BAB 24
LAKI-LAKI itu turun dari mobil dengan wajah dingin. Tidak ada senyum di wajahnya sama sekali atau apapun yang menandakan bahwa dia senang berada di sini. Managernya berjalan tergopoh-gopoh mengikuti langkah artisnya. Laki-laki itu, Thama, menghela napas seraya melihat ke arah bangunan buluk di hadapannya.
"Serius di sini lokasi syutingnya?" tanya Thama pada sang manager dengan wajah jengkel. "Gue gak mau kulit gue hitam. Gak ada sekolah yang lebih bagus, apa?"
"Ini sekolah swasta terbagus—"
"Cari yang lebih bagus!"
Tim kru segera mendatangi Thama dengan wajah panik. "Ayo, Thama, sutradaranya sudah menunggu untuk pengambilan take."
Thama melihat managernya lalu menghela napas dan terpaksa berjalan masuk ke gedung yang ia bilang 'buluk' tersebut. Sebenarnya, ungkapan itu tidak bisa dibenarkan bagi sebagian banyak orang karena gedung tersebut termasuk yang paling besar dan megah dibanding sekolah lain. Sesuai dengan novel, sekolah yang dipilih memang sekolah swasta dengan fasilitas lengkap. Namun tampaknya, Thama yang homeschooling sejak lahir tidak pernah mencecap pendidikan formal sederajat, sehingga terlihat jengkel karena pemilihan lokasi syuting ini.
Ogah-ogahan, Thama mengikuti langkah dua tim kru di hadapannya hingga sampai di lokasi syuting yang panas dan bikin badannya bau. Thama menoleh ke belakang, ke arah managernya. Tangannya memberi isyarat untuk menyalakan kipas. Dengan sigap, manager itu mengeluarkan kipas portable dan menaruhnya di meja. Thama menghela napas dan duduk di hadapan tiga kipas.
"Oh, Thama," sang sutradara berdiri dan mengajak berjabat tangan.
Thama memaksakan senyumnya ketika menjabat tangan sutradara. "Sore, Pak Septian."
"Ehh, jangan kaku-kaku. Panggil Seth saja. Habis ini kamu take dengan Sandra, ya. Scene 12."
Ekor mata Thama melirik ke arah pengambilan take. Thama tahu Sadena. Tapi, nama Sandra baru pertama kali terdengar oleh telinganya. Thama menaikkan satu alis ketika mengingat bahwa perempuan itu yang kapan hari menubruknya, membuat Thama harus mencuci bajunya lima kali untuk memastikan benar-benar bersih dari kotoran yang dibawa perempuan itu. Alhasil, baju seharga lima jutanya teronggok mengenaskan di tong sampah karena Thama merasa kotoran dari perempuan itu masih menempel.
"Dia siapa?" tanya Thama. Gak mungkin Ratu, kan? Haha, ya kali.
"Dia Ratu," jawab Seth tanpa beban dengan senyum bangga.
Thama menatap Seth dengan alis naik sebelah. Lo serius?
***
SADENA menatap Sandra ketika mereka istirahat sejenak dalam pengambilan take. Meski Sandra terlihat lelah dengan pengambilan take yang berulang-ulang, perempuan itu tetap menunjukkan primanya dan fokus. Dia terus menghapal dan menghayati scene yang terjadi, sesekali bertanya pada Sadena atau Seth bagusnya bagaimana. Bagi Sandra, dia tidak menganggap film ini sebagai sesuatu pekerjaan yang menghasilkan uang. Bagi Sandra, dia menganggap harus menunjukkan yang terbaik dan terbaik.
Sadena kagum pada pribadinya.
Lamunan Sadena pecah ketika Mail datang membawakan botol mineral yang masih baru. Sadena melihat botol itu, lalu memberikannya pada Sandra.
"Nih. Haus, kan? Jangan sampe sakit," ucap Sadena.
Sandra menatap botol minum itu dan menyambutnya. Dia terdiam cukup lama sebelum mendongak, tersenyum. "Makasih."
KAMU SEDANG MEMBACA
S: Sadena, Sandra & Sandiwara
Genç KurguSUDAH DITERBITKAN TERSEDIA DI TOKO BUKU Part lengkap "Mungkin bagimu sandiwara, tapi bagiku ini nyata."
