BAB 28

120K 13.4K 3.8K
                                        

BEL pulang sekolah berbunyi nyaring membuat semua aktivitas siswa-siswi sebagian besar berhenti—sebagian kecil masih ada ujian harian dan materi yang tanggung untuk dihentikan. Sebagian besarnya termasuk Sandra yang kini sudah memasukkan seluruh buku tulis dan teksnya ke dalam tas, bersiap pulang. Sekilas, Sandra melirik ke bangku sebelahnya dimana Zanna sedang asyik mengobrol dengan teman sebrangnya yang juga satu lingkaran pertemanan. Setelah melihat postingan Hana dan Sadena, Zanna tidak menganggunya lagi. Mungkin, Zanna sadar bahwa Sandra tidak mungkin menjadi aktris, jadi lebih baik didiamkan seperti biasanya.

Tak apa-apa, toh, teman bukan Zanna saja. Masih ada Olip yang setia dan Yudith yang pengertian.

"Hari ini gak bisa pulang bareng, nih," seru Olip ketika mereka berdesakan di lautan manusia yang ingin cepat-cepat pulang.

Sandra menoleh sekilas ke arah Olip, tapi sahabatnya itu melihat ke arah depan. "Kenapa?"

"Ada... latihan," jawab Olip setelah keramaian melonggar di sekitar mereka. Meskipun ada yang aneh dari jawaban ragu Olip, Sandra tidak memusingkan hal itu, karena baginya ada hal yang lebih pusing.

Keputusan produser.

Sandra mengira, dirinya hari ini hanya akan pulang ke rumah, mengerjakan PR kalau ada, belajar kalau ujian–jangan dicontoh, dan kemudian tidur. Namun ketika keramaian yang tadi ternyata bukan keramaian biasa, Sandra mulai sadar mungkin hari ini tidak ia jalani dengan normal.

Sadena di sana, dengan kacamata hitam dan kemeja warna putih yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka. Dia tepat di pusat pelataran parkir, dikerubungi oleh siswi-siswi yang memekik melihatnya. Adegan ini persis seperti di Drama Korea dan film-film picisan yang Sandra sukai, dan melihat secara langsung membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

Apa yang Sadena lakukan di sini?

Ketika mata Sadena dan Sandra bertubrukan, senyum nakal terukir di bibir laki-laki itu, laki-laki yang pernah mengisi dua tahun hidup Sandra dengan tawa dan berakhir akhir mata. Kemudian, dengan langkah mantap, Sadena berjalan menuju Sandra dengan kedua tangan di saku celana jeansnya. Sandra masih terpaku ketika Sadena langsung menarik pergelangan tangannya, menimbulkan pekikan dari segala arah yang lebih banyak dibanding tadi.

"Sa-Sadena," suara Sandra ciut.

Sadena berhenti berjalan hingga Sandra nyaris menubruk bahunya. Kaki Sandra lemas seperti jelly sehingga harus berpegangan pada tangan kuat Sadena.

Sadena bertanya lembut, "Kenapa, Sandra?"

Sandra ingin bertanya, namun suaranya hilang. Sadena tampak berbeda. Sadena terlalu percaya diri hingga Sandra bahkan lupa apa yang barusan ingin ia tanyakan. Dan, Sadena sadar bahwa ia mengambil alih kontrol Sandra, sehingga dia tersenyum miring dan kembali menggandeng Sandra menuju mobil hitamnya.

Sadena membuka pintu mobil untuk Sandra dan dengan patuh, Sandra masuk ke dalam. Ketika Sadena memutar, banyak sekali teriakan yang menginginkan perlakuan sama seperti Sandra. Menanggapi itu, Sadena hanya mengangguk dan tersenyum–penonton dadakan menggila. Sadena masuk ke dalam mobil dan bertatapan langsung dengan Sandra yang masih syok.

"Sadena," panggil Sandra, suaranya nyaris hilang. Mungkin kalau Sadena belum menutup pintu mobil, suara itu akan kalah dengan teriakan di luar sana.

"Sandra," panggil Sadena balik.

"Sadena."

"Sandra."

Sandra mengerjap, dia menunduk dan mengambil sabuk pengaman dengan perlahan. Tasnya bahkan masih di antara kedua bahu ketika ia sadar Sadena sudah menyalakan mesin.

S: Sadena, Sandra & SandiwaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang