BAB 46
Kembali
"Masalah akan terus datang silih berganti, maka dari itu, senyum saja."
HAL pertama yang Sandra lihat ketika membuka mata adalah wajah Mama yang tampak lelah dan kusam. Mama tertidur di sofa, dengan posisi yang akan membuatnya bangun dengan badan pegal-pegal.
Sandra harus mengerjap berkali-kali untuk bisa mengumpulkan kesadarannya. Tapi, bukannya merasa tenang, rasa gelisah merayap di sekujur tubuh Sandra. Membuatnya menarik membuang napas dengan panik. Keributan yang dibuat Sandra membuat Mama terbangun dari tidurnya. Mama dengan sigap memeluk tubuh kurus Sandra.
"Sandra, ini Mama, Nak," ucap Mama dengan menenangkan.
Sekujur tubuh Sandra gemetar di pelukan Mama. Anak perempuan berumur 17 itu tampak sangat terguncang. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya selain isakan menyedihkan. Lelehan air mata membasahi wajah Sandra yang pucat.
"Istigfar, Sandra, Sayang...," suara Mama tak henti-hentinya berhembus di telinga Sandra. Disusul dengan lantunan ayat Al-Quran yang membuat Sandra perlahan tenang. Ingatan tentang malam yang mengerikan itu pelan-pelan mengabur..., hingga akhirnya kekuatan Sandra untuk tetap terjaga pun menghilang. Kepala Sandra terkulai di lengan Mama.
Setiap Mama yang melihat anaknya terguncang seperti itu akan merasa sangat terluka. Seperti ada ribuan jarum penyesalan hinggap di hatinya. Perasaan bahwa ia telah gagal menjaga anaknya merayap ke dalam hati Mama. Membuatnya menangis meraung sambil memeluk Sandra, anaknya, satu-satunya.
"Sayang...," ucap Mama. "Maafin Mama...."
KETIKA Seth menyerukan 'Cut!', ekspresi Sadena yang tersenyum cerah berubah total. Sadena menuju managernya, Mail, yang sudah sigap menyerahkan ponsel Sadena.
Sadena langsung menghubungi Mamah. Di sambungan ketiga, Mamah langsung mengangkatnya. "Sandra gimana, Mah?"
Tim kru, Ladit, Seth, dan aktor-aktris lain mengamati obrolan Sadena. Melihat tidak ada perubahan dari raut wajah Sadena yang cemas dan tegang, semua orang tahu bahwa tidak ada peningkatan. Masih sama seperti dua minggu yang lalu. Tidak ingin dijenguk selain keluarga. Kondisi fisik sudah membaik, tapi psikis belum stabil.
Sadena tersenyum kecil. "Iya, Mah. Di sini semua nunggu sampai Sandra pulih. Doa Sadena terus buat Sandra dan Mamah sekeluarga, ya."
Telepon terhenti. Sadena mengembuskan napas berat seraya duduk di kursi panjang. Orang-orang yang memperhatikannya sedari tadi, kini pura-pura sibuk dengan aktivitas lain. Hanya Seth yang berani menghampiri Sadena.
"Semua scene tanpa Ratu sudah diambil. Tinggal scene yang melibatkan Ratu," ucap Seth, ada nada bimbang di suaranya. "Kita harus—"
Sadena lantas memotong ucapan Seth. "Saya mohon, Pak. Hold sampai minggu depan," ucap Sadena putus asa.
Seth menghela napas. "Produser—"
"Tolong, Pak...," ucap Sadena, matanya mulai berair. "Ini berarti bagi Sandra. Bagi saya."
Melihat kesungguhan di mata Sadena, Seth mau tak mau harus mengalah. Seth mengangguk dan meninggalkan Sadena seorang diri. Tak lama setelahnya, Sadena memutuskan untuk berdiri dan berderap ke luar lokasi syuting.
Di pelataran parkir, Thama menghampiri. "Lo mau ke mana?"
"Gue harus ketemu Sandra," ucap Sadena dengan keyakinan yang gigih. Tapi kemudian, Sadena merenung hingga akhirnya ia berhadapan dengan Thama. "Nggak. Sandra harusnya ketemu sama lo, Tham. Bukan gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
S: Sadena, Sandra & Sandiwara
Genç KurguSUDAH DITERBITKAN TERSEDIA DI TOKO BUKU Part lengkap "Mungkin bagimu sandiwara, tapi bagiku ini nyata."
