[11] The Talk

823 78 3
                                    

Holaaaaa! I'm back. Ini ngupdatenya sore gpp kli ya. Bodo la. Happy reading..

Tekan bintang ya..
________________________________________________________________

ORION :

Darn it! Kenapa dia harus datang?! Ck, padahal aku berniat mendekati Adel di kesempatan ini. Shit!

Aku baru saja duduk bersama Dad dan Mom di meja makan selagi menunggu Adel yang sedang mandi. Tiba-tiba saja, Vanni datang dan langsung duduk di sampingku. "Paman, Bibi, bolehkah aku ikut makan malam?" tanyanya masih bergelayut di lenganku. Dad mengangguk membuat Mom mendengus kesal.

Tak lama, Adel datang dengan mata terbelalak. Sepertinya, dia terkejut akan kehadiran Vanni di sini. Vanni pun begitu. What the hell is going on between them?

Adel langsung mentralkan wajahnya dan duduk di samping ibuku. Dia benar-benar pandai bermain, pikirku.

"Oh, Adel. Perkenalkan, ini Vannia, calon menantu kami," kata Dad.

Vanni mengulurkan tangannya yang langsung dijabat oleh Adel dengan sebuah senyuman aneh. Ya, aneh..

"Vannia Dexter."

"Adelia Summer, teman Wanda di kelas Yoga."

Kemudian, kami mulai memakan makanan kami. Mom terus saja mengajak Adel berbicara dan itu membuatku senang. Apalagi, saat melihat wajah Vanni yang pias karena tidak diajak berbicara sedari tadi.

"Orang tuamu pasti bangga karena kau dan adikmu berhasil membangun perusahaan sendiri," puji Mom.

Adel tersenyum,"Kami tidak punya orang tua."

Perkataannya membuat aku, Mom, dan Dad terdiam. Adelia Summer..kau benar-benar mengejutkan. I'm fucking curious about you.

"Oh, maaf," kata Mom tak enakkan.

"Tidak apa. Ngomong-ngomong, kami tidak akan bisa mendirikan Summer tanpa bantuan Paman Tua Oliver," kata Adel merendah.

"Nah, lalu kenapa kau tidak menerima tawaran kerja sama perusahaanku?" celetuk Vanni membuat Adel terdiam.

Mom berdecak,"Bisakah kita tidak membahas masalah pekerjaan di rumahku?" Okay, she's pissed off.

"Ah, tidak apa, Wanda," ujar Adel sambil tersenyum. Lihatlah, dia benar-benar sopan di hadapan kedua orang tuaku. Sangat berbeda saat berdua saja denganku.

"Kudengar, pemimpin perusahaan Dexter tidak becus mengurus pekerjaannya sehingga harus merepotkan para bawahannya," jawab Adel membuat Vanni diam tak berkutik.

Mom tersenyum penuh kemenangan sedangkan Dad terdiam. Sepertinya, Adel tidak tahu bahwa Vannilah yang menjabat sebagai pemimpin di perusahaan milik ayahnya itu.

"Ya, walau aku tidak pernah bertemu pemimpinnya secara langsung. Tapi, saat melihat Tuan Jonathan Dexter datang ke perusahaan kami, aku langsung dapat memastikan kebenaran rumor itu," tambah Adel membuat Vanni geram.

Dad terkejut, begitu juga Mom. Dad yang merupakan sahabat Paman Jonathan sangat tahu bahwa Paman tidak mau lagi turun tangan mengurusi perusahaannya. "Benarkah, Jonathan mendatangi kalian? Lalu, apa kalian menerima tawaran kerja samanya?" tanya Dad.

Adel menggeleng,"Tidak."

"Wow, kau benar-benar wanita berprinsip, Summer," pujiku membuat Vanni mendelik kesal. Hahaha. Andai aku bisa tertawa sekarang.

"Nah, kau bisa mengatakan itu pada ayahmu, hm?" ujar Mom pada Vanni.

"Sayang.." peringat Dad membuat Mom memutar bola matanya,"Baiklah, baiklah. Ayo lanjutkan makannya."

Kulihat Adel tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Vanni yang tengah mengepalkan tangannya. Aku tahu dia tahu segalanya. Tapi, dia benar-benar baik dalam memerankan kepolosannya. Benar-benar permainan yang menarik..

Jadi, ada apa di antara mereka berdua?

🐚🐚🐚

Rintik hujan masih mengguyur kota New York. Petir masih berkuasa di langit. Sedangkan Adel dan Wanda duduk di dalam greenhouse sambil menikmati coklat panas dan kue kering.

"Jadi, ceritakan tentang adikmu yang tampan itu," pinta Wanda.

"Namanya Devano Adrian Summer. Dia berumur 25 tahun, tinggi 182 cm, dan bermassa 78 kg. Dia pintar dan tampan. Satu-satunya keluarga yang aku punya."

"Bermassa?"

"Ya. Satuan massa adalah kilogram, sedangkan berat adalah newton. Kita harus menerapkan fisika dalam kehidupan sehari-hari," jawab Adel.

"Wah, kau benar-benar pintar!" puji Wanda.

"Nah, apa kau sudah punya kekasih?" tanya Wanda. Adel menggeleng,"Belum."

"Benarkah? Di umurmu yang 27 tahun ini? Baiklah, baiklah. Kau benar-benar harus bertemu dengan anak bungsuku!" ujar Wanda antusias.

"Kid itu tampan, tinggi, dan keren. Kuharap kau mau datang saat ulang tahun pernikahanku dan Raven." Jadi, namanya Kid..

"Oh, tentu saja. Aku pasti datang," jawab Adel.

"YES! Dan kau akan bertemu dengan anakku itu. Ahh, kau akan jadi menantuku!" seru Wanda senang.

Adel tersenyum, what the hell i was thingking?! Oh, man..

"Oh ya. Kau harus mencoba cheese cake yang kubuat." Wanda memberikan sepotong kue pada Adel.

Adel dengan senang hati mencoba kue itu. Begitu ia merasakan cita rasa kue itu, ia terdiam. Tanpa sadar, air matanya menetes.

Rasanya, seperti buatan Ibu.. batin Adel.

"Hei, kenapa kau menangis? Apa kau tidak menyukai kueku? Apa rasanya aneh?" tanya Wanda panik.

Adel menghapus air matanya dan menggeleng,"Tidak. Rasanya sangat lezat dan penuh cinta membuatku terharu.."

"Kau..sedang berbohongkan, Adel?" tanya Wanda. "Ah, tidak-tidak. Sedari tadi, kau sedang berbohong ya, kan?" ralat Wanda membuat Adel sedikit terkejut.

How can she tell? batin Adel bertanya.

"Aku ini seorang psikolog, Adel. I can tell."

🐚🐚🐚

Staying AfloatTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang