[17] Trouble

820 77 5
                                    

Ada yang kangen pov orion? Ini dia...
Rion dan adel butuh 🌟 dari kalian biar si author ini semangat bikinnya. Btw happy reading.. Mood lg oke update 2x hehe
________________________________________________________________

ORION :

Aku memasuki ruangan bertuliskan VVIP 2 itu. Aku mengetuk pintu itu dan masuk. Dan kudapati Adel sedang terbaring di atas ranjang putih itu. Dia sedang tidur.

Aku mendekat dan meletakan sebuket tulip berwarna pink di atas meja. Pipi, lengan, terutama kakinya terluka. Dengan keberanianku, aku duduk di samping ranjangnya dan mulai menatap wajahnya yang tenang. Aura arogannya menghilang saat ia tertidur. Sekarang, dia benar-benar terlihat manis dan polos. Gadis ini..

Grep! Tanganku terpelintir. Aku menatap gadis ini tak percaya. Dia tengah memelintir tanganku.

Napasnya berderu dan perlahan dia melepaskan siksaannya.

Ya, Tuhan. Aku baru saja menyentuh wajahnya dan dia memelintir tanganku. What the fuck?! Sebenarnya, dia ini apa?!

"Jangan lakukan itu. Tanganmu bisa saja patah," katanya dengan napas yang tersengal-sengal. Lalu, dia kembali membanting dirinya ke kasur.

"Terakhir aku tertidur tanpa waspada, aku hampir mati tenggelam," tambahnya.

"Kau punya trauma?" tanyaku penasaran.

"Bukan trauma. Hanya sebuah pembelajaran. Oh, kau membawakanku bunga!" Dia kembali terduduk dan mengambil buket bunga yang kubeli.

"Wah, tulip pink! Terima kasih, Javier!" Dia berseru bahagia. Gadis ini benar-benar sederhana.

"Kau suka?"

"Ya. Tentu saja! Ini bunga favoritku dengan warna kesukaanku. Dylan juga sering memberikanku bunga tulip. Sayangnya, dia memberikanku yang berwarna kuning," katanya dengan bibir yang berkerucut.

Mengingat Dylan membuatku kesal pada adikku itu. Kenapa harus dia yang dijodohkan dengan Adel? Kenapa tidak aku saja?!

"Adikmu itu..Sahabat yang tidak mau menjadi sahabatku," ceritanya lagi. Egh, bukannya itu terlalu terbelit-belit? Tapi, apa katanya? Dia hanya menganggap Dylan sebagai sahabat?

"Sahabat?" beoku tolol.

"Ya. Kami sudah lama bersama. Bertengkar setiap hari dan saling menolong. Dan itu seru.."

"Jadi, kau menyukainya?" Pertanyaan itu lolos dari mulutku begitu saja. Fuck up, this fucking mouth!

"Menyukainya?? Hm... Mungkin," jawabnya sambil mengedikkan bahu.

Jawaban tidak pasti. I hate it so much!

"Katakan padaku. Aku perlu jawaban yang pasti, Adelia." Matanya membulat terkejut. Lalu, dia kembali memalingkan wajahnya.

"Kenapa aku harus memberitahumu?" Pertanyaannya membuatku terdiam. Haruskah sekarang?

"Tidurlah. Kau perlu istirahat. Aku akan pergi." Aku mulai bangkit dari dudukku, tapi dia mencekal tanganku.

"Jawab pertanyaanku, Orion." Dia menatapku dalam. Masa bodoh dengan ego dan harga diri.

"Aku sudah jatuh dalam pesonamu, Adelia Summer.."

🐚🐚🐚

Raven duduk di lobby perusahaan milik Oliver. Jarinya mengetuk-ngetuk meja tak sabaran. Ia tahu, ia datang lima belas menit lebih awal.

"Sepertinya, kau benar-benar tak sabar untuk berbicara denganku, Rave.." Tanpa ia sadari, Oliver sudah duduk di hadapannya.

"Tidak usah basa-basi, Oliver. Kau tahu apa yang aku inginkan. Kau juga tahu kalau aku sudah mengetahui semuanya," ucap Raven datar.

"Ya, ya, ya, teman lama yang tak sabaran. Ikut aku," kata Oliver pada akhirnya.

Mereka pun memasuki elevator. Oliver meletakan kartunya pada mesin scan dan memencet tombol berangka 27, lantai tertinggi gedung ini. Namun, apa yang dirasakan oleh Raven bukanlah menuju lantai teratas, tapi terbawah.

"Apapun yang kau lihat nanti, tetap jaga mulutmu agar tidak terbuka," ujar Oliver setengah bercanda.

Begitu pintu elevator terbuka, suara-suara gaduh mulai terdengar di telinga Raven. Ia tercengang melihat tempat yang didominasi sekat-sekat kaca itu. Ditambah lagi dengan beberapa orang yang tengah melakukan aksi luar biasa. Mulai dari bela diri, meditasi, dan latihan melewati sensor laser? Jelas ini bukan tempat biasa.

"Selamat datang di bisnis gelapku, Javier," sambut Oliver.

"Ayo, kita harus bertemu dengan Sang Guru Besar," ajak Oliver pada Raven yang masih tercengang.

Tak lama, mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan tertutup. Mereka masuk dan mendapati tiga orang laki-laki yang tengah mengobrol.

"Alfred," panggil Oliver.

"Oliver. Ada apa?"tanya pria tua dengan setelan putih ala biksunya itu. Tenang saja, dia tidak memangkas habis rambutnya.

"Perkenalkan, ini Raven Javier. Dia ingin berbicara empat mata denganmu," kata Oliver.

"Aku akan meninggalkan kalian. Anak-anak, ayo!" ajak Oliver pada dua murid Alfred.

Setelah mereka pergi, Alfred dan Raven duduk berhadapan di sebuah sofa. "Jadi, apa yang ayah Dylan lakukan di sini?" tanya Alfred.

"Kau tahu? Apa Dylan menceritakan soal keluarganya padamu?" tanya Raven.

"Hm. Sepertinya, dia tidak memberi tahumu tentang pekerjaannya. Dan, tidak. Dia tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Aku tahu segala hal tentang murid-murid terbaikku."

"Dylan? Murid terbaikmu?" tanya Raven tak percaya. Yang ia tahu adalah anak bungsunya itu hanya pergi bersenang-senang dan membuat semua orang khawatir.

"Hei, jangan meremehkan dia. Lain kali, perhatikan dia. Dari psikolognya, aku tahu dia sering diabaikan. Kau belum melihat betapa membanggakannya anakmu itu," ujar Alfred seolah tahu semuanya.

"Dia menguasai fisika dengan sangat baik. Bakat menembaknya nomor satu dan dia tinggi, tampan, dan menawan," puji Alfred.

"Ya. Kau benar. Aku baru melihatnya kemarin. Dia benar-benar berbeda dari yang sering kulihat," kata Raven membenarkan.

"Dan, apa Adelia Summer adalah muridmu juga?" tanya Raven.

"Summer? Heh, jadi gadis itu mengubah nama belakangnya.." ujar Alfred membuat Raven mengernyit.

"Maksudmu..namanya bukan Summer?"

Alfred menggeleng,"Dia itu..."

"...anak sulung Jonathan Dexter."

🐚🐚🐚

Staying AfloatTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang