kam---okey, sorry..." Gedang baru ingat kalau barusan ia mengumpat dengan kata 'bangsat' tanpa disadarinya.
"Kamu baru bangun? Bentar lagi bel masuk bunyi..." tanya Satria sambil menyendokkan satu sendok nasi yang ikut terbawa bersamanya tadi.
"Ini juga---"
Tok! Tok!
"Kakk....!"
"Gedaangg...!!!"
"Kamu dipanggil tuh..." potong Satria.
"Biarin aja."
"Kok gitu?" Satria berjalan menuju pintu kamar.
"Eee, Abang mau ngapain??"
"Bukan pintu."
"JANGAANNN!" Teriak Gedang.
Suasana hening seketika mendengar teriakan Gedang barusan.
***
Betari, Kamidia dan kedua orang tua mereka saling pandang setelah mendengar teriakan dari dalam kamar Gedang.
"Kalian dengar suara kan?" tanya Evita.
Agung mengangguk.
"Iya. Suara Kak Gedang teriak. Dia kenapa ya..?"
"Tuh kan, Paaa...!" kecemasan luar biasa makin melanda Evita. Hal itu terlihat jelas dari mimik wajahnya.
Agung menghela nafas mencoba bersikap tenang. "Tenang...nggak usah panik gitu..." katanya seraya kembali---kali ini bukan mengetuk----menggedor pintu kamar.
"GEDAANNGGGGG....!"
DOR...DOR!!!
"KAKAAAKKKK...!!!"
DOR...DOR!!!
"NAA..AAKK...HHH...."
Gedoran mereka makin brutal.
***
"Jangan kenapa?" tanya Satria tak mengerti. "Mereka mencemaskan kamu lhoo..."
"Biar aku aja yang buka pintu. Mereka bakal lebih cemas lagi kalo tiba-tiba yang bukain pintunya orang lain..." gerutu Gedang.
Satria terkekeh.
Gedang berjalan menuju pintu kamar yang terus digedor sama keluarganya. Gedoran bercampur teriakan mereka ampuh untuk memecahkan gendang telinga. Ia sudah memegang gagang pintu, sebelum kembali menoleh ke Satria.
Satria mengangguk.
"Abang tetap mau di situ? Sama aja boong."
"Ohh... okee...." satria menuju kamar mandi yang ada di kamar itu untuk sembunyi.
DOR....DORR...!!!
"Berisiikkkkk, wooeeeyyyy!!!!" teriak Gedang sambil membuka pintu kamar.
Setelah pintu dibuka....
"GEDAAANGGGG..!!!"
"KAKAKKKKK....!"
Mereka semua menyerbu Gedang yang nampak bosan.
"Kamu kenapa di dalam...???" tanya sang mama.
Sementara sang Papa sibuk celingak-celinguk memperhatikan seisi kamar.
"Gedang baik-baik aja, kok."
"Terus kenapa nggak nyahut saat dibangunin...? bikin khawatir aja....!" gerutu Mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
BANGSAT
AcakGedang tak habis pikir kenapa orang tuanya sepertinya sangat menginginkan ia menyukai laki-laki, padahal ia sendiri adalah seorang laki-laki juga. Hal itu bukan perasaan Gedang saja. Kenyataannya orang tuanya lebih menyukai kalau dirinya membawa tem...
