BAB 45

106K 12K 5.4K
                                        

BAB 45

"Aku bertanya-tanya. Pernahkah aku berada dalam pikiranmu? Atau ini hanya tentang diriku yang masih mendambamu?"

SIAPA saja, bawa Sandra ke luar dari situasi ini.

Sandra tidak mengerti apa yang sekarang Yudith pikirkan, membawanya ke daerah pemukiman sepi di puncak gunung. Sandra bahkan tidak mau memikirkannya. Sandra hanya ingin pergi. Sandra ingin menjauh dari semua ini.

"Tenang aja, San," suara Yudith yang terdengar santai membuat situasi dua kali lebih menakutkan.

Mobil hitam itu berhenti di sebuah rumah kecil dengan pemandangan landskap puncak gunung. Udara dingin menyambut Sandra ketika Yudith membukakan pintu mobil. Tanpa mengucap sepatah kata, Yudith melingkarkan lengannya di leher dan di lekuk lutut Sandra, kemudian hati-hati mengeluarkannya dari mobil. Sikapnya seolah-olah seperti orang yang bukan baru saja membawa kabur dan membius seseorang. Sangat normal yang tidak normal.

Yudith menaruh Sandra di kursi panjang di taman rumah kecil itu. Sementara Yudith duduk di sampingnya. "Seger, ya. Dari dulu aku pengen bawa kamu ke sini, cuma, gak ada waktu."

Sandra masih mencoba bergerak dan masih memutuskan untuk melayangkan tinjunya ke arah Yudith. Namun, nyatanya, sekarang Sandra bahkan terlalu lemah untuk menggerakan jemarinya.

"Aku rencananya mau menghilangkan kamu jam 12 malam ini, San," ucap Yudith seolah mereka sedang membicarakan tentang menu makan malam. "Tapi, seperti pepatah bilang, lebih cepat lebih baik, kan?"

Yudith menoleh ke arah Sandra dan menyadari bahwa air mata perempuan itu menetes. "Gak usah sedih, nanti kita ketemu di sana, kok."

Sandra kehilangan kemampuannya berbicara dan tidak sanggup mengungkapkannya.

Sempurna.

Hidup Sandra akan berakhir dan bahkan dia belum sempat menggapai mimpinya.

Belum sempat mengatakan pada Mama dan Papa bahwa Sandra menyayangi mereka.

Belum sempat mengatakan pada Zanna bahwa dia teman terbaik yang pernah Sandra punya.

Belum sempat mengatakan pada Olip bahwa dia adalah teman masa kecilnya, yang tumbuh bersama Sandra.

Belum sempat mengatakan pada Sadena bahwa Sandra masih menyayanginya—sangat menyayanginya.

Jadi seperti ini rasanya, ketika tahu, bahwa semuanya sudah terlambat untuk dikatakan?

Ketika Sandra sudah merelakan segalanya, terdengar bunyi mobil polisi dari kejauhan. Tampak keterkejutan dari wajah Yudith. Membuatnya lantas menggendong Sandra dan membawanya ke tepi jurang.

Tapi, kali ini, Yudith yang terlambat.

"Berhenti!" seruan polisi yang menodongkan pistol tepat ke arah Yudith membuat laki-laki itu membeku.

Yudith menoleh dengan seringai. Kemudian, Yudith melepas Sandra ke arah jurang.

Saat itu, semua terjadi sepersekian detik. Sandra merasa sangat hampa ketika pegangan terakhir telah dilepas darinya, membuatnya jatuh, dan setelah kepala Sandra membentur bebatuan, Sandra tidak mengingat apa-apa lagi.

Kecuali senyuman usil anak berumur delapan tahun padanya.

Senyuman Sadena pertama kali.

***

JANTUNG Thama berdebar begitu hebat ketika mendapat informasi bahwa Hanna Syafira berhasil menemukan lokasi keberadaan Sandra dengan koneksinya. Namun kecemasannya berkali lipat ketika diberitahu bahwa Sandra kini dalam kondisi kritis, dibawa ke rumah sakit terdekat. Sementara pelakunya tak lain dan tak bukan adalah mantan pacar Sandra, kini dibekuk di kantor polisi.

