Satria menatap lukisan pohon cempaka berbingkai emas di kamar yang pernah di tempati Gedang. Ia melihat keajaiban di sana. Pohon cempaka berbunga lebat itu kini meranggas. Kelopak-kelopaknya hilang entah kemana. Satria terkejut. Ia berlari keluar dan menuju kamarnya sendiri. Lukisan Cempaka yang berada di kamarnya pun demikian. Hanya menyisakan dedaunan yang menguning.
Serasa tak percaya, Satria menatap lukisan itu lekat. Sepertinya indera penglihatannya bermasalah. Bagaimana mungkin lukisan itu bisa berubah dengan sendirinya? Apalagi lukisan itu benda mati.
Ia teringat dengan kuntum-kuntum Cempaka yang berguguran di taman saat Evita dan Agung pamit pulang...
Satria lantas menatap keluar jendela. Ia tak bisa berkata-kata saat melihat hamparan rumput sudah tertutup dengan kelopak-kelopak cempaka di luar sana. Hanya menyisakan sedikit sekali kelopak cempaka yang menggantung pada tangkainya.
Apa yang terjadi? Mengapa semua bunga cempaka itu berguguran?
***
Gedang terkejut. Secara tiba-tiba ribuan kuntum Cempaka menimbun tubuhnya. Entah berasal dari mana, kuntum-kuntum bunga itu terus menenggelamkan tubuhnya hingga sulit bernapas.
Tidak! Aku tak bisa bernapas... Gedang meronta-ronta. Semakin kuat ia berusaha bangkit, semakin banyak pula kuntum-kuntum bunga itu menghujani tubuhnya.
Ba...ba..., bahkan untuk berucap pun ia kesulitan sekarang.
Bang..., seluruh tubuhnya sudah tertimbun bunga. Dadanya sempit dan serasa mau meledak.
Bangsat!
Akhirnya Gedang berhasil meneriakkan nama itu seraya membuka matanya. Ia menghela napas lega setelah menyadari yang barusan ia alami hanya mimpi. Ia melirik weker di bawah lampu tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Samar-samar ia menangkap suara teve yang masih menyala di ruang keluarga. Kemungkinan sang papa masih terjaga saat ini.
Gedang mencoba untuk tidur lagi. Tapi kantuk sepenuhnya sudah hilang. Ia tak kunjung kembali terlelap. Pikirannya mengembara jauh entah kemana. Berkelana melintasi tempat yang terasa sangat asing. Ia melihat dataran hijau yang luas... hamparan hutan yang memutih... sungai yang mengalir tenang... Gedang tak mengenali tempat-tempat itu, tapi semuanya tampak tak asing.
Ia mengubah posisi berbaringnya. Namun itu tak mampu menenangkannya. Pikirannya semakin liar. Ia terus melihat tempat-tempat baru namun terasa tak asing. Ia melihat istana, taman bunga, pemandian.... semuanya tampak nyata di pelupuk matanya. Apakah ini kenangan dari sang Putri?
Gedang lantas bangun, termangu sebentar lalu pergi ke kamar mandi. Mungkin setelah mencuci muka semua pikiran dan gambaran itu bisa hilang. Ia kemudian pergi ke kamar mandi. Saat ingin kembali naik ke tempat tidur, ia tergelitik untuk ke ruang keluarga setelah mendengar teve yang samar-samar masih menyala. Toh, kantuknya udah benar-benar pergi entah kemana.
Ia mendapati sang papa tengah menonton acara UFC di salah satu teve swasta. Sang papa emang penggemar olahraga MMA itu, meskipun sang mama kerap kali berkomentar kalau olahraga itu nggak ubahnya sabung ayam, tapi bedanya yang ini diadu manusia.
Melihat kedatangan sang putra, Agung langsung bertanya, "Kok bangun? Kenapa?"
"Kebangun Pa, dan nggak bisa tidur lagi..." jawab Gedang seraya menghempaskan pantatnya ke samping sang Papa.
"Oohh... mimpi lagi?"
"Eh? Kok papa tahu aku barusan mimpi?"
"Biasanya dulu kamu gitu kan..., kalo kebangun mimpi dan gak bisa tidur lagi..."
KAMU SEDANG MEMBACA
BANGSAT
RandomGedang tak habis pikir kenapa orang tuanya sepertinya sangat menginginkan ia menyukai laki-laki, padahal ia sendiri adalah seorang laki-laki juga. Hal itu bukan perasaan Gedang saja. Kenyataannya orang tuanya lebih menyukai kalau dirinya membawa tem...
