"Semua orang sukses pernah berada dalam titik terjatuh, jatuh, sejatuh-jatuhnya."
======================
SANDRA kalut sekalut-kalutnya, takut setakut-takutnya, dan gemetar segemetar-gemetarnya. Namun ia paksakan kakinya memasuki ruangan putih dan lapang itu. Di sana, seperti yang Sandra tebak, sudah terjejer meja-meja juri dan dirinya akan berdiri di tengah, merasa terintimidasi untuk waktu yang terbilang hanya puluhan detik.
Tapi, yang membuat Sandra semakin tegang adalah Sadena berada tak jauh darinya. Memakai kaus abu-abu seolah production house ini sama seperti rumahnya dan tak lupa memakai topi putih. Sorot matanya tajam ke arah Sandra, membuat Sandra berpaling ke depan, ke arah sang sutradara dan produser.
"Selamat siang, nama saya Sandra Hasta Widjojo," ucapnya memperkenalkan diri, memaksakan ujung bibirnya untuk tertarik ke atas meskipun pikirannya sudah meneriakkan, kenapa ada Sadena di sana.
"Sandra namamu," ucap sang sutradara terkenal dan termahsyur itu–Septian, atau akrab disapa Seth. Kemudian, pria berambut acak-acakan itu melihat ke arah Sadena. "S juga inisialnya, Den! Ini pertanda apa, ya? Sadena, Sandra & Sandiwara? Secara, kalian kan bakal sandiwara bareng. Ah! Harusnya Sadena, Sandra & Seth. Tapi, gue udah tua. Yha."
Sandra mengerjapkan matanya. Heran dan merasa semuanya langsung mengabur di otaknya. Seolah ada satu hal yang hilang di sana. Dan, sebelum sempat Sandra menyimpulkannya, obrolan Seth dan Sadena sudah membalap semua.
"Belum tentu dia jadi Ratu," ucap Sadena enteng.
Seth melempar senyum penuh arti pada Sadena, sementara Sadena acuh tak acuh seraya mendirikan papan jalannya. Namun, pandangan itu tak lekas berganti arah, membuat Sadena lantas menengok, gemas.
"Kenapa, Pak?" tanya Sadena berusaha menahan nada jengkelnya. Mau bagaimanapun, Seth tetap sutradaranya dan Sadena tidak mau meninggalkan kesan buruk.
"Gak apa-apa, cuman..., ini kali pertama kamu bicara di depan peserta. Peserta pertama dan terakhir loh, ini," ungkap Seth jahil minta ampun. "Jangan-jangan Sadena dan Sandra punya sebuah hubungan rahasia? Teman masa kecil? Atau udah lama gak ketemu terus ada janji yang belum diselesaikan?"
Sandra tersedak sementara Sadena menghela napas. Alis Sadena tertaut heran. Bisa-bisanya Seth menduga hal seperti itu dalam waktu kurang dari lima menit. Bakat mengobservasinya sangat tajam.
Produser akhirnya angkat bicara, meminta Sandra segera berakting sesuai skrip yang diberikan. Semua tim kreatif lantas menyamankan posisi duduk, mata mereka lekat memandang Sandra, si peserta terakhir yang beda dari yang lain.
Namun, alih-alih melakukan hal yang diminta, Sandra berkata, "Saya tidak ingin mengikuti skrip. Ada satu adegan yang menurut saya sangat mencerminkan Ratu."
Sandra mengatur deru napasnya. Menenangkan tiap jengkal syaraf dari rasa takut. Kemudian Sandra mengingat Papa dan Mama yang sangat mendukung penuh mimpi-mimpinya. Dengan Olip, seorang sahabat yang ia punya, memang hanya satu sahabatnya, namun tidak apa asal setia dan tulus. Dan Yudith, laki-laki yag berhasil menarik Sandra keluar dari keputusasaan dan membuatnya terus mencoba.
Semua ini untuk mereka.
Sandra berlari kecil ke depan. Napasnya memburu, sementara matanya terfokus ke satu titik, seolah di sana, Sandra sedang menatap manik mata. Gelisah dan rasa takut terlukis jelas di wajah Sandra. Sebuah raut muka yang menyimpan banyak kata-kata tersurat dibalik tersirat. Kemudian, Sandra berhenti berlari, tepat di beberapa langkah dari meja juri. Napas perempuan berseragam putih-abu itu masih tidak teratur ketika suaranya keluar. Nada suaranya ceria dan berat, tapi ada kekuatan dalam suaranya.
"Raja... marah?" tanya Sandra pilu.
Untuk sesaat, suasana diliputi keheningan. Sandra terdiam sesaat, lalu membuang napasnya. Ya, sudah. Hanya itu. Hanya itu, namun Sandra membutuhkan tenaga super ekstra dalam mengungkapkannya lewat sandiwara.
Ketika ruangan masih diisi hening, Sandra tahu bahwa ini kesalahan besar karena sudah melanggar skrip. Mungkin sudah tidak ada pertimbangan lagi untuk merekrutnya. Sandra sudah kalah.
Sandra akhirnya dengan malu membungkukkan badan, lalu beranjak dari ruangan, sampai salah satu tim kreatif berdiri dan melemparkan satu pertanyaan.
"Kenapa harus adegan itu?"
Sesaat, Sandra hanya bisa mengerjapkan mata. Sandra sendiri tidak tahu kenapa dia memilih adegan itu setelah membaca lima kali isi novel yang akan diadaptasi menjadi film ini.
"Sandra, are you with us?" tanya sang produser membuat Sandra langsung mendongak.
"Because," ucap Sandra terbata-bata. "It's the point of the story, for me."
Lagi-lagi, hening. Kemudian tim kreatif di ujung meja mempersilakan Sandra keluar ruangan. Dengan patuh dan sedikit tercubit hatinya, Sandra melangkah ke luar.
Dan, Sandra melempar kerlingan mata ke arah Sadena.
Sedari tadi, pandangan Sadena tertuju lekat pada Sandra.
Author Note
Apa Sandra diterima, atau enggak?
Untuk minggu depan, jadwal update SDS adalah Selasa, Kamis, dan Sabtu, sekitar jam 10 malam. Jadi, tunggu Sadena dan Sandra pada hari itu, ya <3 (P.S: dari kemarin enggak update karena nabung chapter, hehehe). Terima kasih sudah membaca SDS!
KAMU SEDANG MEMBACA
S: Sadena, Sandra & Sandiwara
Teen FictionSUDAH DITERBITKAN TERSEDIA DI TOKO BUKU Part lengkap "Mungkin bagimu sandiwara, tapi bagiku ini nyata."