Thama menurunkan ponsel dari telinganya, kemudian menghela napas begitu berat. Sadena di sampingnya yang juga sudah mendapat kabar itu dari Hanna hanya menunduk, kalah. Tidak ada yang tahu dengan jelas apa yang sekarang Sadena rasakan. Termasuk Mail dan Seth yang bersyukur karena Sandra berhasil ditemukan, namun tetap merasa ada yang salah, karena perjanjian yang Sadena buat dengan Hanna, bukanlah perjanjian main-main.

Sadena, Mail, bahkan Seth tahu, bahwa Hanna tidak akan mengambil kembali perkataannya. Sadena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia berada dalam kandang yang kuncinya telah dihancurkan.

"Ayo," ucap Sadena dengan suara bergetar. "Ke sana. Gue mau ketemu Sandra."

Mereka semua tahu. Bertemu yang Sadena maksud adalah, bertemu yang terakhir kalinya.

***

SEPATU hak tinggi Hanna Syafira berkelontangan menuju ruang khusus bertemu tahanan. Hanna memasuki salah satu ruangan yang telah dipersilakan, dan duduk di kursi yang kosong, berhadapan dengan pelaku. Hanna tersenyum ke arahnya sekilas, sebuah formalitas bisnis, kemudian menuliskan sesuatu di kertas.

Hutang lo cuma gue bayar setengahnya karena lo melukai dia. Gue gak menyuruh lo itu.

Sang pelaku, Yudith, hanya menatap nanar kertas tersebut dan ingin bersuara, ketika Hanna Syafira menahan ucapan Yudith dengan mengangkat tangannya ke atas.

"Tolong ditulis," desis Hanna.

Yudith menggertakkan giginya dan mulai menulis.

BAYAR HUTANG KELUARGA GUE. BAYAR! ITU JANJI LO!

Hanna melihatnya dan mendengus. Dia mengambil kertas itu dan membalasnya.

Lo melanggar kontrak. Kalau lo bersuara, menyebut nama gue, dan membawa kontrak kita ke pengadilan, lo tau apa yang bisa gue lakukan, kan?

Hanna tidak membiarkan Yudith membalas. Perempuan itu merobek kertasnya dan membakar bukti tertulis itu hingga menjadi abu. Yudith hanya diam dengan mengepalkan tangan ketika Hanna melenggang ke luar ruangan. Sementara, meskipun Hanna tahu sekarang ia harusnya tersenyum puas, tapi sekarang bibirnya terkatup rapat membentuk garis tipis. Bahkan sampai ke mobil pun, Hanna hanya bisa menatap ke pemandangan di luar jendela. Hanna merasakan air matanya menetes.

Berkali-kali, Hanna mengatakan pada dirinya. Sampai dirinya kembali yakin.

Dia sudah melakukan hal yang benar.

Dia sudah melakukan hal yang benar.

Dia sudah melakukan hal yang benar.

Tapi, benar untuk siapa?

***

SADENA menatap nyalang Sandra yang tertidur dengan lebam di sekujur tubuhnya. Setelah kondisi kritisnya lewat, Sandra dipindahkan ke kamar rawat. Sadena baru bisa masuk setelah memohon pada perawat dan dokter. Dia hanya diperbolehkan di sana selama lima menit.

Sadena menarik bangku dan suara deritnya tidak membangunkan Sandra. Sadena jarang sekali menangis, bisa dihitung jari kapan ia menangis, tapi kali ini, Sadena menangis begitu saja tanpa terisak, tanpa bersuara, hanya menangis. Air matanya jatuh. Sadena duduk, mengamati wajah Sandra lebih jelas.

Terima kasih Sadena masih diberikan kesempatan melihat Sandra.

Setelah Sandra pulih dan bisa beraktivitas lagi, Sadena hanya akan melihatnya selama syuting film R. Usai itu, Sadena akan menghilang dari hidup Sandra, sesuai janjinya pada Hanna sebagai bayaran setimpal dari apa yang Hanna lakukan untuknya.

"San," ucap Sadena meski dia tahu sekali Sandra tidak akan mendengarnya. Toh, Sadena tidak peduli lagi. Suaranya kemudian lirih ketika berkata, "Take care."

Sadena tahu dia hanya menangis di sana selama lima menit hingga dokter mengetuk pintu dan meminta Sadena pergi dari sana karena pasien membutuhkan istirahat.

Hanya lima menit. Hanya lima menit dan Sadena bersyukur.

Setidaknya, sekarang, Sandranya baik-baik saja.

TAMAT

S: Sadena, Sandra & SandiwaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang