"I've been hoping somebody love you in the ways I couldn't."
Let Me Go – Hailee Steinfeld ft. Florida Georgia
=================
"DIA udah main game dari jam dua pagi sampe sekarang," Amil memberitahu di video call bersama teman yang lainnya, Abrar, Nami, dan Gio. Kemudian, Amil melirik ke arah Sadena yang masih memainkan stik kontroler di rumahnya.
Tentu saja, kemarin malam, Amil sangat terkejut melihat kemunculan Sadena yang tiba-tiba. Tanpa angin dan hujan, Sadena menerobos masuk rumahnya, mengucapkan salam pada kedua orangtua Amil dengan gaya dinginnya yang membingungkan, kemudian melesat ke lantai dua menuju kamar Amil seolah rumah ini miliknya.
Nami tidak mengatakan apa-apa, membuat yang lain merasa curiga akan kemungkinan satu nama yang berhasil membuat Sadena seperti ini.
Tangkas seperti biasa, Abrar langsung menembak. "Hana?"
Gio menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, sudah capek dengan drama yang mereka mainkan. Karena di belakang layar, bahkan semuanya lebih rumit.
"Jangan kayak mbak-mbak tukang rumpi, deh," sindir Sadena sinis, sementara matanya terpancang pada layar televisi. "Sini ngomong langsung kalo berani."
Mendengar itu, Amil jadi gegalapan sendiri. Pertama, dia segan berurusan dengan Sadena karena, yah, senioritas tanpa batas. Kedua, meskipun Sadena bukan seniornya, aura Sadena membuat siapa pun, bahkan anak kecil sekalipun, lebih memilih untuk tidak menganggunya.
"Bukan gitu, Den...," Nami mulai berbicara. "Itu kasian Amil, kucingnya bentar lagi lahiran."
Sadena mengganti posisinya di bean bag kamar Amil, lalu membalas. "Kucingnya namanya Hana, ye? Hana ini, Hana itu, Hana ono, bullshit."
Keempat teman karib Sadena punya satu pemikiran yang sama dan tidak terbantahkan; Sadena dan Hana putus. That's it.
Setelah terjadi detik-detik yang menegangkan, akhirnya, Abrar membuka percakapan yang lebih segar. Ya, daripada Sadena ngamuk-ngamuk terus. Setan aja takut. "Tadi gimana audisinya? Ada yang cocok, gak?"
Sadena sejenak menghentikan tangannya yang sibuk dengan stiknya, kemudian menatap layar ponsel Amil. Tampak ketiga temannya di sana, wajahnya sangat lelah seolah baru bangun dari tidur. Kemudian Sadena melihat Amil, tampangnya lebih parah dari mereka. Memang sekarang jam berapa, sih? Sadena melirik jam dinding bentuk kucing di dinding kamar Amil. Yah, baru juga jam empat pagi.
"Sadena?" panggil Nami membuat Sadena kembali ke arah layar ponsel Amil.
"Ada yang lucu. Pas audisi kemarin," jawab Sadena dengan nada datarnya yang membuat semua orang menebak-nebak. Lucu seperti apa? Kenapa ini orang tidak menunjukkan ekspresi bahwa kejadian itu lucu? Malah, kok, kejadian itu sepertinya horror? Heran.
"Apa?" tanya Abrar, mengganti posisi headset-nya agar suara Sadena jelas terdengar.
"Ada cewek," jawab Sadena masih dengan wajah datar, namun sesaat, senyumnya muncul, hanya sesaat sampai keempat temannya tidak menyadari hal itu. "Lucu dia."
"Lah, kok jadi elu yang lucu, ya," kata Gio dengan alis tertaut heran. "Darimana lucunya? Dia jadi Pennywise? Itu mah horror, Goblin."
Sadena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian kembali menatap layar televisinya. "Ya lucu, udah lucu aja, berisik lo."
"Suka, ya?" Nami menyeringai jahil. "Tuh, udah deh, mati satu tumbuh seribu!"
Sadena melirik ganas ke arah Nami, membuat cewek itu diam dan pura-pura mendadak tidur. Amil berusaha untuk tidak tertawa di saat seperti ini karena, apa ya, Sadena tuh sebenernya kocak?
"Namanya siapa?" kali ini, Abrar yang bertanya.
Sadena menutup wajahnya dengan tudung jaket, lalu bersedekap, pura-pura tidur. "Gak tau."
"Yah...," bahu Amil merosot turun. "Cantik, gak?"
Sadena langsung bangun, menatap Amil dengan pandangan paling menyeramkan yang pernah kita lihat, membuat bukan saja Amil, tapi yang lain langsung kaget setengah mati.
"Kenapa? Mau ngembat?" tanya Sadena galak.
"E-Enggak, mana berani....," Amil mojok di kamar sambil memegang ponselnya gemetar.
Sadena mendengus dan kembali pada posisi tidurnya. Sementara Amil menyudahkan acara video call dan mulai mulitperson chat tanpa Sadena (iya, mereka punya mpc tersendiri untuk mendiskusikan sahabat mereka).
Amil: lo tau siapa ceweknya?
Abrar: ya mana gue tau, Mil. Kaget gue juga dikasih tau begini sama Si Den-Den.
Nami: kali aja ni cewek bisa bikin Sadena balik kayak dulu. Serem tau gak liat dia ngamuk terus gara-gara Hana. Ya meskipun Hana sahabat gue, gue kan juga sahabat Sadena.
Gio: ada temen gue yang bilang, dia ngeliat Sadena nolong cewek di lorong deket toilet. Lo tau kan Thama? Yang suka ngajak ribut itu? Kayaknya ceweknya ada masalah sama Thama, terus Sadena nolongin.
Amil: lah, terus lucunya dimana?
Gio: cewek pada umumnya, liat Sadena aja udah gak berkutik, man. Sementara ni cewek? Dia nolak uluran tangan Sadena terus pergi gitu aja. Kocak gak lo?
Nami: ya gue yakin sih, Sadena nolongin orang juga ngomongnya koplak, woi. Ni cewek bisa jadi best friend gue lah ya. Biar gak jadi cewek sendirian ni di sini.
Abrar: good! Bagus juga, noh, Sadena gak usah belingsatan mulu gara-gara Hana.
Amil: tapi....
Gio: namanya aja kita gak tau.
Gio: pinter.
=================
14 Oktober 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
S: Sadena, Sandra & Sandiwara
JugendliteraturSUDAH DITERBITKAN TERSEDIA DI TOKO BUKU Part lengkap "Mungkin bagimu sandiwara, tapi bagiku ini nyata."
