[27] The Secret

739 59 5
                                    

Hallo semuanya!! Aku balik setelah ujian2 yang menyusahkan itu selesai. Fiuhh 😌. Nah, sebelumnya aku mau terima kasih sama kalian yang udah mau baca, vote, dan terutama yang komen nih. Jadi bikin semangat, hehe.. Tolong kritik dan sarannya ya.. Dan jangan lupa dukung cerita ini biar aku bisa tamatin soalnya seumur hidup aku susah banget mau tamatin cerita karena kehabisan ide. Jadi tolong dukungannya, ya 😀.

Oke, happy reading!!
________________________________________________________________

"Jadi, kemana kita akan kembawanya?" tanya Dylan bingung.

Adel masih diam sambil mengusap berlian pada kalung ibunya. "Aku tidak tahu.."

"Ck. Yang benar saja!" kata Dylan kesal.

Eddie dan Wyne hanya menggelengkan kepala mereka. "Bagaimana kalau rumah Oliver? Kudengar dia tinggal bersama tunangannya. Kupikir, tunangannya itu bisa merawatnya dengan baik," usul Wyne.

"Mm, apa Oliver mengijinkan?" tanya Eddie ragu.

"Sudah kuputuskan.." Adel menyimpan kalung ibunya di dalam saku. "Dia akan ke rumah Alfred."

"Kau yakin?" tanya Dylan.

Adel mengangguk,"1000%"

Eddie memutar kemudinya,"Baiklah. Rumah Alfred."

Lalu, semuanya kembali tenang. Wyne sibuk mencari alamat rumah Alfred dan Eddie fokus menyetir. Dan Dylan, ia sibuk membandingkan wajah Adel dengan Jonathan.

"Kalian benar-benar mirip. Hei, apa itu?" Dylan menatap berkas-berkas di pangkuan Adel. Sedangkan Adel tengah membuka salah satunya.

"Jalang itu...dia tahu keberadaan ibuku selama ini," ucap Adel datar.

Dylan yang penasaran menatap isi map biru itu. Ada beberapa foto wanita paruh baya yang terlihat cantik, juga beberapa catatan di sana.

Adel menutup map tersebut dan membuka map lain yang berwarna hijau. "Warisan.."

"Heh, dia benar-benar picik dan serakah! Dia bahkan hanya mencintai harta pria tua ini. Ck, dasar pria tua bodoh!" umpat Adel. Persetan dengan Jonathan yang tengah berbaring di bangku sebelahnya.

Adel kembali menutup map tersebut dan membuka map baru. Kali ini berwarna putih. Dahinya berkerut melihat sebuah amplop berwarna biru muda di dalam sana. Ia mengambilnya dan mengamati setiap sudutnya. Masih tersegel, batinnya.

Tidak ada nama pengirim atau untuk siapa surat itu ditujukan. Perlahan, Adel membuka amplop tersebut. Ada secarik kertas berwarna putih di dalamnya.

Untuk kedua anak yang kusayangi, Adel dan Devan,

Maafkan Ibu. Ibu harus pergi karena ayah kalian akan lebih bahagia bersama wanitanya. Ibu tidak bisa membawa kalian karena Ibu tidak ingin kalian hidup sengsara. Ibu tidak memiliki apa-apa lagi selain kalian, maka dari itu dengan beginilah Ibu akan menjaga kalian.

Jadilah anak-anak yang baik. Jangan merepotkan ayah kalian. Dia sudah lelah bekerja. Jangan lupa makan dan bersikaplah baik.

Dan ingat, kalian berdua adalah kebahagiaan yang pernah Tuhan berikan pada Ibu. Ibu mencintai kalian. Selalu.

Tertanda,

Ibu

Mata Adel mulai berkaca-kaca. Sekarang ia tahu, tidak seharusnya ia dan Devan membenci ibu mereka. Ini semua ulah jalang berkepala ular itu.

"Hei, kau tak apa?" tanya Dylan.

"Hm. Kapan kita sampai?" tanya Adel mengalihkan pembicaraan.

"Lima menit lagi.." jawab Eddie.

Adel menghela napas dan membanting tubuhnya ke bangku empuk tersebut. "Dylan.." panggilnya.

"Hm?"

"Kau tahu di mana Len?"

🐚🐚🐚

ORION :

"APA?! Bagaimana bisa kau menundanya, Dad?" tanyaku tak percaya.

Dad mengangguk dan sedikit mengernyit. "Jadi, dia benar-benar belum memberitahumu sama sekali.."

Dahiku ikut berkerut. Sebenarnya, ada apa ini? Apa yang Dad dan Adel sembunyikan?

"Memangnya ada apa, Dad?" tanyaku penasaran.

Dad menggeleng,"Dad tidak bisa memberitahumu. Tanyakan pada Adel."

"Kau tahu, kenapa dia tidak memberitahumu?" tanya Dad sambil membuang pandangan ke tetesan air hujan yang hinggap di kaca jendela.

"Karena dia ingin melindungimu."

Baiklah. Aku sedikit tidak mengerti. Bukan. Sangat tidak mengerti. Melindungi? Memangnya aku dalam bahaya?

"Dad, katakan padaku. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" paksaku.

Dad menghela napasnya,"Adel bukanlah seperti gadis pada umumnya."

Aku tersenyum,"Aku tahu itu, Dad. Dan karena itu dia berbeda."

Dad tersenyum,"Kau benar-benar jatuh cinta padanya, kan? Aku bisa melihat binaran matamu setiap kali kau membicarakannya."

Apa benar-benar terlihat? Ugh, kenapa telingaku terasa panas???

"Ya, sudah. Tanyakanlah padanya, tapi ingat jangan paksa dia untuk bercerita. Apapun yang dia lakukan, semuanya bertujuan untukmu, Orion," ujar Dad sambil menatapku serius.

Aku mengangguk.

Aku akan menemuinya malam ini.

🐚🐚🐚

Orion menatap apartemen adiknya takjub. Bantal, selimut, kaleng bir, dan bungkus makanan berserakan di ruang tengah. Tv masih menyala, namun tidak satupun dari keempat orang ini yang menontonnya. Tertidurlah dua orang yang ia kenali dan sisanya tidak sama sekali.

Adel tertidur dengan kaki yang berada di kepala sofa dan kepala yang hampir menyentuh lantai. Sedangkan adiknya tertidur dengan kepala di atas meja. Dalam hatinya ia menggerutu, Benar-benar!

Perlahan, Orion membangunkan kekasihnya. "Sugar, wake up.."

Adel membuka matanya dengan malas dan mendapati mata tajam Orion tengah menatapnya dengan lembut. Adel tersenyum,"Hei, Bee."

Orion mengelus rambut Adel dengan lembut,"Kau mabuk, hm?"

Adel menggeleng kepalanya kuat,"Haha.. Mana mungkin aku mabuk!"

Okay, she's drunk, batin Orion.

"Let's go. I'll take you home." Orion membantu Adel untuk duduk.

"Aku tidak mau pulang. Devan bisa marah.." Adel memasang wajah sedihnya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.

"Lalu, kenapa kau minum, hm?" tanya Orion lembut.

"Hanya karena."

"Hanya karena?" beo Orion bingung. Adel mengangguk dengan keadaan teler.

"Piggy back.."

Orion tersenyum mendengar rengekan kekasihnya itu. Dengan senang hati, ia menggendong Adel ke punggungnya.

"How about my place?" tanya Orion setelah mereka keluar dari elevator.

Adel mengeratkan pelukannya di leher Orion,"Sounds good.."

🐚🐚🐚

Staying AfloatTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang