Chapter 6

1K 86 3
                                    

"Jadi, siapa wanita itu, Rion?" tanya Arianne dengan tangan yang melingkar manja di leher kakaknya. Orion yang risih langsung melepaskan pelukan adiknya itu dengan kesal. "Dia kekasihku. Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang, pergilah."

"Ck. Dia pasti belum mengetahui sifatmu yang sebenarnya. Kalau dia sampai tahu, dia pasti akan langsung memutuskan hubungan kalian," sindir Arianne.

"Adel tidak seperti itu," protes Orion. After all, she'll stick to the game 'till the end, sambung Orion dalam hati.

"Oh, jadi namanya Adel! Mom, aku sudah mengetahui nama wanita itu!" teriak Arianne pada Carol yang sedang berada di dapur. Lalu, gadis bermata bulat itu kembali menatap wajah kakaknya. "Ayolah, siapa nama panjangnya?"

"Adelynn Blake," jawab Orion berbohong. Tidak sepenuhnya kebohongan karena sudah tertulis di identitas palsu wanita itu.

"Wah, tak kusangka kau akan memberitahuku secara Cuma-Cuma!" katanya girang.

"Anne, berhenti mengganggu kakakmu. Lebih baik, kau bantu ibumu," ujar William sambil melipat koran yang sudah dibacanya.

Arianne akhirnya memberikan ketenangan kepada Orion. "Jadi, kapan kau akan memperkenalkan dia pada kami?" tanya William.

"Well, Adel sedang mengurus kepindahannya ke sini," jawab Orion. William mengangguk-angguk. "Dari mana asalnya?"

"Washington."

Lalu, Carol datang membawa kue kering yang masih hangat. "Puji Tuhan. Akhirnya, kau lepas dari wanita licik itu," kata Carol senang. Biasanya, Orion akan marah jika Carol atau Arianne menghina dan menjelek-jelekan Anika, tapi kali ini dia hanya diam.

"Wow! Dad, coba lihat! Dia bahkan tidak marah saat kita menghina wanita gila itu!" Arianne meloncat kegirangan.

"Huft. Bisakah kau diam sejenak, Anne? Rasanya kepalaku akan meledak mendengar suaramu yang sangat mengganggu itu!" protes Orion. Orion pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar.

Carol menghela napasnya. "Andaikan saja Damian ada di sini. Mungkin, dia bisa membuat Orion tetap duduk di sini.." William merangkul bahu istrinya itu. "Suatu saat, dia pasti kembali. Kita hanya harus yakin bahwa dia tidak apa-apa dan bersabar.."

Orion menghela napasnya. Ia tengah berada di balkon kamarnya sambil memandangi taman luas di mana ia sering bermain dengan saudaranya dulu. Namanya Damian Javier yang sering dipanggil dengan Dammie. Damian dan Orion bagai langit dan bumi, mereka sangat berbeda. Sosok Damian yang ramah dan penuh dengan warna selalu dikelilingi oleh orang-orang walaupun ia tidak sepintar Orion dan itu membuat Orion sedikit iri kepadanya.

Dan, sepuluh tahun yang lalu, Damian pergi meninggalkan rumah dan menghilang tanpa kabar hingga saat ini. Orion tahu jelas apa yang membuatnya pergi, yaitu dirinya sendiri. Masalah yang selalu membuat mereka bertengkar, tentu saja Anika. Sampailah pada puncaknya di mana Orion mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak pernah ia ucapkan pada adiknya itu. Ia sudah berencana untuk meminta maaf pada Damian, namun keesokan paginya, dia menghilang.

Hingga saat ini, Orion masih dalam penyesalannya. Ia masih mengerahkan orang-orangnya untuk mencari adiknya itu, namun hasilnya nihil. Ia merasa bahwa adiknya itu benar-benar tidak ingin bertemu dengannya dan itu membuatnya semakin merasa bersalah.

Orion pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya saat matahari tenggelam. Ia ingin mengalihkan perasaannya, jadi ia memilih untuk menghubungi Adelia. Ya, wanita itu bisa memperbaiki perasaannya yang kacau.

Staying AfloatTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang